Menyusuri Hutan, Membaca Jejak Perubahan: Survei Keanekaragaman Hayati di Lebak Najah
Selama 5–16 Agustus 2026, LDPH Lebak Lestari bersama tim konsultan dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura melaksanakan survei keanekaragaman hayati di kawasan Hutan Desa Lebak Najah.
Kegiatan ini dilakukan di dua lokasi Hutan Desa, yaitu kawasan Hutan Lindung (HL) dan Hutan Produksi Terbatas (HPT). Bukan sekadar mencari dan mencatat flora serta fauna, survei ini menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat kondisi hutan dan berbagai tekanan yang sedang terjadi di dalamnya.
Kegiatan diawali dengan pertemuan pra-pelaksanaan bersama Pemerintah Desa dan LDPH. Tim konsultan Universitas Tanjungpura memberikan pengantar mengenai metode survei, teknik identifikasi flora dan fauna, serta pentingnya data keanekaragaman hayati sebagai dasar pengelolaan kawasan.
Pengetahuan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam proses ini. Bersama LDPH, tim menggali informasi mengenai jenis tumbuhan dan satwa yang masih ditemukan di kawasan Hutan Desa. Pengetahuan lokal tersebut kemudian menjadi catatan awal untuk diverifikasi langsung di lapangan.
Dua hari pertama, tim menyusuri kawasan HL. Lokasinya yang dekat dengan permukiman memang membuat akses lebih mudah, tetapi sekaligus memperlihatkan besarnya tekanan terhadap kawasan. Kebun masyarakat, bukaan lahan, hingga aktivitas pertambangan ditemukan di sekitar kawasan hutan.
Survei kemudian dilanjutkan ke kawasan HPT. Medan yang lebih sulit dan jaraknya yang jauh dari permukiman membuat tim harus mempersiapkan perjalanan dan rencana bermalam di kawasan. Namun, musim kemarau menjadi tantangan tersendiri. Sumber-sumber air yang diharapkan menjadi tempat untuk bermalam banyak yang mengering, sementara kondisi medan berupa lembah memperlambat pergerakan tim.
Setelah survei biodiversitas selesai, tim kembali melakukan penelusuran di beberapa titik HL bersama tim pemetaan untuk melihat kondisi bukaan lahan. Sejumlah lokasi bekas pertambangan ditemukan dalam kondisi gersang dengan aliran sungai yang cenderung keruh. Beberapa aktivitas pertambangan masyarakat bahkan masih berlangsung.
Temuan-temuan tersebut kemudian dibawa ke ruang diskusi.
Dalam pertemuan evaluasi bersama Pemerintah Desa, LDPH, dan tim pemetaan, peta Hutan Desa kembali dibuka untuk membaca kondisi kawasan secara bersama-sama. Kepala Desa Lebak Najah mendorong agar pemasangan patok batas diprioritaskan, terutama di kawasan HL yang berdekatan dengan area pengelolaan masyarakat.
Tim pemetaan juga menekankan pentingnya tanggung jawab bersama dalam memanfaatkan kawasan berhutan, termasuk mendorong pemulihan kawasan bekas tambang melalui penanaman kembali.
Bagi LDPH, kegiatan ini bukan hanya tentang menghasilkan data.
Ini adalah proses belajar bersama—mengenali apa yang masih tersisa, memahami tekanan yang terjadi, dan mulai membicarakan apa yang bisa dilakukan untuk menjaganya.
Survei biodiversitas menjadi satu langkah kecil untuk membaca kondisi Hutan Desa Lebak Najah. Dari sana, pekerjaan yang lebih panjang dimulai: memastikan hutan tidak hanya tercatat di atas peta, tetapi benar-benar dijaga di lapangan.”
