ChatGPTImage30Jul202611.51.5

(Oleh: Al-Fakir)

Malam itu langit tampak beku, bulan hanya menggantung redup, Abu Hisyam bangkit seperti biasa berwudhu membasuh wajahnya dengan air yang dinginya menusuk tulang.

Dua puluh tahun ia lakukan hal itu, berdiri dihadapan Allah, menangis dalam tahajud, dan merasa dirinya sudah termasuk orang-orang yang dekat dengan Rabb semesta alam.

Tapi malam itu langkahnya terhenti, ada seorang lelaki duduk dihalaman rumahnya, bercahaya, wajahnya teduh, namun meggetarkan jiwa.

‘Siapa engkau?” Tanya Abu Hisyam, dengan suara tercekat.

“Aku utusan Allah,”jawabnya, sambil mengangkat sebuah kitab besar.

“Kitab apakah itu?” tanya Abu Hisyam.

“Ini adalah nama kekasih-kekasih Allah.”

Dadanya berdebar kencang. Harapan melonjak. Dua puluh tahun tahajud, dua puluh tahun air mata jatuh saat tajahud, tentu dia yakin namanya ada di sana.

Dengan penuh keyakinan ia berkata “lihatlah adakah namaku tertulis disitu.”

Malaikat itu membuka lembar demi lembar. Sunyi hanya suara malam yang mendesis. Hingga akhirnya kitab itu ditutup perlahan “namamu tidak ada.”

Bagai tersambar petir, tubuh Abu Hisyam terhuyung jatuh. Ia menangis, suaranya pecah.

Tidak mungkin!, ya Allah, tidak mungkin,! aku yang bangun ditengah malam, saat dunia tertidur, aku berwudhu dengan air dingin, sujud sehingga mata ini bengkak menangis bagaimana mungkin namaku tak tercatat?.

Dengan sisa harapan ia merangkak mendekat, air matanya jatuh ketanah tolong wahai malaikat buka lagi, buka sekali lagi barang kali terlewat di sela halaman yang tersembunyi.

Malaikat itu menatapnya dengan iba. Dan kembali membuka kitab itu, lembar demi lembar dengan seksama Abu Hisyam menahan napas, hatinya menggantung di ujung harapan terakhir malaikat kembali menutup kitab itu, seraya berkata “tidak ada, benar, namamu memang tidak tercatat.”

Abu Hisyam menangis sejadi jadinya, memukul dadanya, air mata membasahi wajahnya, tubuhnya terguncang.

“Dua puluh tahun ya Allah, dua puluh tahun aku berdiri di sepertiga malam!, apakah semua itu sia-sia?.”

Malaikat itu berkata, suaranya tenang tapi bagai belati menusuk hati.

“Wahai Abu Hisyam, aku tahu engkau bangun malam saat yang lain tidur, aku tahu engkau menggigil dengan air wudhu, disaat orang lain hangat di ranjang. Aku tahu engkau menangis dalam doa-doamu Tetapi engkau bangga dengan  amalmu, engkau sibuk menghitung ibadahmu tapi lupa tetanggamu yang lapar. Kau tekun sujud tapi tidak menoleh pada saudaramu yang sakit. Bagaimana mungkin engkau berharap menjadi kekasih Allah, sementara engkau tidak pernah mencintai makhluk Allah?.”

Kata-kata itu menghantam hati dan perasaan Abu Hisyam, lebih keras dari seribu cambuk, ia menangis yang tangisnya merobek keheningan malam, ia merasa seluruh ibadahnya runtuh, seolah dua puluh tahun itu tiada artinya Ia terisak, berulang kali memohon ampun. Untuk pertama kalinya ia sadar Allah tidak melihat panjangnya rakaat, tapi ketulusan hati. Allah tidak mencari hitungan amal, tetapi cinta pada sesama.

Malam itu Abu Hisyam menangis panjang hingga badanya lunglai. Ia belajar satu hal paling menyakitkan ibadah tanpa kasih hanyalah kebanggan kosong.

Tahajud itu agung, tapi tanpa ihklas, tanpa kepedulian pada sesama, ia hanya menjadi jalan menuju kesombongan.

Allah tidak butuh lamanya sujudmu, Allah menunggu hancurnya hatimu di hadapan-Nya, dan lembutnya tanganmu kepada sesama.

Barakallahu fiikum aj’main.

Sukamiskin

(sumber; kitab keajaiban, tahajud, subuh, dan dhuha.)

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *