ChatGPTImage3Agu202510.54.4
Mari berpikir kritis. Mengapa para elit politik merasa tak suka dengan aksi pengibaran bendera One Piece, lalu menuduh pengibaran itu adalah provokasi untuk menjatuhkan pemerintah, lalu dituduh juga sebagai aksi sistematik untuk memecah belah persatuan bangsa?

Mari berpikir kritis. Mengapa para elit politik merasa tak suka dengan aksi pengibaran bendera One Piece, lalu menuduh pengibaran itu adalah provokasi untuk menjatuhkan pemerintah, lalu dituduh juga sebagai aksi sistematik untuk memecah belah persatuan bangsa?

Apa salahnya rakyat menyampaikan harapannya lewat simbol, lewat bendera?

Mengapa tidak bikin statement kayak gini aja misalnya:

“Koruptor itu memprovokasi untuk menjatuhkan pemerintah”

Atau

“Koruptor adalah gerakan sistematik untuk memecah belah persatuan bangsa”

Bukankah yang jelas-jelas bisa menjatuhkan pemerintah dan memecah belah negeri ini adalah para koruptor?

Inilah problema kita. Harapan dan keinginan masyarakat yang disampaikan lewat suara, lewat tulisan, lewat seminar-seminar, ga digubris ga di dengar.

Lalu masyarakat menggelar unjuk rasa. Protes disampaikan. Tapi, belum ada perubahan juga.

Ada tapi tak ada. Sudah tapi belum. Belum memuaskan!

Lalu masyarakat bikin lagu supaya suara hati bisa lebih menyebar tidak hanya di ruang-ruang elitis saja.
Lagu “bayar-bayar” adalah salah satunya. Dengan lagu itu, rakyat menyampaikan keresahan nya pada aparat penegak hukum, sehingga bisa dibawakan dipanggung-panggung oleh para musisi, dan dibawakan oleh pengamen di bis-bis kota.

Tapi sepertinya pesan tak sampai. Harapan tak digubris.

Dan yang terkini, menggunakan bendera.

Dalam cultural studies, bendera adalah simbol. Di dalamnya ada pesan yang disepakati bersama. Walaupun hanya bendera, tapi pesan yang disampaikan lewat simbol akan jauh lebih massif.

Para founding fathers menggunakan bendera merah putih untuk mendidik jiwa anti penjajahan dan mengikat solidaritas rakyat nusantara. Lewat simbol itu pesan dapat tersampaikan secara massif ke puluhan juta manusia dari Aceh sampai Papua.

Demikian pula yang dilakukan oleh ratusan bangsa di dunia untuk menyampaikan pesan dan mengikat jutaan manusia dalam sebuah negara-bangsa. Tidak menggunakan tulisan, tapi menggunakan simbol berbentuk bendera.

Sekarang, baru ada satu bendera perlawanan yang dikibarkan oleh rakyat Indonesia. Jika masih saja tak ada perubahan, akan muncul bendera-bendera perlawanan simbolik baru yang akan dikibarkan oleh masyarakat.

Dan karena simbol yang tahu maknanya hanya pembuat dan pengguna, maka ia tak bisa dipidana. Sebab, simbol adalah ide dan pemikiran dan keduanya adalah hak asasi manusia yang dalam konstitusi dijamin kebebasannya.

Waspadalah ketika rakyat sudah mulai berkomunikasi dengan simbol yang dibuatnya sendiri. Sebab mereka semakin cerdas.

Kecerdasan puncak manusia adalah membuat simbol. Bahasa adalah simbol. Huruf adalah simbol.

Berhati-hatilah pula, karena mereka telah menganggap menyampaikan harapan dan cita-cita menggunakan simbol yang sama sudah percuma. Misalnya menggunakan bahasa indonesia. Karena menganggap pesan yang disampaikan menggunakan simbol yang sama, tak sampai dan tak bisa dipahami.

Maka, mereka akan membuat bahasa sendiri!

Berkahselaloe

Oleh: Beni Sulastiyo

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *