Oleh: Al-Fakir
Betapa sering kita lupa, tapi Allah tidak pernah berhenti menjaga.
Betapa sering kita jauh, tapi Allah tak pernah menutup pintu pulang.
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”(QS. An-Nahl,18).
Terlepas dari siapa yang salah, ada baiknya kita berhenti disini, bukan karena menyerah, tapi karena ingin kembali…
mencari tenang dalam genggaman-Nya.
Kadang bukan tentang siapa yang menang atau siapa yang kalah, tapi tentang siapa yang paling sadar- bahwa tenang itu bukan dari pembenaran, melainkan dari kepasrahan.
Ada kalanya kita perlu berhenti, bukan karena lemah, tapi karena ingin menata ulang arah.
Menata hati yang terlalu sibuk membuktikan diri dihadapan manusia.
Firman Allah ;
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram (QS. Ar-Rad.28)
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa ketenangan hakiki tidak didapat dari kemenangan duniawi,tetapi dari hati yang selalu ingat dan yakin pada Allah.
Kadang diam lebih menyembuhkan daripada seribu pembelaan.
Karena ketika kita memilih tenang kita sedang memilih Allah diatas ego.
Sabda Rasulullah ;
“Aku menjamin rumah di surga bagi orang-orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar.”(HR. Abu Dawud. No.4800, hasan shahih)
Maknanya, meninggalkan debat atau pertengkaran demi ketenangan dan ridha Allah adalah tanda kedewasaan iman, bukan kelemahan.
Kadang diam dan pergi bukan tanda kalah, tapi cara lembut untuk berkata ;
“Aku butuh tenang, bukan pembenaran.”
Saat kita berhenti membela diri, Allah yang akan membelamu dengan cara yang jauh lebih lembut dan bermakna.
Tenang itu mahal dan hanya bisa dibeli dengan melepaskan hal-hal yang tidak lagi menuntunmu kepada Allah.
Tenang dalam genggaman-Nya.
Barakallahu fikum aj’main.
Sukamiskin,