WhatsAppImage2026-05-06at14.06.12

(Oleh: Jaka Kembara/Aktifis Swandiri Sintang)

Dalam tulisannya Aldo Topan Rivaldi, seorang kawan aktifis dari Swandiri Inisiatif Sintang (SIS) yang berjudul Berserikat atau Tersingkir: Jalan Petani Non-Sawit di Sintang dan Melawi, menggambarkan bagaimana persoalan utama dalam dinamika petani non-sawit di Sintang dan Melawi bukan terletak pada kurangnya kerja atau pengetahuan, melainkan pada ketidakmampuan melihat bahwa mereka sedang berada dalam struktur yang timpang. Dalam konteks tersebut menggelitik penulis untuk mengulas bagaimana peran pengorganisir dalam membangun kesadaran kritis di tingkat komunitas agar dapat melihat dan memahami posisi komunitas dalam struktur yang ada. Dapat kita pahami Bersama, membangun kesadaran kritis di tingkat komunitas bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu atau dua kali pertemuan dengan penyampaian materi semata. Proses tersebut dilakukan dengan perlahan yang menuntut kehadiran, kepekaan, dan kemampuan membaca realitas yang sering kali dianggap biasa oleh masyarakat itu sendiri atau dianggap satu kasus biasa ditemui dalam kerangka teori yang dipelajari oleh pengorganisir itu sendiri.

Beranjak dari tulisan tersebut, peran pengorganisir menjadi penting dalam membantu membangun kesadaran kritis komunitas, untuk menyadari bahwa pengalaman sehari-hari mereka terkait harga yang rendah, ketergantungan pejualan hasil produksi pada tengkulak, tidak adanya posisi tawar dalam struktur dan rantai pasar bukanlah nasib alamiah tetapi hasil dari sistem yang tidak adil. Proses membangun kesadaran kritis ini tidak dilakukan dengan cara menggurui, melainkan melalui proses panjang yang membongkar pengalaman kolektif. Sehingga ketika individu dalam komunitas mulai menyadari bahwa mereka kalah bukan karena lemah, tetapi karena berjalan sendiri-sendiri. Maka sesungguhnya, proses advokasi telah memasuki tahap yang paling mendasar yaitu perubahan cara pandang.

Pada tahap selanjutnya jika tanpa wadah kesadaran saja tidak cukup, kesadaran hanya akan berhenti sebagai keluhan bersama. Dalam tulisannya, Aldo ttopan membahas bahwa selama petani bergerak sendiri, mereka akan terus mengalami tiga kekalahan yang sama yaitu kalah harga, kalah kebijakan, dan kalah narasi. Peran pengorganisir harus mampu menerjemahkan realitas ini ke dalam bahasa yang dipahami oleh komunitas, sehingga kebutuhan untuk berserikat tidak terasa sebagai agenda luar, tetapi sebagai kebutuhan yang lahir dari kesadaran mereka sendiri. Karena itu, langkah berikutnya yang harus dilakukan oleh pengorganisir adalah memperkuat kolektivitas. Pengorganisiran bukan hanya sekadar membentuk kelompok secara administratif, tetapi membangun rasa saling percaya akan kepentingan bersama, dan tujuan kolektif. Dalam konteks ini adalah dengan membangun cara komunitas bekerja,yaitu dengan menggeser cara kerja dari individu ke menjadi kerja kolektif, yang awalnya dari menjual sendiri-sendiri menjadi menjual Bersama sehingga yang awalnya menghadapi pasar secara lemah karena bekerja secara individu menjadi tangguh menghadapi pasar dengan kekuatan bersama.

Berikutnya, memperkuat kolektivitas juga membangun fungsi nyata dari organisasi itu sendiri. Kelompok atau serikat tidak boleh berhenti hanya sebagai ruang pertemuan saja akan tetapi harus menjadi alat ekonomi dan alat perjuangan. Wadah tersebut harus mampu menjawab persoalan seperti bagaimana petani bisa menyimpan hasil produksi, menentukan standar harga jual, pengontrol kualitas produksi, membuka akses pasar, hingga bernegosiasi dengan pihak luar. Dalam tahap ini, pengorganisir harus mampu berperan sebagai fasilitator yang membantu kelompok menemukan mekanisme kerja yang sesuai dengan konteks mereka, bukan memaksakan model dari luar. 

Merujuk pada tulisan kawan tersebut, selama ini banyak komoditas lokal seperti padi, madu hutan, rotan, atau hasil hutan bukan kayu diposisikan sebagai tradisional dan kurang bernilai. Padahal justru di sanalah kekuatan ekonomi dan ekologis desa berada. Pada situasi ini pengorganisir perlu membantu komunitas merebut kembali narasi bahwa apa yang mereka kerjakan bukan sesuatu yang tertinggal, tetapi fondasi penting bagi keberlanjutan. Ketika narasi berubah, cara komunitas melihat dirinya juga berubah, maka Pengorganisir juga membantu membangun identitas dan kebanggaan komunitas. 

Pada akhirnya, kerja pengorganisir bukan hanya membentuk kelompok, tetapi membangun kekuatan sosial. Kesadaran kritis tanpa organisasi akan melemah. Organisasi tanpa kesadaran akan kosong. Keduanya harus berjalan beriringan. Ketika komunitas mulai sadar akan posisinya, lalu bergerak secara kolektif dengan tujuan yang jelas, di situlah perubahan mulai terjadi bukan karena intervensi luar, tetapi karena kekuatan yang tumbuh dari dalam komunitas itu sendiri./

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *