pwk (1)

(Oleh: Ely Nurhidayati*)

Workshop Mata Kuliah Perancangan Kota Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura bertemakan ”Kota untuk semua: belajar inklusivitas dari goresan pelukis” di Selasar Perpustakaan Taman Digulis pada Rabu, 18 Februari 2026 dengan menampilkan pelukis Rudi Asbount. 

Segenap dosen dan mahasiswa  Mata Kuliah Perancangan Kota PWK Untan mengadakan workshop ”Kota untuk semua: belajar inklusivitas dari goresan pelukis” sebagai salah satu langkah praktis bagi seorang mahasiswa memahami realitas dari konteks seni lukis. Hari ini, kita tidak akan melihat kota melalui angka statistic, peta GIS, atau dokumen tata ruang kota. Tetapi, kita melihat kota melalui lensa goresan dari seorang pegiat seni ”Rudi Asbount” sebagai penerjemah realitas ruang bagi kita.

Dalam kegiatan workshop ini ditampilkan empat buah lukisan hasil karya Rudi dan dilanjutkan melukis dari media kanvas kosong. Beberapa karya lukisnya menampilkan bahwa kota dan aktivitasnya bukan sekedar benda ”mati”. Ada dimensi realitas sehari-hari yang lepas dari amatan kita, misalnya salah satu lukisannya menggambarkan suasana pasar ”loak” yang ”hidup” interaksi sosialnya dari berbagai latar belakang profesi. Mungkin kita bertanya ”apa hubungannya goresan kuas dengan perancangan kota?”. Perhatikan bagaimana pelukis ini bekerja, perhatikan setiap garis dan goresannya. ”Apakah garisnya membentuk arsitektur yang megah namun dingin?” atau ”Apakah goresan spontannya justru menangkap keriuhan pasar, pedagang kaki lima, dan pejalan kaki?” serta ”Apakah citra kota yang kita lihat di kanvas itu dibentuk oleh keindahan visualnya, atau oleh interaksi manusia didalamnya?”.

”Sesuatu yang indah dan jelek secara visual bisa menjadi sangat berharga dan dapat dipelajari. Setiap karya seni hasil goresan pelukis punya cerita masing-masing serta dari ide pelukisnya. Perspektif pelukis bukan hanya dari ruang tetapi ada latar belakang cerita sosialnya dan realitasnya. ” ujar Rudi. 

Dr.Ars. Ely Nurhidayati, S.T., M.T., Dr. Mira Sophia Lubis, S.T., M.T., Meta Indah Fitriana, S.T., M.Sc selaku dosen yang hadir dalam kegiatan tersebut juga menyampaikan rasa bahagia, Rudi sebagai pegiat seni telah memberikan perspektif baru bagi mahasiswa rancang kota bahwa perencana kota harus dapat menghidukan ”jiwa” kota itu sendiri. 

”Kami melihat realitas di lapangan bahwa pada umumnya dalam merancang kota, seorang perencana bukan hanya soal memetakan land use, menciptakan site plan, dan menetapkan zonasi kawasan. Menggambar garis yang rapi diatas peta, tanpa memastikan setiap garis tersebut tidak menciptakan sekat sosial baru dapat mencegah kegagalan rancang kota tersebut” ujar Ely.

Kegiatan ditutup dengan foto bersama. Besar harapan dosen MK Perancangan Kota bagi calon planner masa depan kota agar mampu merancang kota melalui kaca mata seorang seniman, rancanglah sebuah kota bukan hanya dari elemen rancang kota yang indah secara visual saja, tetapi juga yang menciptakan dimensi sense of place dan sense of belonging pada kota tersebut. 


*Dosen Mata Kuliah Perancangan Kota, Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Tanjungpura

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *