ChatGPTImage1Agu202610.40.5

(Oleh: Al-Fakir)

Membaca dan mentadaburi ayat qur’an surah Yusuf (12),ada detail kecil dalam surah tersebut yang kita temukan yaitu Baju Nabi Yusuf sebanyak 3 (tiga) kali, yang fungsinya berbeda-beda, menjadi alat bukti Kebohongan, Pembuktian, dan alat Penyembuhan.

Baju pertama. 

Yaitu digunakan sebagai Penutup Dusta atau Kebohongan. 

Surah Yusuf ayat 18 Allah berfirman; “Dan mereka datang dengan membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu.”

Sejak awal, Al-Qur’an menyebut darah palsu. Dan sejak awal sudah dibongkar oleh Allah kebohongan mereka.

Baju tersebut tidak bersalah, yang salah adalah tangan-tangan yg menggunakan untuk menipu.

Demikian juga  dalam kehidupan, kebohongan sering kali tidak datang sendirian, ia selalu di dampingi dengan “bukti” ada saksi, ada vidio, ada poto, ada narasi dan potongan fakta yang disusun sedemikian rupa agar tampak meyakinkan.

Dalam kasus ini nabi Ya’qub tidak langsung percaya hanya melihat bukti, tetapi beliau berusaha melihat yang lebih dalam daripada melihat apa yang tampak di depan mata.

Baju Kedua

Allah menggunakan  benda yang sama (baju) untuk membongkar Dusta atau Kebohongan.

Bertahun tahun kemudian dari story Nabi Yusuf, baju itu muncul kembali, bajunya berbeda tapi ada pelajaran/hikmah untuk kita.

Kali ini Yusuf di fitnah oleh istri al-‘Aziz.

Saat Yusuf berlari menghindari godaan, bajunya robek di bagian belakang.

Kemudian datang seorang saksi dan berkata: “Jika bajunya robek di depan, perempuan itu benar. Tetapi jika robek di belakang, Yusuf lah yang benar.”(QS. Yusuf, 26-28)

Sungguh luar biasa.

Pada peristiwa pertama, baju dipakai manusia untuk merekayasa kebohongan.

Pada peristiwa kedua, Allah menjadikan baju sebagai bukti yang menghancurkan kebohongan.

Benda yang sama, fungsinya berubah.

Kebenaran ahirnya memiliki jalanya sendiri untuk berbicara.

Mungkin tidak hari ini, mungkin tidak besok.

Tetapi kebenaran tidak selamanya dapat dikalahkan oleh fitnah dan kebohongan.

Baju Ketiga.

Ketika Allah mengubah luka menjadi kesembuhan.

Setelah Yusuf menjadi penguasa Mesir, ia memberikan bajunya kepada saudara – saudaranya.

“Pergilah membawa bajuku ini, lalu letakan di wajah ayahku, niscaya ia akan dapat melihat kembali.” (QS. Yusuf, 93)

Dan mereka membawa baju itu kepada Nabi Ya’qub.

Begitu baju itu diletak di wajahnya, penglihatanya kembali pulih (QS. Yusuf, 96)

Baju itu tidak lagi membawa dusta.

Tidak lagi menjadi barang bukti.

Ia menjadi pembawa rahmat.

Allah seolah mengubah fungsi benda yang sama, yang dulu menjadi penyebab tangis, kini menjadi sebab kesembuhan.

Jika kita mengamati ketiga baju itu membentuk perjalanan yang sangat indah.

Baju pertama berbicara tentang penghianatan, baju kedua berbicara tentang keadilan, baju ketiga berbicara tentang pemulihan atau dengan kata lain, dusta, kebenaran, dan rahmat.

Ketiga pola tersebut sering terjadi dalam hidup kita.

Masalahnya, kita sering ingin langsung mendapatkan “baju ke tiga”

Kita ingin agar Allah segera menyembuhkan luka kita.

Padahak Nabi Yusuf harus melewati penghiantan saudara-saudaranya, perbudakan, fitnah, penjara, dan bertahun-tahun bertahan dalam kesabaran, sebelum sampai ke babak “pemulihan”

Tak ada jalan pintas, tak ada hidup yang mudah.

Barakallahu fiikum aj’main

Sukamiskin,

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *