WhatsApp Image 2026-04-11 at 08.38.19

(Oleh : Mei Purwowidodo)

Pemberitaan tentang jalan hampir selalu cepat tersorot di media sosial. Mengapa? Karena kehidupan manusia sejatinya dimulai dari mobilitas—pergerakan dari satu tempat ke tempat lain. Jalan bukan sekadar infrastruktur, melainkan urat nadi yang menghubungkan aktivitas ekonomi, sosial, hingga budaya masyarakat.

Ketika jalan rusak, yang terganggu bukan hanya kenyamanan, tetapi juga distribusi barang, akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga interaksi sosial.Maka wajar jika isu jalan menjadi sangat sensitif dan mudah menarik perhatian publik.

Di Kalimantan Barat, tantangannya menjadi lebih kompleks.

Wilayah yang luas dengan 14 kabupaten/kota membutuhkan jaringan jalan yang panjang dan merata.Sementara itu, tanggung jawab pengelolaan jalan terbagi antara pemerintah pusat (jalan negara), provinsi, dan kabupaten/kota.

Sayangnya, pembagian ini belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat, sehingga sering kali semua keluhan diarahkan pada satu pihak saja.

Di sisi lain, pembangunan dan pemeliharaan jalan membutuhkan biaya yang sangat besar.

Dengan keterbatasan anggaran—meski terlihat besar seperti APBD sekitar 6 triliun—tetap diperlukan skala prioritas. Tidak semua ruas jalan bisa diperbaiki sekaligus. Harus ada tahapan, perencanaan, dan waktu yang tidak singkat.

Di sinilah letak dilemanya.

Di satu sisi, masyarakat membutuhkan jalan yang layak sekarang juga. Di sisi lain, pemerintah harus mengelola keterbatasan anggaran dan kewenangan secara bijak.

Maka, setiap pemimpin yang bertanggung jawab atas infrastruktur jalan pasti berada dalam posisi yang tidak mudah.

Namun realitas ini sering kali menjadi komoditas politik.

Keluhan masyarakat tentang jalan kerap “digoreng” untuk menyerang pihak tertentu, tanpa melihat persoalan secara utuh.

Padahal, solusi atas persoalan jalan bukan hanya soal kritik, tetapi juga soal pemahaman, kesabaran, dan keberlanjutan kebijakan.

Pada akhirnya, membangun jalan bukan sekadar membangun fisik, tetapi juga membangun kesadaran bersama—bahwa proses membutuhkan waktu, dan kemajuan harus ditempuh langkah demi langkah.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *