(Oleh: Al-Fakir)
Kita semua adalah pendosa yang memilih-milih. Kita memilih dosa yg nyaman bagi kita, lalu menghakimi orang lain yg melakukan dosa yg tidak kita sukai.” (Shamz Tabrizi).
Kesalahan sering kali tidak di tolak karena ia salah, melainkan karena ia tidak sesuai dengan kepentingan kita.
Ada dosa yang kita anggap wajar karena memberi kenyamanan, keuntungan, atau rasa aman bagi diri sendiri.
Sementara kesalahan yang dilakukan orang lain mudah kita kecam, sebab tidak kita nikmati dampaknya.
Dari sini lahir standar moral yang timpang, tajam keluar namun tumpul kedalam.
Penghakiman menjadi cara yang paling mudah untuk merasa benar tanpa harus berbenah.
Dengan menujuk kesalahan orang lain, kita menunda keberanian untuk bercermin.
Padahal yang membuat manusia jatuh bukan semata dosanya, melainkan ke-enggananya mengakui bahwa ia juga rapuh dan bisa salah. Kesombongan moral sering kali lebih berbahaya daripada kesalahan itu sendiri.
Kesadaran sejati dimulai ketika ukuran baik dan buruk diterapkan pertama-tama pada diri sendiri.
Kerendahan hati tumbuh saat kita memahami bahwa manusia bukan mahluk suci, melainkan makhluk yang terus belajar menata hasratnya. Dari situ, empati lahir, penghakiman mereda, dan moralitas kembali menjadi jalan perbaikan, bukan alat menjadi unggul.
Barakallahu fiikum aj’main.
Kontemplasi di sudut sempit sukamiskin