(Oleh: Al-Fakir)
Dulu gelisah kalau tidak disapa teman
Takut kehilangan circle (pertemanan), takut dijauhi, takut tidak dianggap
Semakin lama semakin faham
Bahwa hidup ini bukan tentang banyaknya orang yang mengenal kita
Tapi tentang siapa yang tetap tinggal saat kita jatuh, susah, dan tidak punya apa-apa
Pertemanan (circle) kecil tapi tulus, jauh lebih berharga daripada keramaian yang penuh kepalsuan
Cukup ada keluarga dan sedikit sahabat, yang saling menjaga.
Yang jujur, mendoakan, dan tidak iri pada kebahagiaan kita
Itu sudah lebih dari cukup untuk hidup yang tenang
Karena tidak semua yang tersenyum kepada kita benar-benar baik
Ada yang hadir hanya saat kita kuat Lalu diam, menjauh, bahkan diam-diam gembira saat kita terjatuh
Bahkan ada yang bahagia melihat kita tidak tenang dan tidak bahagia
Tidak perlu terlalu sedih kehilangan manusia
Selama masih punya Allah, keluarga yang tulus, dan sedikit sahabat yang saling menjaga.
Pada kebaikan dunia dan akhirat
Itu sudah nikmat yang sangat mahal.
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Az-Zukhruf: 67)
“Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya, maka lihatlah siapa yang menjadi teman dekatnya.”
(HR. Abu Dawud no. 4833, hasan)
Semakin dewasa,
seseorang bukan lagi tertarik pada banyaknya teman
Lebih tertarik memilih-milih sedikit teman tapi yang baik
Barakallah fiikum aj’main.
Sukamiskin,