Dari Duka Menuju Cahaya Fajar-100kb

(Oleh: Al-Fakir)

Kenapa Sabar bukan diam?

Al-Qur’an mendefinisikan Sabar dengan cara yang bertentangan dengan yang semua kita pahami.

Karena sabar yang Al-Qur’an ajarkan bukan tentang seberapa diam kita, tetapi seberapa kuat kita memilih untuk tetap berdiri.

Kita sudah diberi tahu untuk sabar. Saat kehilangan, saat ditinggalkan, saat doa yang sama terus kita panjatkan tanpa jawaban yang terlihat.

Dan setiap kali kita mengeluh, seorang datang dengan satu kalimat: “sabar ya, ini ujian dari Allah.” Lalu kita diam, memendam, berpura baik-baik saja.

Karena itulah yang kita fahami sebagai sabar, diam, menerima, tidak bergerak. Tapi ada yang tidak ceritakan kepada kita, itu bukan sabar yang Al-Qur’an ajarkan.

Sabar dalam Al-Qur’an jauh lebih aktif, lebih dalam dan lebih manusiawi dari yang pernah kita bayangkan.

Karena mungkin kita salah mengenal sabar, dan itu yang membuat bebanya terasa dua kali lipat lebih berat.

Kata “sabar” dalam Al-Qur’an disebut lebih dari 90 kali. Hampir tidak pernah dalam kontek pasif.

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga” (QS. Ali Imran, 200).

Tiga perintah sekaligus, sabar, perkuat kesabaranmu, tetap di posisimu. Ini bukan bahasa orang yang disuruh diam, ini adalah bahasa seorang pejuang yang berdiri di medan yang berat, yang memilih utk tidak lari, dan memilih utk terus bergerak, meski ingin menyerah.

Sabar bukan ketiadaan rasa, sabar adalah keberanian untuk tetap berdiri meski rasa itu ada.

Apakah kita berpikir bahwa org yang sabar tidak menangis, tidak mengeluh, tidak bertanya, ..ya Allah sampai kapan?.

Tapi Al-Qur’an, Nabi Ya’qub, yang menangis kehilangan Yusup, sampai matanya memutih karena kesedihan(QS. Yusuf,84)

Al-Qur’an menyebutnya lemah. Nabi Ayyub berseru kepada Allah “sesungguhnya aku ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang” (QS. Al-Anbiya: 83).

Ia tidak diam, ia berteriak kepada Allah. Dan Allah tetap menyebutnya hamba yang sabar dan terpuji. Sabar bukan menutup mulut saat sakit. Sabar adalah tetap membawa sakit kita kepada Allah, bukan menyimpanya sendirian dalam kegelapan.

Sabar yang Al-Qur’an ajarkan bukan wajah yang tidak pernah menangis. Ia terlihat seperti Hajar yang berlalri tujuh kali antara dua bukit, bukan menunggu air datang sendiri.

Ia terlihat seperti Rasulullah yang terus berdakwah tiga belas tahun di Mekkah, meski penolakan datang ber-tubi-tubi,meski keluarga wafat.

Ia terlihat seperti Nabi Musa yang memimpin kaumnya melintasi padang pasir ber-tahun-tahun, bukan menunggu Fir’aun berubah pikiran.

 

Sabar bukan menunggu badai berlalu sambil duduk diam. Sabar adalah memilih utk terus berjalan dalam badai itu, dengan dada yang masih berat, tapi kaki yang tidak berhenti melangkah.

Ketika sabar dipahami sebagai diam, ia menjadi penjara. Kita memendam rasa sakit yang tidak selesai. Kita menyebut kebuntuan sebagai keikhlasan. Kita berhenti bergerak dan menyebutnya tawakal.

Dan lama-kelamaan, bukan iman kita yang tumbuh, yang tumbuh adalah kelelahan yang tidak bisa kita jelaskan.

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah, 153), Allah tidak berkata; “beserta orang yang diam”, Allah berfirman, “beserta orang yang sabar.”

Kebersamaan Allah bukan hadiah untuk mereka yang pasif, tapi untuk mereka yang memilih tetap berdiri, tetap berjalan, tetap kembali.

Kalau selama ini kita sudah diam, sudah memendam, sudah berhenti bergerak atas nama sabar, tapi bebanya justru semakin berat. Tanyakan satu hal, apakah ini memang sabar, atau diam yang menyiksa, yang kita beri nama yang salah?

Karena sabar yang Al-Qur’an ajarkan tidak pernah membuat kita semakin kosong. Ia melelahkan?, ya. Ia menyakitkan?, ya. Tapi didalam sabar yang benar, ada sesuatu yang tumbuh.

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar,10)

Sabar yang benar tidak membuat hidup kita mengecil. Ia yang perlahan membuat jiwamu lebih besar dari masalah yang sedang kita hadapi.

Barakallahu fiikum aj’main.

Sudut sempit sukamiskin.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *