ChatGPTImageDec24202508_33_06A

(Oleh: Mira S. Lubis)*

Apa pelajaran dari bencana yang baru saja melanda wilayah Sumatra bagi kita? Banyak orang berkata, “hujannya memang ekstrem.” Itu benar, tetapi tidak utuh. Hujan hanyalah pemicu. Yang membuatnya menjadi bencana adalah ruang/lanskap yang tak lagi mampu menahan jatuhnya air. Ketika hutan semakin menipis, lereng kehilangan akar dan tanah kehilangan pegangan. Dan ketika hujan turun, air tidak lagi banyak diserap ke dalam tanah, melainkan meluncur deras ke bawah. Banjir dan longsor bukan semata peristiwa alam, ia adalah jejak ekologis yang muncul ke permukaan, setelah lama diam.

Tulisan ini bukan tentang hutan kota, yang selama ini menjadi salah satu indikator keberhasilan suatu kota dalam mewujudkan keberlanjutan lingkungan. Tulisan ini adalah tentang hutan dan kota, dua ruang yang sering dipisahkan dalam cara kita berpikir, padahal dalam kenyataannya saling menggantungkan hidup.

Hutan hidup dalam ketenangan dan ritme yang pelan, tumbuh dengan kesabaran puluhan hingga ratusan tahun, menyimpan air dan menahan tanah agar tetap stabil. Menghasilkan udara yang murni dan segar, dan menjadi rumah bagi beragam satwa yang secara kolektif membentuk siklus ekologis dan menjaga kestabilan rantai kehidupan. Di hutan, waktu tidak dikejar-kejar, tapi dihormati. Kota sebaliknya, hidup dari kecepatan. Dari jadwal, target-target harian, dan budaya serba praktis. Pagi hari dimulai dengan minuman kemasan, makanan cepat saji, kendaraan bermotor, dan listrik yang selalu ‘harus’ tersedia. Orang-orang sibuk berkegiatan tanpa sering sempat bertanya dari mana semua ini berasal, untuk apa, dan ke mana semua ini berakhir. Di sinilah keterhubungan itu bekerja diam-diam.

Air yang kita minum dan masak dari botol/galon diambil dari mata air di hutan-hutan yang menyimpan hujan. Udara yang kita hirup, meski sekarang semakin panas dan terpolusi, masih disaring oleh pepohonan yang jauh dari pandangan kita. Kertas, tisu, produk kemasan sehari-hari, bahan bakar, makanan, yang sudah menjadi rutinitas konsumsi sehari-hari, memiliki jejak panjang rantai produksi-konsumsi yang berawal pada pembukaaan lahan, fragmentasi hutan dan berakhir pada hilangnya penyangga ekologis.

Sebungkus mi instan tampak sederhana: murah, cepat, dan mengenyangkan. Namun jejak ekologisnya panjang. Tepung gandum dan bahan bumbu berasal dari lahan pertanian dan perkebunan yang sering menggantikan ekosistem alami; minyak nabati, seringnya dari sawit, yang sering berurusan dengan pembukaan hutan. Kemasannya dibuat dari bahan plastik yang membutuhkan energi dalam membuatnya, dan meninggalkan sampah tak terurai. Dan seluruh produk ini menempuh perjalanan jauh dari pabrik ke warung (bahkan lintas pulau) dengan menghabiskan bahan bakar. Mi-nya habis dalam beberapa menit, tetapi jejaknya, pada hutan, air, udara, dan tempat pembuangan, membekas jauh lebih lama.

Mi instan bukan musuh. Namun ia mengingatkan kita pada satu hal penting: bahwa bahkan pilihan paling sederhana di dapur kita pun selalu terhubung dengan hutan, air, dan bumi yang lebih luas.

Masalahnya, gaya hidup perkotaan dibangun di atas ilusi keterpisahan. Sampah dianggap “hilang” ketika keluar dari rumah. Air dianggap “selesai” ketika botol dikosongkan. Listrik dianggap “netral” ketika sakelar ditekan. Padahal yang terjadi adalah pemindahan beban, dari kota ke hutan, dari kenyamanan hidup ke risiko kerusakan, dari hari ini ke masa depan. Ketika hutan berkurang dan melemah, dampaknya tidak tinggal di hutan. Ia turun ke hilir, masuk ke kota, melibas rumah-rumah warga. Banjir dan longsor yang baru terjadi itu adalah pengingat keras bahwa krisis ekologis tidak pernah benar-benar jauh, ia hanya menunggu saat untuk kembali.

Jadi, sesungguhnya hutan tidak pernah jauh dari kota. Yang jauh adalah kesadaran kita akan ketergantungan itu. Gaya hidup perkotaan tidak harus menjadi musuh hutan. Tetapi ia menjadi berbahaya ketika kita lupa batas: ketika kecepatan mengalahkan kebijaksanaan, ketika konsumsi tidak disertai tanggung jawab, ketika pembangunan tidak lagi menghitung daya dukung. Mungkin yang perlu kita pelajari kembali dari hutan adalah etika hidup: mengambil secukupnya, memberi waktu untuk pulih, dan menghormati proses yang tidak bisa dipercepat.

Menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya urusan menambah hutan kota dan ruang hijau lainnya di dalam kota, tetapi juga menata cara hidup dan sistem perkotaan agar tidak terus menekan wilayah hulu. Program perkotaan dapat diarahkan pada pengendalian konsumsi sumber daya melalui pengurangan sampah sekali pakai, pengelolaan air yang bertanggung jawab, efisiensi energi, dan dukungan terhadap rantai pasokan produk-produk yang tidak merusak hutan. Kota juga berperan penting melalui edukasi publik serta kemitraan dengan wilayah perdesaan dan kawasan hutan sebagai satu kesatuan ekologi. Dengan demikian, kota tidak lagi menjadi beban ekologis, melainkan bagian dari solusi untuk menjaga hutan tetap lestari.

*Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Tanjungpura

 

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *