WhatsAppImage2026-08-19at14.57.45

(Oleh: Aldo Topan Rivaldi/ Aktifis Swandiri Inisiatif Sintang)

Saya datang ke Hutan Desa Nanga Ngeri bukan untuk mencari ketenangan.

Saya datang untuk bekerja.

Bersama LPHD Nanga Ngeri, kami melakukan inventarisasi biodiversitas dan zonasi di areal Hutan Desa. Pekerjaan yang secara teknis mungkin terdengar sederhana: berjalan masuk ke dalam hutan, mencatat kondisi tutupan, mengidentifikasi keanekaragaman hayati, memetakan lokasi-lokasi penting, menentukan wilayah perlindungan, dan melihat ruang-ruang yang masih dapat dimanfaatkan masyarakat.

Tetapi saya pulang membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar data lapangan.

Saya membawa sebuah kegelisahan.

Sekaligus sebuah kesadaran.

Sudah beberapa tahun saya tidak masuk hutan. Terakhir kali saya melakukan pekerjaan serupa di Kabupaten Sanggau. Maka ketika kembali menapakkan kaki ke dalam hutan, ada semacam antusiasme yang sulit saya jelaskan.

Namun Nanga Ngeri memberi pengalaman yang berbeda.

Kami masuk semakin jauh, mencari bagian-bagian hutan yang masih relatif utuh untuk melihat kemungkinan wilayah perlindungan. Di sana kami menemukan tempat-tempat yang oleh masyarakat dipandang penting: tembawang, gupung, keramat, dan apa yang mereka sebut sebagai Pasar—bekas kawasan pemakaman tua dari masa sebelum agama-agama samawi hadir di wilayah tersebut.

Bagi mata yang hanya melihat hutan sebagai tutupan lahan, mungkin tempat-tempat itu hanyalah koordinat.

Tetapi bagi masyarakat Nanga Ngeri, koordinat tersebut memiliki ingatan.

Memiliki cerita.

Memiliki batas.

Dan memiliki sesuatu yang harus dihormati.

Di dalam hutan itu mengalir sungai-sungai kecil. Saat kami berada di sana, kemarau panjang sedang melanda Kalimantan Barat. Kekeringan terjadi di banyak tempat. Titik-titik api bermunculan. Kabut asap menjadi bagian dari keseharian banyak masyarakat.

Tetapi di dalam Hutan Desa Nanga Ngeri, air masih mengalir.

Memang debitnya mulai berkurang. Tetapi ia belum berhenti.

Sementara di beberapa desa sekitar, air benar-benar menghilang hingga sebagian warga harus mengungsi, masyarakat Nanga Ngeri masih memiliki mata air untuk kebutuhan air minum dan sungai untuk kebutuhan sehari-hari.

Saya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan bahwa seluruh perbedaan itu semata-mata disebabkan oleh keberadaan hutan yang masih terjaga. Ekologi selalu jauh lebih kompleks daripada satu sebab dan satu akibat.

Tetapi sulit bagi saya untuk mengabaikan hubungan yang begitu nyata:

hutan yang masih berdiri menyediakan ruang bagi air untuk tetap bertahan.

Dan di tengah kemarau yang panjang, saya mulai memahami bahwa hutan bukan sekadar kumpulan pohon.

Ia adalah infrastruktur kehidupan yang jauh lebih tua daripada semua infrastruktur yang kita bangun.

Kami berjalan semakin jauh.

Suara burung terdengar hampir sepanjang perjalanan. Kami menemukan beberapa sarang burung pelatuk. Ada jejak babi hutan. Ada bekas cakar beruang pada batang pohon.

Dan pada suatu waktu, kami mendengar suara kelompok lempiau.

Menurut warga yang pernah melihatnya, jumlahnya sekitar tiga belas ekor.

Tiga belas kehidupan yang mungkin tidak pernah tahu bahwa manusia sedang sibuk menyusun peta, membuat titik koordinat, menentukan zona, dan berdebat tentang bagaimana hutan seharusnya dikelola.

Mereka hanya hidup.

Dan mungkin justru karena itu, saya merasa malu.

Karena manusia sering kali datang kepada alam dengan keyakinan bahwa manusialah pusat dari segala sesuatu.

Kami menentukan mana yang bernilai.

Kami menentukan mana yang boleh diambil.

Kami menentukan mana yang harus dilindungi.

Kami bahkan sering merasa berhak menentukan apakah sebuah hutan berguna atau tidak.

Padahal sebelum manusia membuat kategori-kategori itu, hutan telah lebih dahulu menjadi rumah bagi kehidupan.

Hari ketiga menjadi titik balik bagi saya.

Hari itu rute kami terasa seperti sesuatu yang tidak masuk akal.

Kurang lebih 17 kilometer kami berjalan kaki dan melewati tiga bukit. Pada bukit ketiga, tubuh saya mulai menyerah.

Kaki saya keram.

Tenaga hampir habis.

Saya meminta kawan-kawan dari LPHD Nanga Ngeri untuk melanjutkan perjalanan dan tidak perlu menunggu saya. Saya akan beristirahat sebentar.

Saya berhenti di tengah bukit.

Di depan saya hanya lalang.

Ketika saya menoleh ke bawah, saya melihat lereng yang curam. Tetapi di balik kecuraman itu, terbentang hamparan hutan yang begitu luas.

Matahari sedang terik.

Angin berembus perlahan.

Dan anehnya, di tengah kelelahan itu, saya justru merasa sangat tenang.

Saya duduk.

Melihat hutan.

Melihat kawan-kawan yang terus berjalan.

Melihat semangat dan keceriaan anggota LPHD yang sejak awal tidak banyak mengeluh, meskipun medan yang kami tempuh tidak mudah.

Saat itu banyak hal bercampur di kepala saya.

Tentang hutan.

Tentang manusia.

Tentang keserakahan.

Tentang deforestasi.

Tentang orang-orang yang dengan mudahnya menebang pohon yang membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun untuk tumbuh.

Tentang sungai yang dikotori.

Tentang tanah yang dibuka.

Tentang kehidupan yang perlahan hilang.

Dan tentang diri saya sendiri.

Saya kemudian bertanya kepada diri saya:

Apakah selama ini saya juga memandang alam hanya dari kepentingan manusia?

Pertanyaan itu terasa sederhana.

Tetapi justru karena sederhana, ia terasa menampar.

Selama ini saya memang berada di dalam kerja-kerja advokasi lingkungan. Saya melihat deforestasi sebagai persoalan yang harus dilawan. Saya melihat keserakahan atas sumber daya alam sebagai sesuatu yang harus dikritik.

Tetapi di bukit itu saya mulai menyadari sesuatu yang lebih dalam.

Mungkin persoalannya tidak hanya terletak pada orang yang menebang pohon.

Mungkin persoalannya bermula jauh sebelum kapak menyentuh batang pohon.

Ia bermula ketika manusia berhenti melihat pohon sebagai sesuatu yang memiliki makna selain nilai ekonominya.

Ia bermula ketika hutan berubah dari ruang kehidupan menjadi sekadar aset.

Dari rumah menjadi lahan.

Dari ekosistem menjadi komoditas.

Dari sesuatu yang dihormati menjadi sesuatu yang dihitung berdasarkan berapa banyak keuntungan yang dapat dikeluarkan darinya.

Di situlah saya teringat pada pemikiran Seyyed Hossein Nasr.

Dalam Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man, Nasr berbicara tentang krisis ekologis sebagai sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar persoalan teknis lingkungan. Ia mengkritik cara pandang modern yang semakin memisahkan manusia dari alam dan mereduksi alam menjadi sesuatu yang semata-mata material.

Bagi Nasr, alam memiliki dimensi yang lebih dalam.

Alam tidak hanya ada.

Alam juga bermakna.

Dan ketika manusia kehilangan kemampuan untuk melihat makna itu, alam perlahan kehilangan kesakralannya.

Saya mulai melihat pengalaman saya di Nanga Ngeri melalui cara pandang tersebut.

Masyarakat Nanga Ngeri sebenarnya telah memiliki sesuatu yang oleh dunia konservasi modern sering kali kita cari dengan istilah yang sangat rumit: batas terhadap eksploitasi.

Mereka mengenal kawasan yang mereka sebut sebagai hutan adat—bukan dalam pengertian administratif sebagaimana kategori hutan adat dalam kebijakan negara, karena kawasan itu belum memiliki penetapan formal sebagai Hutan Adat.

Tetapi bagi mereka, ada kawasan yang tidak boleh ditebang.

Tidak boleh sembarang membunuh binatang.

Dan di kawasan itu pula terdapat sumber air utama yang mengalir menjadi Sungai Sarai Ngeri.

Ada aturan.

Ada ingatan.

Ada penghormatan.

Ada konsekuensi.

Dan ada kesadaran bahwa hutan bukan hanya milik generasi yang hidup hari ini.

Salah seorang dari mereka mengatakan sesuatu yang terus terngiang di kepala saya:

“Kami akan menjaga hutan ini dan yang hidup di dalamnya apapun resikonya. Ini bukan demi kami saja. Ini demi kelangsungan hidup masyarakat dan anak cucu kami.”

Saya kira kalimat itu jauh lebih dalam daripada sekadar pernyataan konservasi.

Ia adalah sebuah pandangan dunia.

Hutan dipertahankan bukan hanya karena memiliki kayu.

Bukan hanya karena memiliki nilai karbon.

Bukan hanya karena di dalamnya terdapat biodiversitas.

Tetapi karena ada hubungan antara hutan, kehidupan manusia, kehidupan makhluk lain, air, masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Saya kemudian berpikir tentang perubahan yang sedang berlangsung di banyak tempat.

Dulu, masyarakat di berbagai wilayah Kalimantan mengenal hutan bukan hanya sebagai tempat mengambil hasil alam, tetapi juga sebagai ruang kebudayaan dan spiritualitas.

Ada tempat keramat.

Ada makam tua.

Ada pohon yang tidak boleh ditebang.

Ada kawasan yang tidak boleh diburu.

Ada sungai yang memiliki cerita.

Ada pantangan.

Ada ritual.

Ada ingatan leluhur.

Semua itu mungkin tampak sebagai sesuatu yang irasional bagi sebagian orang modern.

Tetapi mungkin kita terlalu cepat menyebutnya irasional.

Karena di balik berbagai tradisi itu terdapat sesuatu yang sangat rasional secara ekologis:

batas.

Batas terhadap keserakahan manusia.

Ketika sebuah hutan memiliki kesakralan, manusia tidak bebas melakukan apa saja terhadapnya.

Ada sesuatu yang membuat tangan berhenti.

Ada sesuatu yang membuat manusia berpikir dua kali sebelum menebang.

Ada sesuatu yang mengatakan:

“Tidak semua yang bisa diambil boleh diambil.”

Dan mungkin inilah salah satu hal yang perlahan hilang dari kehidupan modern.

Bukan hanya hutannya yang hilang.

Tetapi rasa hormat terhadap hutan.

Karena itu, saya mulai melihat konservasi dengan cara yang sedikit berbeda.

Selama ini kita terlalu sering berbicara tentang menyelamatkan hutan melalui angka.

Berapa hektare yang tersisa?

Berapa hektare yang terdeforestasi?

Berapa ton karbon yang tersimpan?

Berapa jenis satwa yang ditemukan?

Berapa luas kawasan yang harus dilindungi?

Semua itu penting.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa data, peta, zonasi, hukum dan kebijakan tidak penting.

Justru inventarisasi biodiversitas dan zonasi yang kami lakukan di Nanga Ngeri adalah bagian penting dari upaya membatasi tekanan terhadap hutan, sekaligus memastikan masyarakat tetap memiliki ruang untuk memanfaatkan hutan secara bijaksana.

Tetapi saya mulai bertanya:

Bagaimana kalau persoalan ekologis kita juga merupakan persoalan cara pandang?

Bagaimana kalau sebagian kerusakan alam terjadi karena manusia modern telah kehilangan kemampuan untuk memandang alam sebagai sesuatu yang layak dihormati, bukan sekadar sesuatu yang dapat dimanfaatkan?

Di titik itu saya memahami mengapa pemikiran Nasr terasa begitu dekat dengan pengalaman saya.

Krisis ekologis bukan hanya krisis hutan.

Ia juga krisis hubungan manusia dengan alam.

Dan lebih jauh lagi, ia adalah krisis spiritual manusia—krisis ketika manusia merasa dirinya terpisah dari kehidupan yang lain dan menempatkan dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu.

Mungkin karena itu, empat hari di Nanga Ngeri terasa seperti sebuah perjalanan yang berbeda.

Saya datang untuk melakukan inventarisasi biodiversitas.

Saya pulang dengan perasaan bahwa sebenarnya saya sedang melakukan inventarisasi terhadap diri saya sendiri.

Saya melihat burung.

Saya melihat jejak beruang.

Saya melihat babi hutan.

Saya mendengar lempiau.

Saya melihat sungai kecil yang tetap mengalir ketika banyak tempat lain mengalami kekeringan.

Saya melihat hutan yang tetap teduh di bawah terik matahari khatulistiwa.

Tetapi semakin lama saya berada di dalamnya, semakin saya merasa bahwa yang sedang saya temukan bukan hanya biodiversitas.

Saya sedang menemukan kembali sesuatu yang mungkin telah lama hilang dari manusia:

rasa takjub.

Rasa bahwa kita bukan pusat dari segala sesuatu.

Rasa bahwa ada kehidupan yang tidak membutuhkan kita untuk mengakui keberadaannya.

Rasa bahwa manusia sebenarnya bukan berada di luar alam.

Kita adalah bagian darinya.

Dan ketika kita menghancurkan alam, pada akhirnya kita sedang menghancurkan bagian dari rumah kita sendiri.

Saya tidak tahu apakah pengalaman itu dapat disebut sebagai pengalaman spiritual.

Tetapi bagi saya, ia terasa seperti sebuah perjalanan menuju pertaubatan ekologis.

Bukan pertobatan dalam arti saya tiba-tiba menjadi manusia yang sepenuhnya baru.

Saya masih manusia yang menggunakan berbagai kebutuhan hidup yang berasal dari alam.

Saya masih bagian dari masyarakat yang membutuhkan pembangunan.

Saya juga memahami bahwa masyarakat membutuhkan ruang untuk hidup dan memperoleh penghidupan.

Karena itu saya tidak ingin jatuh pada romantisme konservasi yang memandang masyarakat sebagai musuh hutan.

Justru sebaliknya.

Pengalaman di Nanga Ngeri semakin meyakinkan saya bahwa manusia dan hutan tidak harus ditempatkan sebagai dua pihak yang berlawanan.

Persoalannya bukan apakah manusia boleh memanfaatkan hutan.

Persoalannya adalah:

bagaimana manusia memanfaatkan hutan tanpa kehilangan rasa hormat terhadap kehidupan yang ada di dalamnya.

Dan mungkin itulah makna paling dalam dari zonasi yang kami lakukan.

Bukan sekadar menggambar garis di atas peta.

Tetapi berusaha menemukan batas antara kebutuhan manusia dan keserakahan manusia.

Antara pemanfaatan dan penghancuran.

Antara hak generasi sekarang dan hak generasi yang belum lahir.

Saya tidak tahu apakah hutan Nanga Ngeri akan selalu seperti sekarang.

Tidak ada hutan yang kebal terhadap perubahan.

Tidak ada masyarakat yang terbebas dari tekanan ekonomi.

Tidak ada tradisi yang otomatis bertahan hanya karena pernah ada.

Karena itu, menjaga hutan juga berarti menjaga pengetahuan, ingatan, cerita, pantangan, hukum adat, ritual, dan hubungan kebudayaan yang membuat manusia merasa memiliki tanggung jawab terhadap hutan.

Sebab ketika semua itu hilang, mungkin yang tersisa hanyalah peta.

Dan di atas peta itu, hutan hanya akan menjadi angka:

sekian hektare,

sekian ton karbon,

sekian jenis biodiversitas,

sekian nilai ekonomi.

Padahal bagi masyarakat Nanga Ngeri, hutan adalah lebih dari itu.

Ia adalah air.

Ia adalah pangan.

Ia adalah tempat hidup.

Ia adalah ingatan.

Ia adalah ruang kebudayaan.

Ia adalah rumah bagi makhluk-makhluk lain.

Dan bagi sebagian orang, ia juga adalah ruang perjumpaan dengan sesuatu yang melampaui dirinya

Maka mungkin pekerjaan terbesar kita hari ini bukan hanya menyelamatkan hutan dari deforestasi.

Kita juga perlu menyelamatkan manusia dari cara pandang yang membuat deforestasi terasa wajar.

Karena ketika manusia tidak lagi melihat kesakralan alam, tidak lagi mengenali dirinya sebagai bagian dari alam, dan hanya melihat hutan sebagai komoditas, maka tidak ada lagi yang benar-benar membatasi keserakahannya selain harga dan keuntungan.

Saya teringat kembali pada hutan yang saya lihat dari lereng bukit pada hari ketiga itu.

Kaki saya keram.

Tubuh saya lelah.

Tetapi di hadapan bentang hutan yang luas itu, saya justru merasa kecil.

Dan mungkin menjadi kecil di hadapan alam bukanlah sesuatu yang buruk.

Mungkin justru dari sanalah kita belajar menjadi manusia.

Sebab mungkin yang perlu diselamatkan bukan hanya hutan, tetapi juga cara manusia memandang hutan.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *