Melangkah Keluar dari Rantai Bayangan-100kb

(Oleh: Sang Penyintas)

Ungkapan diatas membawa sebuah pesan mendalam tentang esensi pemulihan, kemandirian, dan martabat manusia. Biasanya ungkapan ini sangat relevan bagi para penyintas dalam konteks pemulihan dari trauma berat, seperti penyintas kekerasan berbasis gender, penyintas perdagangan manusia, penyintas bencana alam, penyintas penyakit kronis serta penyintas lainnya.

Sering kali penyintas hanya dijadikan objek dalam penelitian, angka statistik, atau penerima bantuan pasif. Terkadang kita lupa bahwa suara penyintas dapat menjadikan kekuatan bagi mereka untuk pemulihan, sedangkan pengalaman penyintas juga dapat menuntut untuk dapat didengarkan sebagai pemegang kendali atas cerita dan hidup mereka sendiri dan sejatinya pemulihan dapat dimulai ketika penyintas mendapatkan kembali “suara” mereka yang sempat dirampas oleh trauma ataupun pelaku.

Trauma psikologis atau sosial tidak bisa disembuhkan total hanya dengan intervensi medis (obat-obatan atau terapi klinis) atau bantuan darurat sesaat (sembako/donasi) atau bantuan jangka pendek mungkin dapat meredakan gejala, akan tetapi hal tersebut tidak menyelesaikan akar masalah ketergantungan dan kerentanan yang dihadapi para penyintas. Trauma yang dialami para penyintas dapat disembuhkan dengan pemulihan yang tepat agar dapat menerima diri dan dapat bersuara yang kelak akan menjadi kekuatan dalam pemulihan serta kemandiriannya.

Banyak dari penyintas yang terjebak dalam lingkaran setan (misalnya kembali ke lingkungan yang kasar atau rentan) karena tidak memiliki faktor pendukung ekonomi. Dengan memberikan rutinitas baru, tujuan hidup, rasa pencapaian, dan mengalihkan fokus dari trauma masa lalu ke masa depan maka kemandirian finansial dapat menjadi obat mujarab bagi para penyintas. Mengapa? Karena dengan memberikan kepercayaan dalam usaha, pekerjaan ataupun peningkatan finansial dapat mengubah pikiran dari “korban yang tidak berdaya” menjadi “pelaku ekonomi yang mandiri”.

Ada alasan ilmiah mengapa memberikan kepercayaan dalam usaha atau memberikan modal usaha bisa bekerja lebih efektif daripada sekadar terapi klinis dalam jangka panjang:

  • Trauma merampas kendali hidup seseorang. Dengan memulai usaha dapat menjadi latihan nyata bagi penyintas untuk dapat kembali mengambil Keputusan contohnya: memilih jenis jualan, mengatur keuangan, dan menentukan arah hidupnya sendiri.
  • Bantuan darurat (sembako/donasi) mempertahankan mentalitas “bertahan hidup”. Sebaliknya, kepercayaan dalam usaha atau memberikan modal usaha dapat mengaktifkan produktivitas serta kreativitas seorang penyintas guna keberlanjutan.
  • Penyintas sering dipandang dengan rasa kasihan yang merendahkan atau bahkan stigma negatif. Namun jika mereka sukses menjadi wirausahawan, pandangan lingkungan sekitar akan berubah menjadi rasa hormat terhadap kemandirian mereka.

Ketika itulah jika seorang penyintas mampu berdiri di atas kakinya sendiri secara finansial, maka mereka tidak lagi mendefinisikan diri mereka lewat luka masa lalu. Dengan berhenti menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi, mereka akan mencari ruang untuk menentukan apa yang terbaik bagi diri sendiri dan bantuan apa yang benar-benar mereka butuhkan. Dengan bersuara yang tidak lagi mendefinisikan penyintas sebagai obyek dari trauma, melainkan bagaimana mereka bangkit dari trauma tersebut, dititik inilah, mereka resmi berubah dari objek trauma menjadi agen perubahan yang berdaya bagi diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *