WhatsAppImage2026-07-19at20.32.42

(Oleh: Aldo Topan Rivaldi/Aktivis Swandiri Sintang)

Saya lahir dan besar di Sintang. Papa saya orang Melawi asli, berasal dari Sayan. Namun kalau boleh jujur, kami bukan keluarga yang rajin pulang kampung. Kadang saya malah lebih sering mendengar nama-nama seperti Sayan, Sokan, Pinoh, Nyadom, atau Nanga Pak dari cerita orang tua dan kerabat dibanding melihatnya secara langsung.

Seperti kebanyakan anak muda, dulu saya menganggap cerita tentang kerajaan, panembahan, pangeran, dan silsilah keluarga hanya sekadar kisah lama yang biasa muncul saat kumpul keluarga. Menarik untuk didengar, tetapi terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Pandangan itu mulai berubah ketika saya beberapa kali bekerja di wilayah Melawi. Dalam pekerjaan mendampingi petani-petani komoditas non-kelapa sawit pada sebuah proyek yang didukung lembaga dari luar negeri, saya justru sering menemukan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar jauh dari kehidupan masyarakat. Kadang pertemuan yang awalnya membahas kelompok tani, kebun, atau hasil panen, tiba-tiba berubah menjadi obrolan tentang asal-usul kampung, silsilah keluarga, cerita panembahan, hingga kisah kerajaan yang pernah berdiri di sepanjang Sungai Melawi. Jujur saja, saya datang untuk urusan pertanian, tetapi pulangnya sering membawa cerita sejarah.

Dari berbagai tuturan keluarga, cerita para tetua kampung, dan sejumlah catatan sejarah yang masih dapat ditelusuri, muncul kisah mengenai Panembah Kepangeranan Melawi–Pinoh, sebuah pemerintahan tradisional yang menurut tradisi lisan pernah memainkan peranan penting di sepanjang aliran Sungai Melawi dan Sungai Pinoh.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menetapkan kebenaran mutlak atas seluruh peristiwa yang diceritakan. Sebagian informasi berasal dari tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, sementara sebagian lainnya dapat ditelusuri melalui catatan sejarah regional. Namun seperti halnya aliran Sungai Melawi yang panjang dan berkelok, sejarah daerah ini juga tersusun dari banyak cerita yang saling bertemu dan melengkapi satu sama lain.

Asal-Usul Panembah Kepangeranan Melawi–Pinoh

Menurut tradisi lisan yang berkembang di lingkungan keluarga dan masyarakat setempat, tokoh yang dianggap sebagai perintis berdirinya Kerajaan Melawi adalah Raden Matah Pangeran Kerta Dzuda, yang dikenal dengan gelar Pangeran Tata Raja (Braja). Ia disebut sebagai putra dari Pangeran Prabu Tua yang bergelar Panembahan Derut.

Dalam tradisi keluarga juga disebutkan bahwa Pangeran Tata Raja (Braja) memiliki hubungan darah dengan lingkungan Kesultanan Kotawaringin, bahkan disebut sebagai saudara kandung dari seorang Pangeran Adipati Tuha Raja Kesultanan Kotawaringin V. Kisah ini hidup dalam silsilah dan tradisi lisan keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sekitar tahun 1748, Pangeran Tata Raja (Braja) dikisahkan meninggalkan Kesultanan Kotawaringin dan berhijrah ke wilayah pedalaman yang dialiri Sungai Melawi. Sekitar tahun 1750, ia mulai membangun pusat pemerintahan baru sekaligus menyusun dasar-dasar pemerintahan yang kelak berkembang menjadi Kerajaan Melawi.

Berdirinya pemerintahan ini tidak terjadi dalam ruang kosong. Pada masa itu, wilayah pedalaman Kalimantan telah terhubung oleh jaringan perdagangan sungai, hubungan kekerabatan antarkeluarga bangsawan, serta pengaruh berbagai kerajaan dan kesultanan yang berkembang di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

Sistem Menata dan Raja Delapan

Dalam tradisi lisan masyarakat Melawi, salah satu warisan penting dari Pangeran Tata Raja adalah penyusunan sistem pemerintahan yang dikenal dengan istilah Menata.

Menata tidak hanya dipahami sebagai upaya mengatur pemerintahan, tetapi juga mencakup penyusunan hukum adat, pembagian wilayah kekuasaan, hubungan antar-pemimpin lokal, serta tata kelola masyarakat di sepanjang Sungai Melawi dan Sungai Pinoh.

Karena peran tersebut, Pangeran Tata Raja (Braja) juga dikenal dengan sebutan Pangeran Tata Braja Tuha, yaitu tokoh yang dianggap menata dan menyusun dasar pemerintahan di wilayah Melawi.

Dalam perkembangannya, sistem pemerintahan ini dikenal sebagai Raja Delapan, yaitu jaringan pemerintahan yang terdiri dari sejumlah wilayah dan pemimpin lokal yang saling terhubung dalam satu tatanan politik yang lebih luas.

Perpindahan Pusat Pemerintahan

Tradisi lisan menyebut bahwa pusat pemerintahan kerajaan mengalami beberapa kali perpindahan.

Pusat pemerintahan mula-mula berada di wilayah Nanga Pak dan Jengala Binjai, kemudian berpindah ke Lengkong Nyadom, selanjutnya ke Madong, lalu ke Kuta Baru, dan akhirnya berpusat di Sokan.

Perpindahan tersebut menunjukkan bagaimana sungai menjadi jalur utama mobilitas dan pemerintahan pada masa itu. Berbeda dengan masa sekarang yang bergantung pada jalan darat, masyarakat pada masa kerajaan lebih banyak menggunakan sungai sebagai jalur transportasi, perdagangan, dan komunikasi.

Sejak awal berdirinya kerajaan, pusat pemerintahan disebut berada di sebuah istana yang dikenal dengan nama Istana Agung Tanah Merah Lawai. Dalam perkembangan penyebutan lokal, nama Lawai kemudian berkembang menjadi Melawei dan pada akhirnya dikenal sebagai Melawi.

Para Pemimpin Raja Delapan

Dalam tradisi pemerintahan Raja Delapan, sejumlah tokoh dan wilayah disebut memiliki kedudukan penting.

Wilayah Nanga Pak, Jengala Binjai, Lengkong Nyadom, Menunuk, Madong, Kuta Baru, dan Pinoh disebut berada di bawah kepemimpinan Abang Gajah Abubakar Paku Negara Panembah Tajor Alam I (Panembah Cahaya) bin Adipati Mangku Milek.

Tradisi keluarga menyebut bahwa Abang Gajah memiliki hubungan kekerabatan dengan lingkungan Kesultanan Sintang, yaitu sebagai saudara dari Sultan Nata, Abang Nata, dan Muhammad Syamsuddin. Dalam tradisi yang sama, Abang Gajah juga disebut sebagai menantu dari Pangeran Tata Raja (Braja).

Wilayah Nanga Libas disebut berada di bawah kepemimpinan Abang Anjan yang bergelar Pangeran Ira Tuha.

Sementara itu, wilayah Sokan dalam tradisi lisan disebut dipimpin oleh Abang Gajah Raden Nata yang bergelar Pangeran Nata.

Adapun wilayah Gelata dan Sijau juga termasuk dalam jaringan pemerintahan yang terhubung dengan pusat kekuasaan Raja Delapan.

Melawi di Antara Tiga Kesultanan

Salah satu bagian menarik dari tradisi lisan Melawi adalah pandangan bahwa wilayah ini pernah menjadi titik pertemuan sekaligus perebutan pengaruh tiga kekuatan besar, yaitu Kesultanan Sintang, Kesultanan Banjar, dan Kesultanan Kotawaringin.

Letak Melawi yang strategis di jalur sungai menjadikannya penting secara politik maupun ekonomi. Dalam tradisi masyarakat, hubungan perkawinan antarkeluarga bangsawan sering dilakukan untuk menjaga keseimbangan kekuasaan dan menghindari konflik terbuka di antara kerajaan-kerajaan tersebut.

Melalui hubungan darah dan perkawinan inilah terbentuk jaringan kekerabatan yang menghubungkan berbagai keluarga bangsawan di wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

Masa Belanda dan Perubahan Administrasi

Memasuki abad ke-19, pengaruh kolonial Belanda semakin kuat di Kalimantan.

Dalam perkembangan sejarah regional, wilayah Melawi termasuk kawasan yang berada dalam lingkup klaim Kesultanan Banjar. Setelah Perjanjian Karang Intan tahun 1817 antara Sultan Sulaiman dan pemerintah Hindia Belanda, wilayah-wilayah yang sebelumnya berada dalam pengaruh Banjar, termasuk Lawai atau Melawi, masuk ke dalam lingkup kekuasaan kolonial.

Perjanjian lanjutan pada tahun 1826 antara Sultan Adam dan pemerintah Belanda semakin memperkuat posisi kolonial atas wilayah tersebut.

Seiring proses konsolidasi kekuasaan kolonial, Belanda mulai membangun sistem administrasi yang lebih terstruktur. Melawi kemudian ditempatkan dalam wilayah administratif yang dikenal sebagai Onderafdeeling Melawi, yang berfungsi mengawasi jalur-jalur sungai strategis di pedalaman Kalimantan.

Dalam tradisi lisan masyarakat, masa kolonial juga dikenang sebagai periode ketika pusat pemerintahan tradisional mengalami berbagai penyesuaian. Generasi berikutnya menyebut bahwa kepemimpinan kerajaan berada di tangan Gusti Muhammad Arif yang bergelar Pangeran Agung Kerta Sari.

Pada masa ini, kedudukan pemerintahan yang sebelumnya tersebar disebut mulai dilebur menjadi satu kesatuan yang berpusat di Sokan. Istana Agung Tanah Merah Melawi tetap menjadi simbol pemerintahan tradisional yang dihormati masyarakat.

Suka Raja, Sokan, dan Neo Swapraja Pinoh Landen

Menurut tuturan yang berkembang di masyarakat, wilayah Sokan pernah dikenal dengan sebutan Suka Raja. Sebagian masyarakat meyakini bahwa penyebutan tersebut kemudian berkembang menjadi nama Sokan yang dikenal hingga sekarang.

Dalam tradisi lisan juga disebutkan bahwa pada masa Belanda dan Jepang, wilayah Sokan tetap memiliki kedudukan penting sebagai pusat pemerintahan tradisional.

Karena kedudukannya tersebut, wilayah Sokan kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan Raja Delapan. Sementara itu, kedudukan administratif lainnya berada di Kuta Baru (Kota Baru) yang dalam tradisi lokal disebut sebagai Neo Swapraja Pinoh Landen.

Meskipun istilah-istilah tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut melalui arsip dan dokumen sejarah, keberadaannya tetap menjadi bagian penting dari ingatan kolektif masyarakat Melawi.

Warisan yang Terus Mengalir

Hari ini, kerajaan-kerajaan tersebut mungkin tidak lagi menjalankan fungsi politik sebagaimana pada masa lalu. Namun jejaknya masih hidup dalam nama kampung, tradisi adat, cerita keluarga, dan ingatan masyarakat.

Kisah Panembah Kepangeranan Melawi–Pinoh memperlihatkan bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau dokumen resmi. Sejarah juga hidup dalam cerita yang diwariskan dari orang tua kepada anaknya, dari tetua kampung kepada generasi muda, dan dari satu keluarga kepada keluarga lainnya.

Sebagai orang Sintang yang memiliki akar keluarga di Sayan, Melawi, saya menyadari bahwa sejarah lokal sering kali tersimpan di tempat-tempat yang sederhana: di beranda rumah, di tepian sungai, di warung kopi, atau dalam percakapan panjang bersama para tetua kampung. Terkadang ia muncul ketika kita tidak sedang mencarinya. Saya sendiri beberapa kali mengalaminya saat bekerja di Melawi. Awalnya membahas petani dan komoditas, ujung-ujungnya malah pulang membawa cerita kerajaan.

Mungkin itulah cara sejarah bertahan di daerah-daerah seperti Melawi. Ia tidak selalu ditulis dalam buku tebal atau disimpan di gedung arsip yang megah. Ia hidup dalam ingatan masyarakatnya.

Dan selama cerita-cerita itu masih terus dituturkan, sejarah Melawi akan tetap mengalir, sebagaimana Sungai Melawi yang sejak dahulu menjadi saksi perjalanan panjang masyarakatnya.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *