(Oleh: Al-Fakir)
Rezeki itu dari langit bukan dari bumi” Nasihat tukang bubur, menggugat logika “workaholic” saya selama ini.
Dulu, waktu masih muda dan diawal awal “bekerja” dalam menjalani kehidupan, saya punya langganan bubur ikan enak di Pontianak. Tapi jualanya tidak pasti, kadang buka, kadang tutup. Sehingga kalau kita mau makan, datang belum tentu ada sehingga belum tentu dapat makan bubur enak ini; dulu tentu tidak secanggih sekarang, belum ada smartphone.
Melihat cara dagangnya si tukang bubur ini, saya mencoba memberikan saran; “Pak buka tiap hari jak sampai malam, sayang kan pelangganya, nanti pade pergi makan ke penjual bubur yang lain, kan Bapak bisa cepat kaya juga kalau rajin.”( dialeg melayu pontianak) Pak Amat (aslinya Ahkmad, di melayu pontianak, orang-orang yang bernama Ahkmad, akan di panggil Amat) penjual buburnya, cuma tersenyum lalu menghela napas panjang “Anak mude (anak muda, bhs melayu pontianak), rezeki itu yang ngatur langet, bukan bumi, ente muslim kan?, cobe ente bace qur’aan, cari nafkah itu siang, malam itu jatah ente istirahat”(dialog tukang bubur kental dengan bahasa melayu pontianak).
“Saye hanya mau jualan siang jak, kalau malam saya buka juga, terus rezekinya penjual bubur yang jualan malam bagaimana?, Kasihan mereka” “Dari jualan siang saja saya sudah cukup. Rezeki tidak akan ketukar. Yang bekerja siang hari ada bagianya, yang bekerja malam hari ada bagianya.” “Coba lihat orang yang kelihatan kaya, mobil mewah, rumah besar dan bagus, tapi kadang hidupnya tidak tenang.” “Kalau saya hidup enak-enak saja, saya jualan tidak dikejar target. Sebulan sekali pulang kampong, ngurus kebon durian, mancing ikan, kumpul sama teman-teman yang tulus, bukan teman-teman yang datang ketika ada “maunya” saja.”
Pak Amat melanjutkan sambil menyiapkan bubur; “Jangan sampai mase mudemu habis buat cari duit, anak mude, sampai sakit-sakitan, nanti pas tue, duitnya abis buat bayar rumah sakit.” “Allah sudah menakar rezeki kita, ngape pulak ngejar sampai lupa istirahat, lupe ibadah?” Kate orang pandai, “waktu adalah uang”. Tapi jangan diartikan setiap detik harus jadi duit.” “Artinya waktu lebih Mahal dari uang. Uang hilang bisa dicari, Waktu hilang tidak bisa kembali.” “Gunakan waktu buat ibadah, istirahat, dan keluarga. “Itu Kekayaan Asli.”
Saya pulang dengan perut kenyang dan Hati yang “Tertampar” Sampai dirumah saya termenung dan memegang kepala sambil mengingat nasihat tadi dari pa Amat. Dan saya membuka mushaf al- qur’an dan membacanya; Al-Qur’an surah 6, ayat 96, surah 10, ayat 67, surah 25, ayat 47, surah 27, ayat 86, surah 28, ayat 73, surah 40, ayat 61dan surah 78, ayat,9, 10, 11 Saya tercekat, sambil berusaha untuk memahami ayat-ayat qur’an tersebut; Ternyata selama ini kita bukan bekerja untuk hidup, tapi membunuh hidup demi pekerjaan.
Huallahuallam bissawab.
Barakallahu fiqum aj’main.
Sukamiskin,
