ChatGPTImage22Sep202512.50.5
Seabad lebih sudah Sang Surya bersinar. Muhammadiyah, dengan lambang matahari berwarna kuning keemasan, berdiri tegak sebagai gerakan Islam berkemajuan.

Seabad lebih sudah Sang Surya bersinar. Muhammadiyah, dengan lambang matahari berwarna kuning keemasan, berdiri tegak sebagai gerakan Islam berkemajuan. Bagi Muhammadiyah, dakwah bukan hanya ceramah di mimbar, tapi kerja nyata di tengah masyarakat. Dari rumah sakit, sekolah, kampus, panti asuhan, hingga misi kemanusiaan global—semuanya adalah pancaran cahaya yang lahir dari iman.

Hari ini, generasi baru Muhammadiyah sering disebut sebagai “Anak-anak Sang Surya”. Mereka adalah dokter, guru, relawan, intelektual, dan mahasiswa yang terus bergerak, mewarisi nilai-nilai perjuangan KH Ahmad Dahlan sekaligus menjawab tantangan zaman modern.

Menolong Tanpa Batas: Cerita dari Palu

Ketika gempa dan tsunami melanda Palu pada September 2018, kehancuran menyapu kota itu dalam hitungan menit. Ribuan nyawa hilang, puluhan ribu rumah rata dengan tanah. Dalam suasana kacau, tim Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) tiba lebih awal dibanding banyak lembaga lain.

Mereka mendirikan posko medis, dapur umum, dan sekolah darurat. Namun yang membuat banyak orang terkesan adalah sikap inklusif mereka. MDMC menolong siapa pun tanpa bertanya agamanya. Di sebuah desa Kristen di Donggala, relawan Muhammadiyah justru menjadi tumpuan utama warga.

“Kami datang bukan sebagai Muslim untuk Muslim, tapi sebagai manusia untuk manusia. Inilah ajaran Islam rahmatan lil-‘alamin,” kata salah seorang relawan, mengutip pesan Prof. Haedar Nashir.

Data menunjukkan, hingga akhir 2018, lebih dari 1.200 relawan Muhammadiyah terlibat dalam penanganan bencana Palu, Donggala, dan Sigi. Sebuah angka besar yang menunjukkan kekuatan jaringan amal usaha Muhammadiyah.

Ketika Pandemi Melanda

Maret 2020, pandemi COVID-19 mulai melumpuhkan Indonesia. Rumah sakit penuh, tenaga medis kewalahan, masyarakat panik. Di saat krisis itu, jaringan 80 rumah sakit Muhammadiyah–‘Aisyiyah membuka pintu selebar-lebarnya.

Tidak ada pertanyaan, “Anda Muslim atau non-Muslim?”. Semua pasien diterima. Bahkan, banyak tenaga kesehatan Muhammadiyah rela tinggal berbulan-bulan di rumah sakit tanpa pulang demi melindungi keluarga mereka dari risiko penularan.

Prof. Haedar Nashir menegaskan:

“Muhammadiyah berkhidmat untuk kemanusiaan. Kami menolong siapa pun yang sakit, tanpa membedakan agama atau latar belakangnya. Inilah makna Islam berkemajuan.”

Selain pelayanan kesehatan, Muhammadiyah juga mendirikan Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC). Menurut data PP Muhammadiyah, sepanjang 2020–2021, lebih dari 3 juta masyarakat terbantu melalui distribusi masker, alat medis, sembako, hingga vaksinasi massal.

Diplomasi Kemanusiaan: Dari Rohingya hingga Palestina

Anak-anak Sang Surya tidak berhenti di batas negara. Mereka juga membawa cahaya Muhammadiyah ke panggung internasional.

Pada 2017, saat krisis Rohingya di Myanmar memuncak, Muhammadiyah mengirim misi kemanusiaan ke Cox’s Bazar, Bangladesh, tempat ratusan ribu pengungsi tinggal dalam kondisi memilukan. Relawan Muhammadiyah mendirikan klinik darurat yang melayani ribuan pasien per minggu.

Tidak hanya itu, Muhammadiyah juga aktif menyuarakan solidaritas untuk Palestina, Suriah, dan korban gempa Turki. Tahun 2023, ketika gempa besar mengguncang Turki dan Suriah, MDMC mengirim tim medis yang bekerja bahu-membahu dengan relawan dunia.

Prof. Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, menegaskan dalam sebuah forum perdamaian:

“Islam tidak boleh hadir sebagai ancaman, tapi sebagai rahmat. Muhammadiyah menunjukkan wajah Islam Indonesia yang berperan di kancah global untuk kemanusiaan.”

Kemanusiaan Sehari-hari: Warung Gratis dan Beasiswa

Tidak semua kisah heroik terjadi di medan bencana atau forum internasional. Anak-anak Sang Surya juga menyalakan cahaya kemanusiaan di kehidupan sehari-hari.

Di Makassar, komunitas Pemuda Muhammadiyah membuka program “Warung Jumat Berkah”. Setiap Jumat, ratusan warga, termasuk tukang becak, buruh, hingga mahasiswa, bisa makan gratis tanpa ditanya identitasnya.

Nasyiatul ‘Aisyiyah di berbagai daerah menggerakkan program beasiswa untuk anak miskin, mengajarkan literasi, hingga kampanye lingkungan. Bagi mereka, menolong sesama adalah ibadah yang sama mulianya dengan shalat dan puasa.

Anak-anak Sang Surya: Warisan yang Terus Menyala

Dari KH Ahmad Dahlan hingga generasi muda Muhammadiyah hari ini, satu hal tidak berubah: keyakinan bahwa iman harus diwujudkan dalam amal. Muhammadiyah mengajarkan bahwa masjid tidak hanya untuk sujud, tetapi juga untuk memulai gerakan sosial.

Anak-anak Sang Surya adalah simbol generasi yang tidak tinggal diam. Mereka dokter yang merawat pasien tanpa pamrih, guru yang mendidik anak-anak miskin di pelosok, relawan yang menolong korban bencana, dan aktivis yang bersuara di forum dunia.

Di tengah dunia yang kerap terbelah oleh konflik dan perbedaan, cahaya Sang Surya menjadi pengingat bahwa Islam berkemajuan adalah Islam yang merangkul, menghidupi, dan memanusiakan manusia.

WhatsApp Image 2025-09-12 at 11.12.37

Oleh: Aldo Topan Rivaldi

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *