ChatGPTImage3Jan202609.26.1

(Oleh: Tri Budiarto (1422/KT/77/UGM))

Cerutu adalah penanda ia berkelas dan mulia

Tentu bukan hasil  tangan buruh pabrik di Kudus atau Kediri

Menghisap satu batang, bermakna dua bulan gaji buruh pabrik sigaret

Bagimu mungkin biasa, mempertontonkan apa yang kau punya

 

Cerutu adalah barang yang langka

Hanya yang berpunya dan kuasa, yang mampu merasa

Dihisap bersama saat berpesta,

Sambil tertawa di tengah pesta dansa

Saat ini bencana dimana-mana

 

Alam memangsa manusia, yang renta dan tak berdaya

Karena manusia merusak rimba, mengusik satwa

Rakyat tak butuh kata iba, tapi menuntut tindakan nyata

 

Saat ini engkau menghisap cerutu ditemani hidangan mewah adalah nyata

Engkau pamerkan dengan sengaja, saat rakyat menderita

Seolah tak hirau bahwa ribuan pengungsi, lama menahan lapar

Tak ada kata yang lebih tepat selain hedon bahkan sangat hedon

 

Kemarin engkau memanggul sekarung beras

Walau aku tak yakin bahwa itu nyata

Sebagian rakyat mencaci walau tak bersuara

Yang lainnya tak mampu berkata-kata

 

Saat ini ……. sedang bencana Bung !!

Rakyat sedang berduka, pertahankan asa tuk menyambung nyawa

Menghisap  cerutu di tengah bencana

Adalah simbol congkak dan pongah, jauh dari rasa iba

Our Social Media

2 thoughts on “Cerutu Di Tengah Bencana

  1. Beras kau pikul di depan umum seolah dirimu sayyidina Umar bin Khattab yg menangis di ruang sepii krn tanggung jawab nya sebagai Khalifah yg tak mungkin ada yg mengganti nya saat di hisab kelak…tapi Engkau bukan lah sayyidina Umar bin Khattab…kepalsuan mu itu tersingkap di meja makan dgn cerutu jutaan rupiah di jepitan dua jarimu..
    Engkau lebih mirip Al Capone….
    Jika tangisan Khalifah Umar bin Khattab melihat rakyat nya yg kelaparan itu, kelak membasuh Duka nya… Dirimu kelak tersulut api cerutu mu Krn kesombongan mu…

  2. 😊 Wow, puisi ini sangat kuat dan menyentuh! 😔
    Puisi ini sangat kritis dan menyindir perilaku kaum elite yang memamerkan kekayaan dan kemewahan di tengah-tengah bencana dan penderitaan rakyat.
    Penggunaan kata-kata seperti “berkelas dan mulia” dan “hedon bahkan sangat hedon” sangat efektif dalam menggambarkan ironi dan ketidakadilan sosial.
    Gambaran tentang cerutu sebagai simbol kemewahan dan kekuasaan sangat kuat dan menyentuh.
    Puisi ini juga menyoroti kerusakan lingkungan dan dampaknya pada rakyat, serta menuntut tindakan nyata dari para pemimpin.
    Bahasa yang digunakan sangat puitis dan ekspresif, dengan penggunaan metafora dan simbolisme yang efektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *