bumir1

Sungai-sungai besar di Pulau Kalimantan. Sumber: Koninck, Bernard & Bissonnette, 2011

(Oleh: Mira S. Lubis*) Pulau Kalimantan adalah salah satu wilayah dengan jaringan sungai terluas di Asia Tenggara. Ratusan aliran besar dan kecil menghubungkan hutan, permukiman, hingga pesisir laut. Seperti disebut oleh World Wide Fund for Nature (WWF, 2012), sistem sungai Kalimantan membentuk “urat nadi ekologis” yang menghidupi jutaan penduduknya, mulai dari nelayan di muara, petani di dataran banjir, hingga pedagang di kota-kota tepian air.

Oleh: Mira S. Lubis*

Pulau Kalimantan adalah salah satu wilayah dengan jaringan sungai terluas di Asia Tenggara. Ratusan aliran besar dan kecil menghubungkan hutan, permukiman, hingga pesisir laut. Seperti disebut oleh World Wide Fund for Nature (WWF, 2012), sistem sungai Kalimantan membentuk “urat nadi ekologis” yang menghidupi jutaan penduduknya, mulai dari nelayan di muara, petani di dataran banjir, hingga pedagang di kota-kota tepian air. Di sini, sungai bukan sekadar bentang alam, tetapi bagian dari kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya. Kota-kota seperti Pontianak, Sintang, Banjarmasin, Samarinda, dan kota lainnya tumbuh di tepi sungai, memanfaatkan air sebagai jalur utama transportasi dan perdagangan. Perahu klotok, jukung, dan lanting bukan hanya alat angkut, melainkan simbol cara hidup yang berpadu dengan arus sungai. Namun, seiring waktu, arah perkembangan kota mulai menjauh dari air. Sungai yang dulu menjadi halaman depan kini perlahan berubah menjadi halaman belakang.

Sungai yang Ditinggalkan

Selama beberapa dekade terakhir, modernisasi membuat banyak kota di Kalimantan kehilangan kedekatannya dengan sungai. Jalan raya, jembatan besar, dan perumahan beton menggantikan kanal, dermaga, dan rumah panggung. Sungai menjadi tempat pembuangan limbah atau sekadar “pemandangan” yang dilihat dari kafe tepi air. Padahal, seperti ditulis oleh sejarawan Leonard Andaya (2018), “di Asia Tenggara, air adalah pengatur ritme kehidupan manusia.” Tanpa sungai, kota-kota di Kalimantan tak akan pernah lahir. Ironisnya, banyak proyek penataan kawasan tepi air kini justru menyingkirkan masyarakat yang paling lama hidup di situ, para nelayan, pendayung sampan, pedagang pasar terapung, atau penghuni lanting (rumah terapung). Beberapa proyek “revitalisasi” memang memperindah wajah kota, tetapi kerap mengabaikan konteks sosial dan ekologinya. Hasilnya adalah ruang publik yang indah di foto, tapi kehilangan jiwa.

Melihat Sungai dengan Cara Baru

Kini, muncul gagasan baru yang disebut urbanisme dendritik, cara memahami kota dengan berpijak pada logika jejaring sungai yang bercabang-cabang. Dalam pandangan ini, sungai dilihat bukan sebagai area ‘waterfront’ sebatas yang melewati kota, melainkan jaringan hidup yang saling terhubung secara utuh dari hulu ke hilir, dan dari anak-anak sungai, ke sungai besar, hingga ke laut, seperti cabang pohon atau urat darah. Pendekatan ini berasal dari pandangan ekologi politik yang melihat kota dan lingkungan bukan dua hal terpisah. Sungai bukan hanya urusan drainase atau estetika, tapi juga ruang sosial, politik, dan ekonomi. Ia menghubungkan manusia dengan alam, dan desa dengan kota.

Contohnya bisa dilihat pada masyarakat yang tinggal di lanting (rumah terapung) yang banyak kita jumpai di sungai-sungai di penjuru Kalimantan. Rumah-rumah mereka mengapung di atas rakit dan dapat berpindah mengikuti arus air. Aktivitas mereka berdagang, bersekolah, bahkan berpindah tempat tinggal, mencerminkan mobilitas yang cair. Mereka bukan sekadar “pemukim bantaran sungai”, melainkan pencipta ruang kota baru yang menghubungkan kota-kota Kalimantan dengan hinterland-nya. Inilah yang disebut urbanisme dendritik: kehidupan perkotaan yang tumbuh di jejaring sungai. Sungai sebagai perluasan ruang urban yang aktif, lebih dari sekedar obyek pemandangan untuk dinikmati.

Kalimantan, Laboratorium Kota Air

Kalimantan bisa menjadi laboratorium alami untuk memahami masa depan kota-kota air. Jaringan sungainya yang luas mengajarkan tentang keterhubungan ekologis dan sosial. Dari hulu hingga hilir, kehidupan di pulau ini bergerak mengikuti logika air, tidak kaku, tapi adaptif. Seperti dikemukakan oleh geografer Karl Wittfogel pada pertengahan abad ke-20, “peradaban besar sering lahir dari lembah sungai.” Ungkapan itu terasa relevan di Kalimantan. Sungai Kapuas, Kahayan, Mahakam, dan Barito bukan hanya jalur logistik, tetapi juga fondasi kebudayaan dan pengetahuan lokal.

Pendekatan seperti urbanisme dendritik bisa membantu perencana kota, mahasiswa, dan pengambil kebijakan untuk berpikir lebih lentur. Alih-alih menormalisasi sungai agar stabil, kita bisa belajar dari cara masyarakat lokal menyesuaikan diri dengan pasang surut, membangun rumah panggung atau rumah terapung, atau memanfaatkan lahan basah tanpa merusaknya.

Belajar dari Air, Merancang Masa Depan

Kota yang baik tidak harus menaklukkan alamnya. Ia bisa tumbuh selaras dengannya. Prinsip ini sangat penting di era perubahan iklim, ketika banjir dan kekeringan makin sering terjadi. Kota adalah entitas yang kompleks, begitu pula sungai-sungai Kalimantan dengan alur-alurnya yang begitu masif dan rumit. Kompleksitas ini perlu diterima dan terus dipahami, bukan disimplifikasi. Urbanisme dendritik mengajak kita untuk mendengarkan sungai, membaca arusnya, memahami logikanya, dan menjadikannya bagian dari perencanaan kota-kota di Kalimantan. Dengan begitu, pembangunan tidak lagi merusak, melainkan memulihkan hubungan lama antara manusia dan air. Karena pada akhirnya, sungai bukan sekadar aliran air di tengah kota. Ia adalah cermin dari cara kita memahami kehidupan itu sendiri: selalu bergerak, saling terhubung, dan terus mencari jalannya.

*Penulis: dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Tanjungpura

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *