(oleh: Al – Fakir)
Ada manusia yang dulu dikenal JUJUR.
Lisannya tenang. Tatapannya teduh. Ucapannya dipercaya.
Namun aneh…
Semakin tinggi ambisinya, semakin dekat ia dengan kekuasaan, semakin sering pula ia berdusta.
Awalnya hanya;
Memutar fakta, lalu
Membela kebohongan.
Kemudian hidup dari kebohongan.
Sampai akhirnya dusta bukan lagi perbuatan, tetapi berubah menjadi KEPRIBADIAN.
Lalu muncul pertanyaan besar:
SUMBER KEBOHONGAN itu berasal dari mana?,
Ternyata Islam telah lama memberi jawabannya.
Allah berfirman:
“Sungguh, jika dia tidak berhenti, niscaya Kami tarik UBUN-UBUNNYA. (Yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.”
(QS. Al-‘Alaq : 15–16)
Perhatikan baik-baik;
Allah tidak mengatakan:
“lidah pendusta.”
Bukan pula :
“hati pendusta.”
Tetapi Allah menunjuk : UBUN-UBUN pendusta.
Dalam bahasa Arab disebut:
NASIYAH.
Dan ini bukan sekadar rambut bagian depan kepala.
NASIYAH adalah simbol: pusat kendali,
arah keputusan,
tempat manusia menentukan: jujur atau berdusta.
Ilmu pengetahuan modern hari ini justru mulai membenarkan isyarat Al-Qur’an itu.
Penelitian neuroscience menemukan : saat manusia berbohong, bagian prefrontal cortex (di area depan kepala dan sekitar ubun-ubun) bekerja lebih keras dibanding saat berkata jujur.
Mengapa?
Karena kebohongan membutuhkan:
rekayasa,
tekanan,
manipulasi, dan
konflik batin.
Itulah sebabnya orang yang sedang; berdusta, marah,kasar, atau bengis,
sering terlihat: keningnya berkeringat, urat wajahnya menegang, kepalanya panas, dan emosinya meledak-ledak.
Seolah ada sesuatu yang TERBAKAR di bagian depan kepalanya.
Dan bukankah itu menarik?
Allah ber firman dalam Al-Qur’an, dan menunjuk:
NASIYAH–UBUN- UBUN– sebagai pusat kedustaan dan kedurhakaan.
Karena ternyata kerusakan manusia sering kali bukan bermula dari LISAN.
Tetapi dari KEPALA yang dipenuhi kesombongan.
Maka jangan heran,
ada orang yang dulunya jujur, tiba-tiba berubah menjadi pembohong.
Bukan karena lidahnya berubah.
Tetapi karena NASIYAH-nya telah dikuasai: nafsu, ambisi, keserakahan, dan
rasa ingin dipuji.
Dan lihatlah betapa luar biasanya ISLAM.
Islam tidak hanya mengajarkan doa.
Tetapi juga mendidik NASIYAH manusia.
Saat SUJUD, ubun-ubun diratakan dengan tanah. Ditempelkan pada debu. Dipaksa tunduk di hadapan Allah.
Seakan-akan Islam sedang mengatakan :
“Wahai manusia tempat lahirnya kesombonganmu itu, harus belajar menyentuh tanah.”
Karena banyak manusia hari ini rajin bicara agama,
tetapi NASIYAH-nya masih dipenuhi: tipu daya, pencitraan, dan kebohongan.
Maka jangan heran jika dunia semakin gaduh.
Sebab manusia modern sibuk meninggikan KEPALA, tetapi lupa merendahkan UBUN-UBUN-nya di hadapan Tuhan.
Dan mungkin itulah sebabnya semakin sedikit manusia yang benar-benar JUJUR. Karena sujudnya ada – tetapi NASIYAH-nya belum tunduk.
Barakallahu fikum aj’main
Sukamiskin
