Picsart_25-12-29_07-07-24-912-3963761287

(Oleh: M. Hermayani Putera)

Momen 5 Rajab Sekumpul di Martapura, Kalimantan Selatan, pada hari Ahad, 28 Desember 2025—yang merupakan puncak pengajian rutin sekaligus peringatan Haul ke-21 wafatnya Guru Besar Sekumpul, KH Muhammad Zaini Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul)—baru saja berakhir. Banyak media meliput peristiwa besar ini, termasuk sejumlah pemberitaan di media nasional dan regional, serta figur publik yang membahasnya di kanal dan podcast masing-masing.

Ini bukan sekadar peristiwa keagamaan biasa. Momen 5 Rajab telah tumbuh menjadi ruang sosial-kultural yang sarat makna dalam konteks berbangsa, bernegara, dan toleransi. Acara yang dikenal sebagai Haul Guru Sekumpul atau pengajian rutin 5 Rajab ini terus menjadi magnet jutaan jamaah dari berbagai daerah setiap tahunnya.


Pertama, teladan akhlak sosial sebagai fondasi kebangsaan.

Guru Sekumpul tidak dikenal melalui retorika politik, melainkan melalui keteladanan: kelembutan tutur, kedalaman ilmu, dan konsistensi amal. Di tengah krisis keteladanan publik hari ini, momen 5 Rajab mengingatkan bahwa bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh regulasi dan infrastruktur, tetapi terutama oleh akhlak sosial warganya. Nasionalisme menemukan ruhnya ketika nilai kejujuran, kesederhanaan, dan kasih sayang benar-benar hidup dalam keseharian.


Kedua, Islam yang meneduhkan dan merangkul.

Jutaan jamaah datang dari berbagai penjuru dengan latar belakang yang beragam, tanpa sekat sosial, ekonomi, maupun afiliasi, bahkan menempuh perjalanan dengan berbagai moda transportasi—darat, laut, dan udara. Tidak ada panggung kebencian, tidak ada seruan permusuhan. Yang hadir justru suasana teduh dan saling menghormati. Ini menunjukkan wajah Islam yang damai, kultural, dan inklusif. Dalam konteks toleransi, 5 Rajab menjadi praktik nyata bahwa keberagamaan yang kuat justru melahirkan sikap saling menghargai dan hidup berdampingan.


Ketiga, kohesi sosial yang lahir dari kesukarelaan.

Pengelolaan arus jamaah, dapur umum, penginapan, hingga kebersihan berjalan berkat gotong royong masyarakat. Negara mungkin hadir secara administratif, tetapi denyut utamanya justru digerakkan oleh partisipasi warga. Ini menjadi pelajaran penting bagi kehidupan bernegara: solidaritas dan kohesi sosial adalah modal besar yang kerap luput dari perencanaan formal pembangunan.


Keempat, agama sebagai perekat, bukan pemecah.

Di tengah polarisasi politik dan menguatnya identitas eksklusif, 5 Rajab menghadirkan ruang bersama yang cair dan inklusif. Orang datang untuk berdoa, bershalawat, dan mengenang guru—bukan untuk saling menegasikan. Spirit ini relevan bagi Indonesia yang majemuk: perbedaan dapat dirawat tanpa harus dipertentangkan.


Kelima, 5 Rajab Sekumpul mengajarkan bahwa keutuhan bangsa tidak hanya dijaga di ruang-ruang kekuasaan, tetapi juga di majelis-majelis cinta dan keteladanan.

Dari Sekumpul, kita belajar bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan laku sosial; dan persatuan bukan jargon semata, melainkan pengalaman hidup bersama yang membumi dan menyentuh.

Jika ditarik lebih jauh, 5 Rajab Sekumpul juga memberi pelajaran penting tentang partisipasi dan semangat kerelawanan warga yang tumbuh secara organik dan dewasa. Menariknya, dalam beberapa tahun terakhir, istilah panitia nyaris tak lagi dipakai. Yang mengemuka justru relawan—orang-orang yang hadir bukan karena mandat struktural, melainkan karena panggilan nurani.

Partisipasi relawan ini hadir dalam bentuk yang sangat konkret. Bengkel-bengkel membuka layanan gratis bagi jamaah yang kendaraannya bermasalah di perjalanan. Sejumlah warga bahkan menyediakan layanan mobil gratis bagi jamaah dari Bandara Syamsuddin Noor menuju Martapura. Makanan dan minuman dibagikan tanpa pamrih, dari rumah ke rumah, dari pos ke pos. Tak sedikit pula warga yang menjadikan rumahnya sebagai tempat singgah jamaah. Semua bergerak tanpa komando tunggal, namun terasa tertib, rapi, dan penuh kepedulian.

Yang menarik, gerakan ini kian rapi dan profesional tanpa kehilangan ruh keikhlasan. Ada pembagian peran yang jelas, alur pelayanan yang tertata, hingga SOP sederhana namun efektif—mulai dari pengaturan lalu lintas, dapur umum, layanan kesehatan, hingga kebersihan. Ini menunjukkan bahwa kesadaran kolektif masyarakat mampu melahirkan tata kelola sosial yang baik, bahkan tanpa struktur birokrasi yang kaku. Sebuah pelajaran berharga bagi praktik kewargaan dalam negara demokratis.

Lebih dari itu, 5 Rajab Sekumpul juga menghadirkan contoh toleransi yang hidup, bukan sekadar wacana. Ada kisah tentang sejumlah jamaah gereja yang turut membantu, baik dalam penyediaan air minum, pengaturan lalu lintas, maupun dukungan logistik. Mereka hadir bukan untuk mencampuradukkan keyakinan, melainkan untuk menegaskan kemanusiaan. 

Di ruang ini, perbedaan iman tidak menjadi penghalang untuk bekerja bersama demi kebaikan bersama.

Di sinilah 5 Rajab Sekumpul menemukan makna kebangsaannya yang paling dalam: bahwa solidaritas dan kohesi sosial lintas latar belakang—bahkan lintas iman—bukan sesuatu yang utopis. Ia hadir nyata, bekerja, bergerak, saling menggerakkan, dan manfaatnya benar-benar dirasakan. Negara dapat belajar dari sini bahwa toleransi tidak selalu lahir dari pidato resmi para pejabat atau rapat-rapat koordinasi antar tokoh dan elit, melainkan tumbuh dari pengalaman berbagi, melayani, dan saling menjaga di ruang-ruang keseharian masyarakat.

Karena itu, momen 5 Rajab Sekumpul bukan semata peringatan wafat seorang guru besar. Ia adalah ikhtiar kolektif untuk merawat warisan nilai berupa akhlak dan adab sosial, semangat gotong royong, serta kemanusiaan yang melampaui sekat-sekat identitas primordial dan basis keyakinan. Sebuah pesan dan kesan yang tetap relevan, bahkan kian penting, bagi Indonesia hari ini, esok, dan hari-hari selanjutnya..

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *