Mempawah: Kota Bersejarah di Ambang Gelombang Industri Baru
(Oleh: Mira Lubis)
Mempawah sedang memasuki babak baru. Kabupaten yang selama ini lebih sering dikenal sebagai kota pesisir yang tenang, bersejarah, dan berada di antara Pontianak – Singkawang, kini mulai dibaca dalam peta pembangunan nasional sebagai salah satu simpul pertumbuhan penting di Kalimantan Barat. Kehadiran Pelabuhan Kijing, rencana penguatan kawasan industri, serta proyek hilirisasi berbasis sumber daya alam membuat Mempawah tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai kota kecil di jalur lintas pesisir. Ia sedang bergerak menjadi koridor industri, logistik, dan pertumbuhan baru.
Namun, cara kita memahami arah perkembangan Mempawah tidak boleh terlalu tergesa-gesa. Mempawah bukan ruang kosong yang baru akan “diisi” oleh pembangunan. Sebelum pelabuhan, terminal kontainer, kawasan industri, dan investasi masuk, Mempawah sudah memiliki sejarah panjang sebagai kota sungai dan kota pesisir. Di sana ada Istana Amantubillah, jejak Kerajaan Mempawah, Masjid Jamiatul Khair, permukiman lama, jalur perdagangan, serta ingatan kolektif masyarakat terhadap sungai, laut, dan tanah tempat mereka hidup. Dengan kata lain, masa depan industri Mempawah sedang dibangun di atas lapisan sejarah yang tidak sederhana.
Secara historis, Mempawah berkembang dari relasi yang kuat antara sungai, pesisir, kekuasaan lokal, dan mobilitas masyarakat. Sungai bukan hanya latar belakang alam, melainkan bagian dari sistem kehidupan. Di masa lalu, sungai dan laut menjadi jalur transportasi, ruang ekonomi, sekaligus penghubung antara pusat kekuasaan, permukiman, dan wilayah sekitarnya. Karena itu, ketika hari ini Mempawah dibayangkan sebagai kota industri, pertanyaannya bukan hanya “berapa besar investasi yang masuk?”, tetapi juga “bagaimana pembangunan baru ini berdialog dengan sejarah dan ruang hidup masyarakat yang sudah ada?”
Dalam beberapa tahun terakhir, tanda-tanda perubahan itu semakin jelas. Pelabuhan Kijing menjadi simbol paling kuat dari perubahan Mempawah. Pelabuhan ini diposisikan sebagai pelabuhan internasional yang mendukung distribusi komoditas strategis Kalimantan Barat, termasuk CPO, bauksit, alumina, serta berbagai kegiatan logistik lainnya. Di sisi lain, proyek pengolahan alumina di Sungai Kunyit menunjukkan bahwa Mempawah mulai masuk ke dalam rantai industri hilirisasi mineral. Artinya, Mempawah tidak lagi hanya menjadi daerah lintasan, tetapi berpotensi menjadi simpul produksi, pengolahan, dan distribusi.
Data ekonomi juga menunjukkan arah perubahan tersebut. Sektor industri pengolahan mulai mengambil peran penting dalam struktur ekonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi Mempawah meningkat, investasi bertambah, dan sektor manufaktur mulai menonjol. Ini tentu memberi harapan: lapangan kerja baru, peluang usaha lokal, perbaikan infrastruktur, serta naiknya posisi Mempawah dalam jaringan ekonomi regional.
Akan tetapi, pembangunan kota bukanlah hanya soal angka pertumbuhan. Di balik optimisme industri, ada pekerjaan rumah yang cukup besar. Sebagian jalan daerah masih dalam kondisi rusak berat. Layanan air bersih di sekitar kawasan Kijing masih perlu diperkuat. Pengelolaan persampahan masih menghadapi persoalan serius, termasuk kebutuhan untuk meninggalkan sistem pembuangan terbuka. Infrastruktur dasar seperti drainase, sanitasi, jaringan jalan penghubung, dan layanan kota lainnya harus mengejar kecepatan pembangunan proyek-proyek besar.
Di sinilah letak persoalan klasik banyak kota industri baru: infrastruktur strategis sering tumbuh lebih cepat daripada pelayanan dasar masyarakat. Pelabuhan bisa berdiri megah, kawasan industri bisa dirancang luas, tetapi pertanyaan sehari-hari warga tetap sangat konkret: apakah air bersih tersedia? Apakah jalan kampung membaik? Apakah nelayan, petani, pedagang kecil, dan anak muda lokal mendapat tempat dalam ekonomi baru ini? Apakah permukiman sekitar justru semakin tertekan oleh perubahan harga tanah, alih fungsi lahan, dan risiko lingkungan?
Dari perspektif pembangunan yang berkeadilan, pembangunan Mempawah perlu dipahami sebagai pertarungan atas ruang, sumber daya, dan kuasa, yang membantu kita melihat bahwa lingkungan bukan sekadar urusan teknis, seperti drainase, mangrove, atau abrasi pantai. Lingkungan juga berkaitan dengan siapa yang mengambil keputusan, siapa yang mendapat keuntungan, dan siapa yang menanggung risiko.
Dalam kasus Mempawah, sumber daya yang diperebutkan bukan hanya bauksit atau akses pelabuhan. Tanah, air, garis pantai, jalan, ruang hidup masyarakat, bahkan masa depan pekerjaan lokal juga menjadi bagian dari proses tawar-menawar pembangunan. Ketika kawasan industri membutuhkan ribuan hektar lahan, maka pertanyaan tentang tata ruang, hak masyarakat, kompensasi, dan keberlanjutan ekologis menjadi sangat penting. Ketika industri membutuhkan air dan energi, maka perlu dipastikan bahwa kebutuhan dasar warga tidak dikalahkan oleh kebutuhan produksi.
Risiko ekologis Mempawah dan sekitarnya juga tidak bisa dianggap kecil. Sebagai wilayah pesisir rendah, Mempawah rentan terhadap banjir, genangan, abrasi, rob, dan perubahan garis pantai. Beberapa wilayah pesisir menghadapi tekanan abrasi yang serius. Kawasan mangrove, sungai, dan pantai tidak boleh hanya dilihat sebagai ruang sisa yang bisa dikorbankan demi proyek besar. Justru, elemen-elemen ekologis inilah yang menjadi benteng alami kota pesisir. Jika rusak, biaya sosial dan ekologisnya akan jauh lebih mahal daripada keuntungan jangka pendek industri.
Karena itu, membangun Mempawah sebagai kota industri tidak cukup hanya dengan membangun pelabuhan dan kawasan produksi. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa Mempawah tumbuh sebagai kota industri yang adil secara sosial dan tangguh secara ekologis. Industri boleh datang, tetapi tidak boleh memutus hubungan masyarakat dengan tanah, air, dan sejarah kotanya. Investasi boleh tumbuh, tetapi tidak boleh menjadikan warga lokal hanya sebagai penonton di tanah sendiri.
Mempawah membutuhkan perencanaan yang lebih terintegrasi. Kawasan perkotaan lama, Pelabuhan Kijing, kawasan industri Sungai Kunyit, jaringan jalan, permukiman pesisir, kawasan mangrove, dan desa-desa sekitar harus dibaca sebagai satu sistem wilayah. Jika tidak, Mempawah akan terpecah menjadi dua wajah: satu wajah modern berupa pelabuhan dan industri, satu wajah lain berupa permukiman yang tetap bergulat dengan banjir, jalan rusak, sampah, dan keterbatasan layanan dasar.
Tantangan ke depan bukan menolak industri, tetapi menegosiasikan bentuk industri seperti apa yang layak untuk Mempawah. Industri yang baik bukan hanya yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga yang memperkuat kapasitas lokal. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan masyarakat perlu memastikan adanya pelatihan tenaga kerja lokal, perlindungan permukiman rentan, penguatan UMKM, transparansi tata ruang, serta pengawasan lingkungan yang serius.
Mempawah memiliki peluang besar. Letaknya strategis, sejarahnya penting dan kuat, dan momentumnya sedang terbuka. Tetapi masa depan kota ini tidak boleh hanya ditentukan oleh sekedar pelabuhan, komoditas, dan investasi. Ia juga harus ditentukan oleh ingatan kolektif sejarah, hak masyarakat, daya dukung ekologis, dan keberanian merancang kota industri yang lebih manusiawi. Pada akhirnya, Mempawah sebaiknya tidak dibayangkan sebagai “halaman kosong” untuk industri. Ia adalah kota lama yang sedang memasuki gelombang baru. Keberhasilannya kelak tidak cukup diukur dari banyaknya kapal yang bersandar atau besarnya nilai investasi yang masuk, tetapi dari apakah masyarakatnya ikut naik kelas, lingkungannya tetap terlindungi, dan sejarah kotanya tetap dihormati.
Penulis adalah Akademisi bidang Perencanaan Kota, Universitas Tanjungpura
Daftar Link Berita/Sumber:
1. BPS / Mempawah dalam Angka 2026: diskominfo.mempawahkab.go.id/public/img/informasi/pdf/1776394337_cc001301c79972ed4767.pdf
2. RDTR Kawasan Perkotaan Mempawah 2022–2042: pJgnAkn1tskrKYSm7ewtCoEQp0D9qeql3WnU5kR4.pdf
3. SIMTARU Kabupaten Mempawah: https://simtaru.mempawahkab.com/mempawah
4. BPIW: Integrated City Planning Mempawah-Kijing: https://bpiw.pu.go.id/berita/bpiw-jaring-gagasan-strategi-pengembangan-integrated-city-planning-icp-pada-kabupaten-mempawah
5. Pelindo: Peresmian Terminal Kijing Pelabuhan Pontianak: Presiden Joko Widodo Resmikan Terminal Kijing Pelabuhan Pontianak
6. PT Borneo Alumina Indonesia: https://bai.id/id
7. Mongabay: Konflik Lahan Pelabuhan Kijing: https://mongabay.co.id/2020/05/04/asa-warga-pertahankan-lahan-patah-di-pengadilan-pelabuhan-kijing-melaju/
