ChatGPT Image 28 Okt 2025, 09.31.05_11zon
(Oleh M. Hermayani Putera) Sumpah Pemuda bukan sekadar tiga kalimat yang dihafal setiap Oktober. Ia adalah keberanian generasi muda 1928 untuk membayangkan bangsa yang belum ada, dan memperjuangkannya bersama di tengah penjajahan, sekat, dan keterbatasan.

Oleh M. Hermayani Putera

Sumpah Pemuda bukan sekadar tiga kalimat yang dihafal setiap Oktober. Ia adalah keberanian generasi muda 1928 untuk membayangkan bangsa yang belum ada, dan memperjuangkannya bersama di tengah penjajahan, sekat, dan keterbatasan.

Namun hari ini, delapan puluh tujuh tahun setelah kemerdekaan, kita mesti jujur: semangat itu mulai pudar. Kita tak lagi dijajah oleh bangsa asing, tapi oleh bentuk-bentuk penjajahan baru berupa kemiskinan yang menjerat, kerusakan alam yang menggila, ketimpangan yang meluas, dan egoisme yang menumbuhkan jurang di antara sesama.

Kita lebih sering berlomba daripada bergandeng tangan. Desa ditinggalkan, bumi dilupakan, solidaritas dikorbankan. Maka, mungkin benar: bangsa ini butuh sumpah baru, bukan untuk mengganti yang lama, tetapi untuk menghidupkannya kembali dalam bentuk yang lebih relevan dengan zaman.

Satu bumi yang lestari, satu bangsa yang saling menolong, satu bahasa: kolaborasi.

Inilah makna Sumpah Pemuda yang harus lahir kembali. Karena ketika bumi rusak, sumpah itu memanggil kita menjaga kehidupan. Ketika solidaritas memudar, sumpah itu mengajak kita menolong sesama. Dan ketika dunia memuja kompetisi, sumpah itu menuntun kita untuk berkolaborasi, sebab masa depan tidak dimenangkan oleh yang paling cepat, tapi oleh mereka yang mau berjalan bersama.

Hari ini, banyak anak muda telah memulainya. Mereka menanam pohon dan memulihkan sungai, membangun sekolah komunitas di desa, mengembangkan usaha sosial, memperjuangkan lingkungan, dan menulis ulang makna kemerdekaan dengan tindakan nyata. Mereka tak menunggu panggilan negara; mereka bergerak karena cinta pada kehidupan dan sesama.

Sumpah Pemuda bukan sejarah mati. Ia adalah denyut yang harus terus dijaga, agar kita tak lupa bahwa kemerdekaan sejati lahir dari kebersamaan, kepedulian, dan keberanian untuk bertindak.

Maka, mari kita bersumpah sekali lagi, dengan makna yang diperbarui:
Satu bumi yang lestari, satu bangsa yang saling menolong, satu bahasa — kolaborasi.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *