ChatGPTImage17Agu202615.22.2

(oleh: M. Hermayani Putera[1])

Setiap 17 Agustus kita merayakan hari bersejarah ini dengan upacara, kibaran merah putih, berbagai perlombaan, dan ungkapan syukur atas perjalanan panjang bangsa. Namun, di tengah gegap gempita perayaan, barangkali ada satu pertanyaan penting yang perlu terus kita ajukan: Apa yang kita lakukan dengan kebebasan yang telah diwariskan kepada kita?

Kemerdekaan bukanlah sesuatu yang selesai pada 17 Agustus 1945. Ia merupakan proses yang terus dihidupkan, dirawat, dan diperjuangkan dari generasi ke generasi. Jika para pendahulu berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan, perjuangan kita hari ini hadir dalam wajah yang berbeda: menghadapi kemiskinan, ketimpangan, kerusakan lingkungan, kebodohan, ketidakpedulian, diskriminasi, keterpinggiran, serta berbagai persoalan yang membuat sebagian warga belum sepenuhnya merasakan makna kemerdekaan.

Mensyukuri kemerdekaan tidak cukup dengan merayakannya. Rasa syukur harus menemukan wujudnya dalam keberanian untuk turun tangan.

Mengubah Peran Pemerintah: Dari Pelaksana Utama Menjadi Penggerak Ekosistem

Selama ini, kita masih terbiasa menempatkan pemerintah sebagai episentrum pembangunan. Ketika menghadapi persoalan, pertanyaan yang muncul sering kali: Apa program pemerintah? Apa kebijakannya? Berapa anggarannya? Apa yang akan dilakukan negara?

Cara pandang tersebut tentu tidak sepenuhnya keliru. Pemerintah memiliki mandat, kewenangan, sumber daya, sekaligus tanggung jawab besar dalam memastikan kesejahteraan rakyat. Namun, kompleksitas persoalan hari ini menunjukkan satu hal: tidak ada institusi yang mampu menyelesaikan persoalan masyarakat seorang diri.

Sampah, misalnya, bukan semata urusan dinas lingkungan hidup. Di dalamnya terkait perilaku warga, kesehatan, pendidikan, ekonomi, dunia usaha, teknologi, tata ruang, hingga kebudayaan. Kemiskinan pun bukan hanya agenda pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat sipil, filantropi, media, dan warga sebagai bagian dari solusi. Begitu pula pendidikan, kesehatan, perubahan iklim, ketahanan pangan, hingga pembangunan kota dan desa.

Ketika persoalan melampaui batas sektor dan institusi, cara menanganinya pun harus melampaui sekat-sekat tersebut. Di sinilah kita perlu menggeser paradigma: dari government menuju movement.

Pergeseran ini bukan berarti mengurangi arti penting pemerintah. Pemerintah tetap memegang peran strategis sebagai pemegang mandat publik, pembuat kebijakan, penyedia layanan, pemberi legitimasi, sekaligus penghubung berbagai sumber daya.

Namun, pemerintah tidak harus menjadi pihak yang mengerjakan semuanya. Dalam banyak situasi, kekuatan justru tumbuh ketika pemerintah membuka ruang, mempertemukan berbagai inisiatif, menghubungkan sumber daya, dan menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat mengambil tindakan.

Dengan cara pandang ini, episentrum pembangunan bergeser: tidak lagi bertumpu pada satu institusi, melainkan tumbuh dari ekosistem yang memungkinkan beragam pihak hadir, mengambil peran, dan saling menguatkan.

Dari Penerima Manfaat Menjadi Pelaku Perubahan

Perubahan cara pandang tersebut juga menuntut kita melihat masyarakat secara berbeda. Jangan hanya menempatkan warga sebagai penerima manfaat pembangunan. Mereka adalah pemilik pengetahuan, pengalaman, gagasan, jejaring, energi, sekaligus solusi yang lahir dari kehidupan sehari-hari.

Di berbagai kampung, desa, dan kelurahan, banyak orang telah bekerja dalam diam. Para ibu menggerakkan pemilahan sampah; anak-anak muda mengajari generasi berikutnya; guru menemukan cara belajar yang lebih relevan; warga merawat sungai; lansia tetap mengambil bagian dalam menghidupkan lingkungan; sementara pelaku usaha mulai mengubah praktik produksinya agar lebih ramah terhadap lingkungan dan masyarakat.

Komunitas membuka ruang bagi mereka yang selama ini kurang terdengar. Di lingkungan tempat tinggal, RT mempertemukan warga untuk menemukan jalan keluar atas persoalan bersama.

Mereka mungkin tidak menyebut dirinya aktivis. Tidak semuanya memiliki organisasi yang lengkap, anggaran besar, ataupun panggung publik. Namun, melalui tindakan yang mereka lakukan, sesungguhnya mereka sedang menciptakan perubahan.

Kita perlu menghidupkan kembali satu keyakinan sederhana: setiap orang pada hakikatnya memiliki potensi menjadi penggerak perubahan (change maker). Tidak semua harus melakukan hal yang sama. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengenali kekuatan dan menemukan peran masing-masing, lalu menghubungkannya dengan kekuatan orang lain.

Tak Ada yang Kecil, Tak Pula Ada yang Besar

Barangkali inilah salah satu pesan penting dalam perayaan 81 tahun Republik Indonesia: tak ada peran yang terlalu kecil untuk berarti, dan tak ada perubahan yang terlalu besar untuk diwujudkan sendirian.

Satu orang memilah sampah mungkin tampak sederhana. Menanam pohon, mendengarkan keluhan tetangga, mengajar anak muda, atau merawat ruang publik mungkin terlihat sebagai tindakan kecil. Namun, ketika berbagai ikhtiar bertemu, saling menguatkan, dan menemukan arah bersama, tindakan-tindakan sederhana itu dapat menjelma menjadi kekuatan sosial yang besar.

Kita tak perlu sibuk menentukan siapa yang paling penting atau membandingkan besarnya kontribusi. Yang dibutuhkan adalah kesediaan mengambil bagian dengan kekuatan yang kita miliki.

Pemerintah hadir dengan kewenangannya. Dunia usaha dengan sumber dayanya. Kampus dengan pengetahuannya. Media dengan kekuatan komunikasinya. Organisasi masyarakat sipil dengan pengalaman gerak dan advokasinya. Filantropi dengan dukungannya. Komunitas dengan jejaring sosialnya. Sementara warga membawa pengetahuan, kepedulian, dan tindakan yang lahir dari keseharian mereka.

Berbeda kekuatan, beragam kontribusi, tetapi dapat bertemu dalam satu tujuan. Perubahan hakekatnya bukan tentang siapa yang paling besar, melainkan bagaimana setiap kekuatan saling terhubung dan menjadi berarti bagi yang lain.

Menumbuhkan Trust, Merawat Respect, Menguatkan Support

Ketika beragam kekuatan dipertemukan, dibutuhkan sosok dan ruang yang berfungsi sebagai dinamisator, konektor, sekaligus orkestrator—bukan untuk menjadi pusat gerakan atau mengambil alih kontribusi para pihak, melainkan untuk menghidupkan interaksi, mempertemukan potensi, dan menjaga irama kolaborasi.

Mereka menumbuhkan rasa saling percaya (trust) antarsesama anak bangsa, merawatnya menjadi sikap saling menghormati dan menghargai (respect), lalu mengembangkannya menjadi kemauan untuk saling menguatkan (support).

Di sinilah energi ekosistem perubahan tumbuh. Setiap pihak tetap memiliki identitas, kapasitas, dan kontribusinya masing-masing, namun tidak berjalan sendiri-sendiri. Dinamisator, konektor, dan orkestrator bukan pemilik gerakan, melainkan penghubung yang membuat banyak kekuatan saling menemukan, saling melengkapi, dan tumbuh bersama.

Berbeda Peran, Satu Arah: Lintas Isu, Lintas Sektor, Lintas Aktor

Gerakan sosial ke depan tidak cukup dibangun secara sektoral atau parsial. Kita membutuhkan kerja bersama yang lintas isu, lintas sektor, dan lintas aktor, sebab kehidupan masyarakat sendiri tidak pernah terbagi dalam kotak-kotak birokrasi.

Seorang ibu yang menghadapi persoalan sampah mungkin sekaligus berhadapan dengan persoalan ekonomi dan kesehatan. Anak yang kehilangan akses pendidikan dapat pula mengalami persoalan gizi, perlindungan, dan lingkungan. Kampung yang ingin mengembangkan pariwisata harus berbicara tentang kebersihan, kebudayaan, ekonomi warga, literasi, kesehatan, ruang publik, sekaligus kelestarian alam.

Persoalan saling berkelindan, demikian pula solusi tidak dapat berdiri sendiri. Karena itu, kekuatan untuk menjawabnya perlu dipertemukan, disinergikan, dan diarahkan pada tujuan bersama.

Inilah pentingnya membangun ekosistem perubahan: bukan sekadar mengumpulkan banyak orang, melainkan mempertemukan beragam kekuatan agar saling melengkapi. Bukan menyeragamkan langkah, tetapi menyatukan arah. Bukan mencari satu pahlawan, melainkan menumbuhkan sebanyak mungkin change maker.

Tak Boleh Ada yang Tertinggal

Ukuran keberhasilan kemerdekaan bukan semata pertumbuhan ekonomi, megahnya pembangunan, atau kemajuan teknologi. Ada ukuran yang lebih mendasar adalah: sejauh mana semakin banyak orang memperoleh kesempatan untuk tumbuh, berdaya, dan menentukan masa depannya sendiri.

Bagaimana dengan anak-anak di kampung? Sudahkah mereka memiliki kesempatan membangun masa depan? Perempuan, kaum muda, lansia, penyandang disabilitas, masyarakat adat dan komunitas lokal, petani, nelayan, buruh, dan kelompok rentan lainnya—sudahkah tersedia ruang bagi mereka untuk menyuarakan aspirasi, mengambil keputusan, dan menentukan arah kehidupannya?

Sudahkah masyarakat ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar penerima keputusan? Dan ketika berbicara tentang masa depan, apakah lingkungan yang diwariskan kepada generasi berikutnya masih cukup layak untuk dihuni?

Semangat “tak boleh ada yang tertinggal” perlu menjadi salah satu ukuran kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan seharusnya memperluas ruang bagi setiap orang untuk tumbuh, berdaya, bersuara, mengambil bagian, dan ikut menentukan masa depan.

Dari Syukur Menjadi Aksi

Di usia 81 tahun Republik Indonesia, mungkin sudah saatnya kita memaknai kemerdekaan dengan cara yang sedikit berbeda. Kita tidak hanya merayakannya, tetapi menghidupkannya melalui kepedulian, keberanian mengambil bagian, kesediaan mendengarkan, kemauan berkolaborasi, serta kerelaan menghubungkan kekuatan kita dengan kekuatan orang lain.

Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang baik. Yang sering kali kita perlukan adalah ruang untuk bertemu, membangun kepercayaan, saling menguatkan, dan menemukan cara berjalan bersama.

Mari hadirkan ruang-ruang temu yang aman, inklusif, menggembirakan, dan membahagiakan—tempat warga berinisiatif, komunitas bertumbuh, pemerintah menjadi enabler dan penghubung, dunia usaha ikut bertanggung jawab, kampus menghadirkan pengetahuan, anak muda memimpin gagasan baru, serta kelompok yang selama ini berada di pinggir turut menentukan arah.

Ruang yang menegaskan satu hal sederhana: setiap orang memiliki kekuatan dan sesuatu yang berarti untuk disumbangkan.

Merdeka untuk Bergerak Bersama

81 tahun Indonesia merdeka adalah perjalanan panjang. Namun, ikhtiar menghadirkan kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari belum selesai. Masih ada pekerjaan besar untuk memastikan setiap warga memiliki kesempatan belajar, bekerja, hidup sehat, memperoleh lingkungan yang baik, menyuarakan kepentingan, dan menentukan masa depannya.

Mungkin inilah cara kita memaknai syukur atas nikmat kemerdekaan. Bukan hanya bertanya:

“Apa yang bisa negara lakukan untuk saya?”

Tetapi juga berani bertanya:

“Apa yang bisa saya lakukan untuk lingkungan, komunitas, dan Indonesia?”

Lalu kita lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih besar:

“Siapa yang bisa saya ajak bergerak bersama?”

Sebab Indonesia tidak tumbuh hanya karena pemerintah bekerja. Bangsa ini tumbuh ketika warganya ikut mengambil bagian, ketika berbagai kekuatan menemukan cara untuk saling melengkapi dan menguatkan.

Dari government menuju movement. Pemerintah bukan satu-satunya episentrum, melainkan bagian dari ekosistem yang memungkinkan perubahan tumbuh. Warga bukan sekadar penerima manfaat, tetapi pelaku perubahan. Kerja yang terpisah kita hubungkan menjadi kekuatan bersama.

Pertanyaan “Siapa yang bertanggung jawab?” perlu bergeser menjadi:

“Apa peran saya, dan siapa yang bisa saya ajak?”

Kemerdekaan adalah ruang bagi setiap orang untuk menjadi berarti dan bermakna setara. Tidak ada kontribusi yang terlalu kecil. Tidak ada kekuatan yang terlalu besar untuk berjalan sendiri. Tidak boleh ada yang tertinggal.

Semua turun tangan.
Semua ambil peran.
Semua saling menguatkan.
Semua menjadi bagian dari perubahan.

Mungkin inilah salah satu cara terbaik kita mensyukuri 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia: bukan sekadar menikmati kebebasan, tetapi memperluas ruang agar semakin banyak orang dapat tumbuh, berdaya, mengambil bagian, dan menjadi pelaku perubahan bagi Indonesia.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Merdeka untuk bergerak.
Merdeka untuk berkontribusi.
Merdeka untuk menjadi change maker.
Merdeka untuk bergerak bersama.

Merdeka!

[1] Penulis, aktif di Gerakan Pembaharu (GAHARU) Pontianak

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *