(Oleh: Tri Budiarto (1422/KT/77/UGM))
Cerutu adalah penanda ia berkelas dan mulia
Tentu bukan hasil tangan buruh pabrik di Kudus atau Kediri
Menghisap satu batang, bermakna dua bulan gaji buruh pabrik sigaret
Bagimu mungkin biasa, mempertontonkan apa yang kau punya
Cerutu adalah barang yang langka
Hanya yang berpunya dan kuasa, yang mampu merasa
Dihisap bersama saat berpesta,
Sambil tertawa di tengah pesta dansa
Saat ini bencana dimana-mana
Alam memangsa manusia, yang renta dan tak berdaya
Karena manusia merusak rimba, mengusik satwa
Rakyat tak butuh kata iba, tapi menuntut tindakan nyata
Saat ini engkau menghisap cerutu ditemani hidangan mewah adalah nyata
Engkau pamerkan dengan sengaja, saat rakyat menderita
Seolah tak hirau bahwa ribuan pengungsi, lama menahan lapar
Tak ada kata yang lebih tepat selain hedon bahkan sangat hedon
Kemarin engkau memanggul sekarung beras
Walau aku tak yakin bahwa itu nyata
Sebagian rakyat mencaci walau tak bersuara
Yang lainnya tak mampu berkata-kata
Saat ini ……. sedang bencana Bung !!
Rakyat sedang berduka, pertahankan asa tuk menyambung nyawa
Menghisap cerutu di tengah bencana
Adalah simbol congkak dan pongah, jauh dari rasa iba
Beras kau pikul di depan umum seolah dirimu sayyidina Umar bin Khattab yg menangis di ruang sepii krn tanggung jawab nya sebagai Khalifah yg tak mungkin ada yg mengganti nya saat di hisab kelak…tapi Engkau bukan lah sayyidina Umar bin Khattab…kepalsuan mu itu tersingkap di meja makan dgn cerutu jutaan rupiah di jepitan dua jarimu..
Engkau lebih mirip Al Capone….
Jika tangisan Khalifah Umar bin Khattab melihat rakyat nya yg kelaparan itu, kelak membasuh Duka nya… Dirimu kelak tersulut api cerutu mu Krn kesombongan mu…
😊 Wow, puisi ini sangat kuat dan menyentuh! 😔
Puisi ini sangat kritis dan menyindir perilaku kaum elite yang memamerkan kekayaan dan kemewahan di tengah-tengah bencana dan penderitaan rakyat.
Penggunaan kata-kata seperti “berkelas dan mulia” dan “hedon bahkan sangat hedon” sangat efektif dalam menggambarkan ironi dan ketidakadilan sosial.
Gambaran tentang cerutu sebagai simbol kemewahan dan kekuasaan sangat kuat dan menyentuh.
Puisi ini juga menyoroti kerusakan lingkungan dan dampaknya pada rakyat, serta menuntut tindakan nyata dari para pemimpin.
Bahasa yang digunakan sangat puitis dan ekspresif, dengan penggunaan metafora dan simbolisme yang efektif.