(Oleh: Mei Purwowidodo)
Puasa bagi umat Islam adalah kewajiban. Jika dilakukan berpahala, jika ditinggalkan berdosa. Bahkan anak SD pun sudah memahami itu. Materinya pun hampir tak pernah berubah—menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Ayat yang selalu menjadi rujukan adalah Al-Baqarah ayat 183–187. Jika ada ulangan pelajaran agama, hampir pasti pertanyaannya seputar itu lagi.
Namun pertanyaannya sekarang: bagaimana implementasinya dalam keseharian?
Menahan lapar dan dahaga saat berpuasa, tentu iya. Hampir semua mampu menjalaninya.
Tapi bagaimana saat berbuka? Secara logika, pengeluaran untuk makan dan minum seharusnya berkurang.Kenyataannya justru sering meningkat.Agenda buka bersama menjadi rutinitas.
Penjual makanan tumbuh di mana-mana.
Pusat jajanan Ramadhan penuh.
Lalu, di mana letak efek puasanya?
Dari sisi ekonomi, mungkin ada multiplier effect. Perputaran uang meningkat.Pedagang kecil tersenyum. Masyarakat merasa “semua bisa pegang uang dan belanja.” Ramadhan menjadi bulan yang menggerakkan ekonomi rakyat.Itu sisi positifnya.
Namun dari sisi spiritual, apakah peningkatannya sebanding?
Salat tarawih misalnya.
Di awal Ramadhan masjid penuh, bahkan meluber.Di akhir, saf mulai renggang. Boleh 21 rakaat, boleh 11 rakaat. Yang sering jadi perhatian bukan lagi kekhusyukan, melainkan kecepatan—seakan ada standar “speed” tersendiri di setiap rakaat.
Warung-warung yang di awal Ramadhan masih malu-malu buka di siang hari, menjelang akhir bulan kembali seperti biasa.
Semua seakan kembali ke pola normal. Maka muncul pertanyaan reflektif: apakah puasa hanya menjadi ritual musiman?
Mungkin jawabannya memang kembali pada pribadi masing-masing. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tapi menahan diri dari berlebihan—baik dalam konsumsi, emosi, maupun pencitraan. Jika setelah Ramadhan kita tetap lebih sabar, lebih peduli, dan lebih sederhana, berarti esensi itu sampai.
Namun jika Ramadhan hanya ramai di awal dan kembali biasa di akhir, mungkin yang kita jalani baru sebatas kewajiban, belum sepenuhnya kesadaran.
Pada akhirnya, puasa adalah cermin. Ia tidak hanya menguji siapa yang mampu menahan lapar, tetapi siapa yang mampu menahan diri. Dan itu bukan soal sebulan—melainkan soal bagaimana sebelas bulan setelahnya.
Marhaban ya Ramadhan.