ChatGPTImage22Apr202610.16.0

(Oleh: Ely Nurhidayati*)

Kesejahteraan sebuah bangsa ternyata tidak melulu soal kemegahan infrastruktur atau angka pertumbuhan ekonomi yang kaku di atas kertas. Ada elemen halus yang membuat warga tetap merasa “penuh” secara batin di tengah hiruk-pikuk kota. Jika di banyak negara maju kebahagiaan sering kali diukur dari seberapa privat ruang yang dimiliki, di berbagai sudut dunia lain kebahagiaan justru muncul dari seberapa inklusif warga berbagi ruang hidup dengan makhluk lain. Ini adalah manifestasi dari konsep Soft City (David Sim, 2019), di mana kota tidak hanya dibangun dari beton, melainkan dari memori dan kasih sayang yang membekas di dalamnya.

Kenangan kolektif ini pulalah yang menghidupkan stasiun Shibuya di Jepang melalui kisah Hachiko, anjing setia yang menunggu tuannya meski sang tuan telah tiada; sebuah pengingat bahwa ada cinta yang melampaui logika waktu. Kedalaman ikatan batin ini pun sering kali menjadi jalan penyembuhan bagi jiwa manusia yang rapuh. Kita melihatnya dalam kisah nyata James Bowen, seorang tunawisma di Inggris yang berjuang melawan kecanduan narkoba, yang hidupnya terselamatkan berkat kehadiran Bob, kucing liar yang setia menemaninya setiap hari saat mengamen di jalanan. Kehadiran hewan terbukti bukan sekadar peliharaan, melainkan pendamping pemulihan yang mampu membangkitkan kembali martabat dan keinginan seseorang untuk memperbaiki hidup.

Ketulusan ini bahkan melampaui batas spesies, sebagaimana kisah Rico, seekor kucing di Maroko yang dijuluki “kucing perawat” karena kebiasaannya memeluk dan membersihkan hewan-hewan lain yang sedang sakit atau pasca-operasi di klinik hewan. Fenomena ini membuktikan bahwa hewan memiliki empati bawaan yang mampu mendukung proses penyembuhan, baik bagi manusia maupun sesamanya. Ketulusan emosional inilah yang kemudian mengkristal menjadi kebijakan formal di beberapa negara seperti Turki melalui Undang-Undang Perlindungan Hewan No. 5199. Namun di belahan Asia seperti Indonesia, koeksistensi ini tumbuh melalui kesadaran kolektif komunal. Tanpa harus menunggu regulasi resmi, warga kota secara organik membangun titik-titik pemberian makan mandiri sebagai bentuk urbanisme batin.

Fenomena ini terasa sangat nyata di lingkungan kampus seperti UI, ITB, atau IPB. Interaksi positif dengan hewan secara signifikan mampu menurunkan kadar hormon kortisol (stres) dan meningkatkan oksitosin dalam otak manusia (Beetz et al., 2012). Di sana, kucing jalanan menjadi bagian dari komunitas pendidikan melalui inisiatif mandiri mahasiswa dan dosen yang bertransformasi menjadi simpul kasih sayang. Kehadiran mereka menciptakan ruang teduh yang membuktikan bahwa lingkungan belajar yang sehat berbanding lurus dengan bagaimana manusia memperlakukan kehidupan di sekitarnya. 

Secara global, hal ini sejalan dengan pendekatan Multispecies Ethnography (Kirksey & Helmreich, 2010), mirip dengan fenomena di London melalui proyek Hedgehog Street atau Bee Stops di Utrecht Belanda. Segala upaya ini selaras dengan hipotesis Biophilia (Edward O. Wilson, 1984) mengenai kecenderungan alami manusia untuk terkoneksi dengan alam demi keseimbangan psikologisnya. Dari kacamata sosiologis, hal ini menunjukkan kekuatan solidaritas sosial atau Asabiyah (Ibnu Khaldun, 1377) yang melampaui batas spesies. Sebaliknya, kota yang terlalu mekanistik dan menerapkan kebijakan zero-tolerance terhadap hewan sering kali membuat warganya merasa terasing, sebagaimana hilangnya “nyawa” organik di lingkungan urban (Jane Jacobs, 1961).

Budaya ramah hewan mendidik kita bahwa sedikit ketidakteraturan organik justru memberikan napas bagi kota agar tidak terasa seperti mesin yang gersang. Kebahagiaan warga lahir dari kapasitas untuk berempati; sebuah kepuasan batin yang muncul saat kita merawat kehidupan lain tanpa mengharapkan imbalan materi. Identitas visual kota masa depan seharusnya tidak hanya bersandar pada monumen batu yang diam, melainkan pada dinamika makhluk hidup yang bergerak bebas. Rasa saling percaya antar-spesies ini menjadi bukti bahwa harmoni batin warga telah mencapai tahap yang dalam, di mana rasa aman tidak lagi dijaga oleh pagar tinggi, melainkan oleh etika saling menghargai.

Kita belajar bahwa kota yang bahagia adalah kota yang memiliki kepekaan sosial dan saling perduli. Budaya merawat makhluk hidup di ruang publik menunjukkan bahwa indeks kebahagiaan bukan soal apa yang kita peroleh dari kota, melainkan soal apa yang sanggup kita berikan kepada sesama. Perjalanan dari kesetiaan Hachiko, ketulusan Bob, hingga empati Rico mengingatkan kita bahwa di tengah dinamika dan kesibukan kota, sejahtera itu hadir saat kita menyadari bahwa setiap bentuk kehidupan memiliki hak untuk bahagia, diterima, dan terlindungi melalui kasih sayang yang adil.


*Penulis adalah Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *