ChatGPTImage28Mei202619.41.1

(Oleh Qodja ditulis tahun 2020)

Akses terhadap pendidikan tak sebatas mentransmisikan pengetahuan dan melatih keterampilan seseorang tapi juga membuka peluang distribusi kesempatan ekonomi agar bisa terkoneksi dengan ekosistem industri, seseorang yang mengenyam pendidikan akan mendapatkan privilege dari jaringan alumni yang sudah lebih dulu berkarya di industri. 

Lebaran kali ini menguak anggapan di atas dengan sangat terang. Saya bertemu dengan beberapa rekan (kolega) lewat momen silaturahmi & berbincang tentang bagaimana hak istimewa untuk segera mendapat pekerjaan bagi lulusan baru sangat banyak terbantukan lewat keterhubungan dengan senior mereka yang dirintis lewat interaksi di organisasi & kegiatan ekstrakurikuler kampus. 

Kultur merekrut junior itu makin kental untuk lulusan Fakultas Teknik, Pertanian, Kehutanan, Ekonomi yang lulusannya berkarya di industri ekstraktif seperti Pertambangan, Perkebunan atau Kehutanan. 

Bahkan ada istilah “bedol desa”, jika seorang pimpinan proyek pindah perusahaan maka dia akan mengikutsertakan beberapa bawahan yang selama ini sudah bekerjasama dengannya. Bawahan itu umumnya yang dikenal karena satu kampus & sudah seirama dalam kerja tim sejak di organisasi kampus. 

Entah birokrat kampus paham realitas di atas atau tidak, tapi beberapa kebijakan yang memutus hubungan senior junior dengan menghilangkan tradisi ospek (saya sepakat untuk menghilangkan ospek yang berisi perpeloncoan) atau membatasi gerak organisasi mahasiswa intra & ekstra kampus hanya akan menghilangkan salah satu potensi pendidikan yaitu privilege untuk mengakses kesempatan kerja atau kesempatan bisnis lewat jaringan alumni. 

Privilege sebagai salah satu faktor penentu kesuksesan di masa mendatang juga didukung oleh riset kuantitatif oleh SMERU Institute tahun 2019 yang menguji tujuh faktor yang berpengaruh pada peningkatan penghasilan sekitar 1522 anak dan membandingkan pendapatan mereka pada tahun 2000 ketika mereka berusaha 8-17 tahun dengan pendapatan mereka pada 2014 ketika mereka menginjak usia 22-31 tahun. 

Hasilnya menemukan bahwa kondisi anak-anak tersebut tidak berubah setelah 14 tahun. Pendapatan anak-anak miskin setelah dewasa 87 persen lebih rendah dibanding mereka yang sejak anak-anak tinggal di keluarga yang mapan. 

Ketujuh hal yang dibandingkan adalah status kemiskinan, hasil tes kognitif, hasil tes matematika, lama bersekolah, kapasitas paru-paru (untuk menggambarkan kondisi kesehatan), koneksi pekerjaan melalui kerabat, dan hasil tes kecenderungan depresi. 

Sebagai ilustrasi salah satu yang diuji adalah hasil tes matematika. Meskipun ada kesamaan nilai matematika yang diperoleh antara anak-anak yang miskin dengan yang tidak, namun ketika mereka beranjak dewasa, pendapatan si anak miskin tetap jauh dari pendapatan si anak tidak miskin saat dewasa. Artinya, pendidikan (yang digambarkan melalui hasil tes matematika) tidak berdampak signifikan pada penghasilan anak-anak miskin pada masa depan dibandingkan anak-anak dari keluarga mapan. 

Sebuah penelitian kualitatif oleh SMERU Institute di tahun 2015 menguak dengan gamblang mengapa privilege yang digambarkan lewat tingkat kesejahteraan orang tua berpengaruh penting terhadap kesempatan anak-anak untuk mendapat fasilitas yang akan menunjang bagi mobilitas di luar pendidikan formal. 

Anak yang orang tuanya memiliki aset atau sumber daya maka akan memberikan peluang bagi anaknya untuk dapat meningkatkan kesejahteraan atau kesuksesan pada masa depan. Misalnya, anak-anak yang lahir dari keluarga kaya memiliki peluang jauh lebih besar untuk memperoleh pendidikan non formal, baik yang sifatnya mendukung capaian pendidikan formal maupun yang sifatnya mengasah keterampilan serta kemampuan emosional dan spiritual bahkan sejak usia dini. Akses pada pendidikan yang tidak seimbang ini menjelaskan mengapa anak miskin sulit keluar dari jerat kemiskinan.

Contoh lain, anak-anak tidak miskin yang dibekali telepon seluler dan kendaraan bermotor dianggap memiliki peluang lebih besar untuk melakukan mobilitas, mendapat pengalaman baru, termasuk berjejaring dengan orang-orang baru yang akan memberikan peluang ekonomi yang lebih besar.

Hal di atas terjadi karena anak-anak miskin dan anak-anak tidak miskin memiliki modal yang tidak seimbang dari keluarganya. Hal ini yang mengakibatkan mereka tidak berada pada garis awal yang sejajar dalam memperoleh kesempatan ekonomi. 

Tentu ada kasus tertentu di mana anak-anak dari keluarga miskin bisa sukses dengan kerja keras meski tanpa pendidikan tapi yang mau saya tekankan di sini adalah pengaruh dari privilege untuk membuka jalan bagi kesempatan kerja dan bisnis. 

Di dunia usaha reputasi dan referensi ini memainkan peran penting bagi kesuksesan seseorang. Orang-orang akan mudah mengabaikan portofolio seseorang jika harus dibandingkan dengan referensi. 

Sarjana muda yang masuk ke pasar kerja yang terbuka dan bebas melenggang dan bertempur sendirian akan menemui kesulitan berlipat ketimbang sarjana muda yang masuk ke pasar kerja karena channeling alumni. Apalagi jika sarjana muda itu punya reputasi yang baik sejak mahasiswa lewat kiprah organisasi atau kegiatan ekstrakurikuler hingga dikenal alumni. 

Dengan semakin terbukanya peluang mengenyam pendidikan di kampus negeri, serta makin kuatnya jaringan alumni seharusnya anak-anak yang berasal dari daerah dan dari keluarga kurang mapan bisa mendapat kesempatan memperoleh privilege untuk meningkatkan taraf hidupnya, sesuatu yang tidak sempat mereka dapatkan dari orang tuanya. 

Saya jadi teringat dengan testimoni seseorang yang ngebet kuliah di kampus teknik negeri di Bandung. Dia beruntung karena sejak SMA sudah dapat privilege dengan berbagai fasilitas belajar untuk mengasah kemampuannya demi bisa tembus ke kampus impian. Ayahnya yang bekerja di BUMN Perminyakan menginvestasikan banyak untuk itu. Kata Ayahnya, ia disekolahkan di sana bukan hanya karena kualitas pendidikan yang ditawarkan tapi karena lingkungan & jaringan alumni yang menguasai industri di Sektor Migas Indonesia berasal dari sana. Lingkungan itu yang Ayahnya “belikan” untuk sang Anak demi memastikan akses kesejahteraan di masa depan. 

Sebenarnya anak-anak dari keluarga miskin tak perlu minder karena tiadanya kesempatan yang sama dengan anak dari keluarga mapan. Selama punya kemauan keras untuk bersekolah & mengisi kehidupan kampus untuk aktif berorganisasi dan kegiatan ekstrakurikuler, maka secara otomatis ia masuk ke lingkungan yang kelak akan banyak membantunya di masa depan.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *