Oleh:
Tri Budiarto (77/KT/1422/UGM)
(Ketum Senat Mahasiswa Fak. Kehutanan UGM, 1980-1982)
Saatnya menggugat Rimbawan!!
Karena hatinya mulai membeku, nyaris tak berfungsi
Jantungnya tak berdegup kencang, walau ratusan nyawa tak tertolong
Rumah warga hancur, rata tak tersisa, Rimbawan sibuk mengolah kata
Ribuan batang kayu menggelontor beradu cepat, menghantam desa
Tubuh warga tercabik, tak dapat dikenali, walau sehelai rambutpun
Teriak kesakitan menyongsong ajal, tak lagi dihiraukan
Semua sibuk selamatkan nyawa yang hampir melepas raga
Saatnya menggugat Rimbawan!!
Masih patutkan engkau disebut perwira rimba
Ketika sudah tak mampu menjaga rimba
Ketika engkau tak cukup nyali melawan perusak rimba
Langkahmu tampak lambat ketika banjir bandang menghantam Aceh
Lidahmu salah berucap, gambarkan nurani yang telah hilang
Tingkahmu tak tunjukkan sikap seorang perwira rimba
Masihkah engkau memiliki rasa malu, walau sedikit?
Tak perlu maaf, bila aku menggugat Rimbawan!!
Karena engkau tidak lagi dekat dengan rakyat
Apalagi menyapa dan menjabat tangan
Rakyat memang tak bersuara, tapi ia tahu apa yang telah engkau perbuat