Potensi yang Tertidur: Peluang Penguatan Ketahanan Pangan dan Ekonomi Komunitas
(Oleh Jaka Kembara/ Aktifis Swandiri Inisiatif Sintang)
Desa Nanga Yen memiliki potensi pertanian yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai fondasi ketahanan pangan dan penguatan ekonomi masyarakat. Namun, hingga saat ini sebagian besar potensi tersebut masih dapat dikategorikan sebagai potensi yang tertidur karena belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini terlihat dari luas lahan pertanian yang saat ini dikelola oleh masyarakat berdasarkan data kelompok tani yang mencapai sekitar 54,3 hektar, sementara hasil analisis yang dilakukan oleh penulis menunjukkan bahwa desa ini memiliki potensi lahan pertanian yang dapat dikembangkan hingga kurang lebih 100 hektar. Artinya, masih terdapat ruang yang sangat besar untuk memperluas dan mengoptimalkan aktivitas pertanian di desa.
Saat ini, sebagian besar masyarakat hanya melakukan satu kali masa tanam dalam satu tahun yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Pola pertanian subsisten tersebut memang berperan penting dalam menjaga ketersediaan pangan rumah tangga, namun belum mampu menghasilkan nilai ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Akibatnya, sektor pertanian belum menjadi sumber pendapatan utama yang menarik bagi sebagian besar keluarga, terutama bagi generasi muda dan laki-laki usia produktif.
Salah satu tantangan yang dihadapi Desa Nanga Yen adalah tingginya harga emas saat in yang membuat banyak masyarakat mencari pendapatan di sektor Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) terutama laki-laki dan pemuda desa karena dianggap memberikan pendapatan yang lebih cepat dibandingkan pertanian. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya tenaga kerja produktif di sektor pertanian dan semakin terbatasnya upaya pengembangan lahan pertanian yang sebenarnya masih tersedia cukup luas. Dalam jangka panjang, ketergantungan terhadap sektor ekstraktif seperti PETI juga dapat menimbulkan berbagai risiko, baik dari aspek lingkungan, sosial, maupun keberlanjutan ekonomi masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, perempuan justru menjadi kelompok yang masih aktif mempertahankan aktivitas pertanian di Desa Nanga Yen. Banyak perempuan terlibat dalam berbagai tahapan produksi pertanian, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga pascapanen. Peran ini menunjukkan bahwa perempuan merupakan aktor penting dalam menjaga keberlanjutan sistem pangan lokal dan memastikan kebutuhan pangan keluarga tetap terpenuhi. Oleh karena itu, pengembangan pertanian di Desa Nanga Yen perlu menempatkan perempuan sebagai salah satu kelompok utama dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program penguatan pertanian.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Desa Nanga Yen memiliki modal sosial yang sangat kuat yaitu budaya gotong royong yang masih terpelihara di tengah masyarakat. Tradisi kerja bersama dalam membuka lahan, menanam, memanen, maupun membantu keluarga yang membutuhkan merupakan aset sosial yang sangat berharga. Modal sosial ini dapat menjadi kekuatan utama dalam menggerakkan kembali sektor pertanian, terutama dalam mengatasi keterbatasan tenaga kerja dan memperkuat kerja kolektif antarwarga.
Dengan semua tantangan yang ada serta kekuatan sosial yang dimiliki, Desa Nanga Yen memiliki peluang besar untuk membangkitkan kembali potensi pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Pengembangan lahan pertanian yang masih tersedia, peningkatan intensitas tanam, penguatan kelompok tani, pengembangan sistem pangan terintegrasi, serta peningkatan peran perempuan dan generasi muda dapat menjadi strategi penting dalam menghidupkan kembali sektor pertanian desa. Jika sebagian dari potensi lahan yang belum tergarap dapat dimanfaatkan secara produktif dan masa tanam ditingkatkan, maka pertanian tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga menjadi sumber pendapatan yang lebih menjanjikan bagi masyarakat.
