(Oleh: M. Hermayani Putera)
Al-Qur’an tidak pernah menyalahkan alam. Kitab suci ini dengan tegas menunjuk tangan manusia sebagai sumber kerusakan. Dalam QS. Al-A’raf [7]: 56, Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya…”
Larangan ini jelas dan tegas. Allah adalah Pemelihara dan Pengatur alam semesta yang Maha Sempurna. Bumi telah Allah tata dalam keseimbangan. Menjaga keseimbangan itu adalah bentuk ketaatan. Sebaliknya, merusak lingkungan adalah pembangkangan terhadap amanah Ilahi. Ketika kerakusan dan kelalaian dibiarkan, yang rusak bukan hanya hutan, sungai, dan laut, tetapi juga nurani dan kualitas ketakwaan.
Pesan tersebut sesungguhnya adalah seruan untuk kembali: menata ulang kesadaran, meneguhkan tanggung jawab, dan menunaikan amanah sebagai khalifah di bumi.
Rasulullah SAW menguatkan pesan itu dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim:
“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, lalu dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.”
Betapa indah ajaran Islam. Menanam pohon saja bernilai sedekah. Artinya, menjaga lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi ladang amal saleh. Menghemat air, mengurangi plastik, membersihkan lingkungan, dan memilah sampah adalah ibadah ketika diniatkan karena Allah.
Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah juga bersabda:
“At-thahuru syathrul iman” — Kesucian adalah sebagian dari iman.
Kesucian tidak berhenti pada ritual bersuci. Ia mencerminkan kesadaran menjaga kebersihan lahir dan batin. Lingkungan yang bersih adalah refleksi iman yang hidup. Sebaliknya, lingkungan yang kotor sering kali menunjukkan kelalaian batin. Iman yang hidup tidak berhenti di sajadah. Iman yang hidup bergerak menjaga dan merawat bumi.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum ekologis. Dalam QS. Al-A’raf [7]: 31 Allah mengingatkan:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
Larangan berlebih-lebihan adalah prinsip hidup. Namun realitas sering berlawanan. Saat Ramadhan, konsumsi meningkat, makanan terbuang, sampah plastik menumpuk, energi digunakan tanpa kendali. Ironisnya, semua itu terjadi di bulan latihan pengendalian diri.
Padahal Ramadhan mengajarkan bahwa takwa lahir dari kemampuan menahan diri. Pola hidup sederhana, tidak boros, dan ramah lingkungan adalah bentuk ketakwaan yang nyata. Menjaga bumi dimulai dari upaya mengendalikan diri sendiri.
Bumi bukan sekadar ruang hidup, melainkan amanah sekaligus saksi atas cara kita memperlakukannya.
Ramadhan memberi kita kesempatan, memperbaiki bukan hanya hubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan ciptaan-Nya. Dari sajadah, iman harus bergerak—menyapa bumi, menjaga hutan, merawat sungai, dan melindungi laut—sebagai wujud tanggung jawab ekologis.
Di Kalimantan Barat, pesan ini bukan sekadar wacana. Kita hidup di tanah yang pernah diselimuti kabut asap, sungai yang tercemar, hutan yang menyusut, dan ruang hidup masyarakat yang terus terdesak. Kita menyaksikan bagaimana kerakusan atas nama investasi, pembiaran atas nama pertumbuhan, dan kelalaian atas nama kebiasaan perlahan menggerus keseimbangan.
Jika Ramadhan hanya berhenti pada ritual pribadi, sementara kerusakan terus berlangsung di sekitar kita, maka ada yang belum selesai dalam pemahaman kita tentang takwa.
Takwa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Takwa menuntun keberanian menolak perusakan, menguatkan komitmen merawat kehidupan, dan menggerakkan kita berdiri di pihak yang menjaga bumi.
Sebagai umat beriman, kita tidak boleh netral terhadap kerusakan. Karena Al-Qur’an sudah jelas: kerusakan bukan takdir alam, melainkan akibat tangan manusia.
Maka Ramadhan ini, mari kita naikkan derajat puasa kita—dari sekadar menahan diri menjadi gerakan memperbaiki. Dari ibadah individual menuju tanggung jawab kolektif. Dari kesalehan spiritual menuju kesalehan ekologis.
Bumi yang kita jaga hari ini adalah warisan iman bagi generasi yang akan datang. Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
