(Oleh: Al-Fakir)
Aneh juga hidup di negeri ini.
Disatu tempat orang antri bbm, Ditempat lain listrik mati bergiliran.
Di Kalimantan orang menghirup asap beracun, Di papua dan sumatera hutan terbakar.
Tapi banyak dari kita Lebih Sibuk, selama tiga hari ngebahas satu kalimat bodoh seorang Pejabat sampai Artis.
Lalu datang kebodohan berikutnya, kita marah lagi, tertawa lagi, bikin meme lagi.
Dan Krisis yang sebenarnya berjalan diam-diam di belakang layar, Mungkin masalah terbesar kita hari ini bukan Kurang Informasi atau kesadaran. Justru Kebanyakan informasi, yang berebut perhatian.
Yang Remeh terasa Darurat, yang Darurat menjadi latar belakang, Kita bisa marah ber hari-hari, karena ucapan seseorang.
Tapi Listrik yang mati ber bulan-bulan dianggap biasa, antrian BBM dianggap gangguan, kabut Asap dianggap musim, harga pangan naik dianggap nasib, warung yang tutup dianggap kalah bersaing.
Sampai suatu hari kita sadar bahwa yang sedang terjadi Bukan lagi rangkaian masalah kecil. Dia sudah menjadi Sebuah Pola.
Sekarang ini banyak konten yang membangkitkan Emosi Kuat, apalagi soal Kemarahan dan Kecemasan, cenderung lebih gampang menyebar. Wajar, karena Flatform digital hidup dari perhatian.
Mungkin itu sebabnya negeri yang punya begitu banyak Masalah Struktural, justru terasa seperti Acara Komedi yang tidak pernah selesai.
Setiap hari ada Episode Baru, Tokoh baru, ucapan baru, skandal baru
Kita ketawa, Karena Kalau semuanya dipikirkan serius, mungkin kita akan terlalu sedih.
Kita mungkin bukan masyarakat yang tidak peduli. Kita cuma Kelelahan untuk terus peduli.
Sebagian orang mulai menjauh, bukan karena masalah tidak penting, Tapi karena kapasitas emosionalnya habis.
Jadi jangan heran kalau suatu hari masyarakat melihat asap di langit dan berkata: “ya sudah setiap tahun juga begitu.”
Itulah titik paling berbahaya, bukan ketika krisis datang. Tetapi ketika krisis berhasil berubah menjadi kebiasaan.
Sebab manusia mempunyai kemampuan luar biasa buat beradaptasi. Sayangnya, kita juga bisa Beradaptasi terhadap sesuatu yang seharusnya tidak pernah dianggal Normal.
Listrik mati? NORMAL, Antre BBM? NORMAL, udara berbahaya? NORMAL, usaha kecil margin makin tipis? NORMAL, Harga Naik? NORMAL.
Barangkali krisis terbesar negeri ini bukan cuma Krisis Energi, Lingkungan, atau Ekonomi.
Krisis terbesar kita adalah krisis Kemampuan Membedakan, mana yang penting dan mana yang sekedar Gaduh.
Kita terlalu sibuk marah pada kebodohan hari ini, sampai lupa menanyakan sesuatu yang jauh lebih serius:
Mengapa hal-hal mendasar dalam kehidupan; energi, udara,pangan, pekerjaan, daya beli, semakin sering terasa Rapuh?
Dan mungkin pertanyaan paling menakutkan bukan: “Apakah negeri ini sedang krisis?”
Tapi: “Seberapa parah krisis harus terjadi, sampai kita ahirnya sadar bahwa ini bukan lagi HAl BIASA?”
Barakallahu fiikum aj’main.
Sudut sempit di ujung lorong sukamiskin, subuh
