ChatGPTImage12Jun202611.06.5

(Oleh: Al – Fakir)

Tuntunan Al-Qur’an dan hadits kepada umat islam yang sering kita lupakan,dan kita abaikan terlebih di dunia moderen yang serba cepat dan terus berkembang pesan tentang moral dan sikap hidup umat islam dalam bermuamalah. (interaksi sosial).

Islam mengajarkan agar seorang mukmin lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada mencari-cari kesalahan orang lain.

1. Jangan Sibuk Mencari Aib Orang Lain

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujarat, 12)

Ayat ini melarang tajassus (mencari-cari aib dan kesalahan orang lain). Sering kali seseorang sangat tajam melihat kekurangan orang lain, tetapi lalai melihat kekurangannya sendiri.

2. Introspeksi Diri Sebelum Menilai Orang Lain

Allah  berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr,18)

Ayat ini mengajarkan muhasabah (introspeksi diri). 

Seorang mukmin hendaknya lebih banyak menghitung kesalahan dirinya daripada menghitung kesalahan orang lain.

3. Semua Manusia Pernah Berbuat Salah

Rasulullah  bersabda:”Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Yang membedakan adalah siapa yang mau mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah dengan taubat.

4. Jangan Merasa Diri Paling Baik

Allah berfirman: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia (Allah) lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm,32)

Merasa diri paling baik adalah pintu kesombongan. Seorang mukmin hendaknya beramal saleh, tetapi tetap rendah hati dan takut amalnya tidak diterima.

5. Rendah Hati Adalah Sifat yang Dicintai Allah.

Rasulullah  bersabda: “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Tawadhu’ (rendah hati) bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan, tetapi menyadari bahwa semua kelebihan adalah karunia Allah.

6. Allah Melihat Hati dan Niat

Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Karena itu, ukuran kemuliaan di sisi Allah bukan penampilan, jabatan, kekayaan, atau banyaknya komentar terhadap orang lain, melainkan kebersihan hati, keikhlasan niat, dan ketaatan kepada-Nya.

Hikmah

Pesan di atas dapat diringkas dalam tiga sikap seorang mukmin: Menutup aib saudara muslim, bukan menyebarkannya.mMemperbaiki diri sendiri, sebelum mengoreksi orang lain. Bersikap tawadhu’, karena hanya Allah yang mengetahui keadaan hati manusia.

Sebagaimana perkataan Umar bin Khattab: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang.”

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang lebih sibuk melihat kekurangan diri sendiri daripada mencari kekurangan orang lain, serta menghiasi hati kita dengan keikhlasan, tawadhu’, dan husnuzon kepada sesama. Aamiin.

Barakallahu fikum aj’ main

Sukamiskin

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *