(Oleh: Al-Fakir)
Kewajiban seorang muslim dalam melaksanaka puasa ramadhan dilperintahkan Allah dalam Al qur’an surah Al Baqarah 183.
ayat tersebut merupakan landasan syariah bagi puasa ramadhan.
Tentunya kita mengerti dan tahu hukum puasa ramadhan yang setiap tahun kita laksanakan, dan mengerti akan pelaksanaan syariat ramadhan bagi kepentingan dan tuntunan hidup kita sebagai muslim yang beriman.
Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumudin, menyatakan; Puasa memiliki 3 (tiga) tingkatan;
Yaitu puasa orang-orang awam (shaumul umu) puasanya orang khusus (shaumul khusus) dan shaumul super khusus (shaumul khususil khusus).
Pertama;
Puasa orang-orang awam.
puasa level pertama ini yg disebut shaumul umum, puasa orang-orang biasa saja kebanyakan kita lakukan yaitu puasa menahan haus dan lapar serta hal-hal lain yang membatalkan puasa secara syariat.
Kedua;
Puasanya orang-orang khusus.
Disebut khusus atau special ataw jika diberi nilai maka nilainya very good karena mereka berpuasa lebih dari menahan haus dan lapar dan hal-hal yang membatalkan.
Mereka berpuasa untuk menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan segala anggota badanya dari perbuatan dosa dan maksiat. Mulutnya bukan saja menahan diri dari mengunyah, tapi juga menahan diri dari menggunjing, bergosip, dan memfitnah. Atau dalam kontek kekinian termasuk menahan jari jarinya agar tidak menyebarkan berita bohong atau hoax, menahan diri dari menampilkan aib orang-orang melalui smartphon atau konten-konten tertentu di media sosial.
Puasa pada level ini adalah puasa orang-orang Shalih.
Ketiga;
Puasa orang Super Khusus.
Ini puasa level tertinggi, menurut Imam Al Ghazali, inilah praktiknya puasa orang-orang istimewa, exellent.
Mereka tidak saja menahan diri dri hal-hal yang disebut pada level pertama dan kedua yg disebut diatas, tapi merka juga menahan hatinya dari keraguan hal-hal keahiratan.
Menahan pikiranya dari masalah duniawi serta menjaga diri dari berpikir kepada selain Allah.
standart batal puasa bagi mereka sangat tinggi, apabila terbersit dalam pikiranya tentang selain Allah seperti, cenderung memikirkan harta dan kekayaan dunia, bahkan puasa terkurangi nilainya bahkan dianggap batal apabila dalam hati tersirat keraguan, meski sedikit saja atas kekuasaan Allah.
Puasa pada level ini adalah puasa para Nabi, shiddiqin,dan Muqarabbin.
Sudah dimanakah tingkatan puasa kita laksanakan selama ini?
Tujuan Imam Al Ghazali mengklasifikasi puasa kepada tiga level tersebut tak lain tujuanya ialah agar kita yg setiap tahun berpuasa ramadhan bisa menapaki tangga yang lebih tinggi dalam kwalitas ibadah puasanya.
Puasa seharusnya mampu menghijrahkan diri kita agar semakin bertaqwa dan mampu menjadi Khairunnaas anfa’ uhum linnaas.
Bahkan puasa seharusnya dapat memi” rajkan manusia dari ber Ahlak buruk menjadi berahlak MULIA/ AKLAKUL KARIMAH.
Selamat menjalankan ibadah puasa.
Salam sehat dan semangat.
Syukron Katsiir.
Barakalahu fikum aj’main.
Sukamiskin,
