Prabowo itu baru 20 tahun ditempa dalam ruang sipil. Mulai ikut konvensi Golkar sampai mendirikan Partai Gerindra. Lalu 4 kali maju Pilpres serta menang dan dilantik menjadi Presiden. Banyak yang ‘lupa’ kalau Prabowo tuh 30 tahun ditempa oleh ‘ekosistem militerisme’. Makanya kita maklum nama Prabowo identik dengan ‘Tim Mawar’ yang membuatnya ‘dipecat tidak hormat’ pada 1998. Karena itu, tak heran kalau kepemimpinan Prabowo khas dengan ‘gaya komando’. Sebagaimana mobilisasi pembentukan Kopdes Merah Putih.
Akhir-akhir ini ‘megalomania’ Prabowo tampak mencuat dalam narasi pidatonya. Seolah kita ‘dejavu’ dengan ungkapan Raja Louis XVI (1754-1793); ‘Negara Adalah Aku’. Apakah Prabowo mengidap ‘syndrome Raja Louis’ itu? Sementara kita juga menyaksikan Prabowo membuka ruang dialog dengan berbagai kelompok. Setelah diskusi dengan para pimpinan redaksi dan tokoh jurnalis kritis, kabarnya sedang diupayakan untuk menggelar pertemuan serupa dengan Rocky Gerung, Refli Harun, Ferry Amsari dkk. Ini menandakan Prabowo juga memiliki sisi karakter seorang demokrat.
Terkini, pada pidato peringatan Hari Pancasila Prabowo kembali mengangkat diksi klasik ‘LSM antek asing’ untuk menyudutkan dan meng-kambing hitam-kan masyarakat sipil. Kita tak tau apa ‘isi’ kepala Prabowo, yang kita cermati adalah pernyataan dan langkahnya. Apakah masih senafas-selaras dengan ‘Paradoks Indonesia’ yang dituliskannya?
Tampaknya militeristik dan demokrat menjadi dua sisi yg menyatu dalam karakter diri Prabowo. Cuma apakah itu wujud dari ‘patriotisme’ dan kegigihan untuk membawa Indonesia ke gerbang kemajuan peradaban? Tinggal tergantung ekosistem, faktor, nilai dan kepentingan, serta aktor mana saja yang berkelindan di sekeliling Prabowo. Celakanya, tantangan menghadapi gaya kepemimpinan Prabowo ini bisa berakibat pada ‘nasib nusantara’. Karena itulah ‘elit’ juga tak tinggal diam. Bergerak sesuai poros dan porsinya untuk menjaga dan mengawal transisi proses perubahan di era Prabowo.
Merapat dan mendekatnya frekuensi Prabowo-Megawati sepertinya menandakan ‘bandul politik’ sudah mulai bergeser ke tengah. Kelompok rasional makin terkonsolidasi dan menyebar ke berbagai segmen, walau belum meluas.
Kriminalisasi Hasto oleh KPK dan disebutnya Budi Arie dalam Dakwaan Jaksa menjadi potret bagaimana Prabowo sedang membersihkan ‘anasir’ yang menghambat langkah kebijakannya. Bahkan Kejaksaan disebut sudah menjelma jadi ‘Kopasus Pemberantasan Korupsi’.
Terakhir, pernyataan Prabowo pada 1 Juni kemaren yang menyebut LSM sebagai antek asing, apakah menggambarkan ‘bacaan geo-politik’ Prabowo atas kondisi kekinian? Atau sengaja ‘memancing’ agar masyarakat sipil merapat ke Kertanegara? Ketemu ‘Bobby’ kesayangan Prabowo.
Oleh: Zainal Abbas (Pengamat Politik)

apakah ada indikasi konkret dari tim Prabowo mengenai bentuk kolaborasi atau dialog yang diharapkan dengan kelompok masyarakat sipil ke depannya, di luar pertemuan dengan tokoh jurnalis?