BERIKAN KEPERCAYAAN UNTUK PRABOWO MELAWAN TEKANAN KAPITALIS GLOBAL
(Oleh: Mei Purwowidodo)
Sebagai bangsa yang besar, kita perlu belajar melihat situasi dengan lebih jernih dan tidak mudah terpancing oleh dinamika sesaat.
Apa yang dilakukan pemerintahan adalah proses panjang yang membutuhkan waktu, konsistensi, dan dukungan kolektif dari rakyatnya. Karena itu, memberi ruang dan waktu kepada Presiden Prabowo Subianto untuk bekerja menjadi bagian dari kedewasaan demokrasi.
Di tengah kondisi dunia hari ini, Indonesia memang sedang berada dalam pusaran liberalisasi perdagangan global.
Persaingan ekonomi tidak lagi sekadar jual beli barang, tetapi sudah menjadi pertarungan kepentingan antar kekuatan modal dunia. Kapital global bergerak sangat cepat, mempengaruhi pasar uang, bursa saham, harga komoditas, hingga arah kebijakan negara berkembang.
Dalam situasi seperti itu, setiap kebijakan negara yang dianggap mengganggu kepentingan pasar bebas pasti akan menghadapi tekanan. Fluktuasi nilai tukar rupiah, gejolak pasar saham, hingga isu embargo komoditas strategis seperti CPO dan batu bara sering kali bukan hanya persoalan ekonomi murni, tetapi juga bagian dari pertarungan kepentingan global.
Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa negara tidak boleh sepenuhnya menyerahkan nasib ekonominya kepada mekanisme pasar liberal. Negara wajib hadir melindungi kepentingan nasional, menjaga stabilitas, dan memastikan sumber daya alam Indonesia memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyatnya sendiri.
Kebijakan satu pintu ekspor CPO misalnya, dapat dipandang sebagai upaya memperkuat kendali negara terhadap komoditas strategis nasional. Tentu kebijakan seperti ini akan memunculkan perdebatan. Ada yang melihatnya sebagai bentuk proteksi berlebihan, ada pula yang menilai sebagai langkah strategis menjaga kedaulatan ekonomi bangsa. Dalam negara demokrasi, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar.
Namun yang paling penting adalah bagaimana seluruh elemen bangsa tetap menjaga persatuan dan ketenangan. Jangan sampai masyarakat ikut terseret dalam kepanikan atau narasi yang justru melemahkan kepercayaan terhadap bangsa sendiri. Kita cukup fokus bekerja sesuai bidang masing-masing, memperkuat produktivitas, menjaga daya tahan ekonomi keluarga, dan mendukung stabilitas nasional.
Indonesia tidak akan menjadi bangsa besar hanya karena kekayaan alamnya, tetapi karena keberanian rakyatnya menghadapi tekanan dunia. Ketika negara dan rakyat mampu berjalan bersama, maka tekanan sebesar apa pun dapat dihadapi dengan kepala tegak.
Pada akhirnya, perjuangan menjaga kedaulatan ekonomi bukan hanya tugas pemerintah semata, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh anak bangsa. Demi menjaga martabat negara, memperkuat pendapatan nasional, dan memastikan masa depan Indonesia tetap berdiri kokoh di tengah kerasnya persaingan global.
