Hari ini kita bicara politik sedikit,
Kisah Firaun bukan sekedar cerita jaman dulu, tapi gambaran nyata tentang betapa bahayanya kekuasaan tanpa kontrol dan keadilan sistemik.
Firaun tidak sekedar raja. Ia mengklaim sebagai Tuhan, “Akulah Tuhanmu yg paling tinggi”(QS. An-Naziat;24)
Kenapa bisa seperti itu?,
Karena tdk ada yg berani mengkritik. Kekuasaan sepenuhnya di tangannya.
Tak ada sistem check and balance.
Dia bikin aturan, dia juga yg menafsirkan dan dia juga yg menindas.
Jika kekuasaan hanya dipegang satu tangan maka;
Kebenaran jadi relatif
Kritik dianggap penghinaan
Jabatan diberikan ke orang dekat, bukan org layak.
Rakyat jadi objek bukan subjek
Itulah yg dilakukan Firaun.
Dan inilah yg kita lihat pula di banyak sistem pemerintahan otoriter skrg ini.
Di Indonesia sekarang kita mengalami krisis Keadilan.
Suara rakyat kadang hanya formalitas. Kekuasaan makin lama makin mengarah pada segelintir orang yg saling bagi peran.
Orang yg dekat dengan kekuasaan akan mendapat proyek, jabatan,perlindungan hukum.
Yang jauh?, diabaikan, dikriminalisasi, dibungkam, Keadilan menjadi milik sekelompok bukan milik rakyat.
Para penyihir Firaun awalnya menentang nabi Musa, kenapa?, karena mereka di pelihara oleh sistem.
” Kalau kamu menang kamu akan jadi org dekatku” Kata Firaun.
Mereka berani melawan Musa, karena posisi,jabatan, dan iming2 kekuasaan.
Mirip dgn oknum penguasa atau elite hari ini yg menjilat demi jabatan.
Coba lihat siapa yg paling menderita di negeri ini?
Petani terusir karena proyek.
Nelayan kalah sama kapal asing.
Mahasiswa ditangkap karena demo.
Rakyat kecil dilabeli “radikal” karena vokal.
Mereka tidak salah..tapi mereka tidak punya akses ke kekuasaan.
Inilah wajah ke tidak adilan sistemik.
Kritik dibalas ancaman
Jabatan diwariskan ke keluarga.
Media di kendalikan.
Hukum tajam kebawah, tumpul keatas
Rakyat di bungkam dengan bansos dan simbol2 agama.
Ini bukan sekedar salah urus, tapi sistem yg sengaja dibuat untuk tidak adil.
Apa kata Islam ttg Pemerintah ?
Rasulullah SAW bersabda;
“Pemimpin itu perisai. Dibelakangnya rakyat berlindung dan berperang”.( HR. Bukhari )
Jika pemimpin malah menjadi ancaman bukan pelindung. Maka ia telah menghianati amanat Allah.
Islam menekankan Keadilan sebagai pilar utama kekuasaan.
Nabi Musa tidak diam. Ia datang ke Firaun, membawa risalah dan kebenaran.
Dan ketika para penyihir melihat kebenaran, mereka berkata;
“Kami beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun”.
Mereka memilih kebenaran meski harus mati. Saat ini, kebenaran juga butuh pembela. Maukah kita jadi bagian dari suara yg melawan ke tidakadilan??.
” Firaun membangun piramida, mereka membangun pencitraan.
Sama – sama tinggi, sama-sama menindas dari atas”.
Bagai mana??
Jazakumullahu khayr.
Barakallahu fikum aj’main.
Sukamiskin
Al – Fakir