(Penulis: Tim Publikasi dan Dokumentasi IIF-19, Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura)
PONTIANAK, 30 Juli 2026 — Universitas Tanjungpura menjadi titik temu akademisi dan peneliti lintas negara dalam the 19th International Indonesia Forum Conference atau IIF-19 yang berlangsung pada 29–30 Juli 2026 di Gedung Konferensi UNTAN. Mengusung tema Water, Land, and Societies in Transition: From the Regional to the National and Beyond, konferensi ini membahas persoalan air, lahan, lingkungan, pembangunan wilayah, sejarah, dan perubahan masyarakat dari perspektif lokal hingga global.
Sebagai ajang diskusi tentang Indonesia pada level global, Konferensi IIF-19 diperkuat oleh kehadiran sejumlah pembicara dari berbagai institusi terkemuka. Prof. Dr. Frank Dhont dari National Cheng Kung University, Taiwan, sekaligus Direktur International Indonesia Forum, membahas sejarah pengelolaan air dan rekayasa di Yogyakarta. Dr. Anto Mohsin dari Northwestern University Qatar mengangkat hubungan antara infrastruktur kelistrikan, air, dan keadilan lingkungan di Indonesia.
Konferensi juga menghadirkan Tobiasz Targosz dari Jagiellonian University, Polandia, yang bersama Frank Dhont membahas kiprah ilmuwan alam Polandia Marian Raciborski dan Michał Siedlecki di Jawa. Sementara itu, William P. Tuchrello dari International Indonesia Forum menyampaikan presentasi bertajuk Beyond Bandung: Lessons from History, yang membawa peserta melihat kembali relevansi sejarah dalam memahami posisi Indonesia di tengah perubahan dunia.
Jangkauan akademik IIF-19 terlihat dari keterlibatan berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset. Dari Malaysia, peserta berasal dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Tunku Abdul Rahman University of Management and Technology, Universiti Malaysia Sarawak, serta Kadaram Centre of Southeast Asian Studies. Singapura diwakili oleh akademisi dari National University of Singapore dan ISEAS–Yusof Ishak Institute.
Dari Indonesia, konferensi melibatkan akademisi dan peneliti dari Universitas Tanjungpura, Universitas Hasanuddin, Universitas Diponegoro, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, maupun Universitas Islam Indonesia. Keragaman institusi tersebut menjadikan IIF-19 bukan sekadar forum presentasi, melainkan ruang pertukaran perspektif lintas negara, disiplin ilmu, dan kawasan.
Dimensi akademik tersebut diperkaya melalui Kalimantan Art Session, yang menghadirkan pemutaran film dokumenter BANDONG: Senandung Terakhir di Sungai Kapuas (The Last Serenade on the Kapuas River) dari Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat. Sesi ini juga menampilkan pameran lukisan oleh Komunitas Perupa Kalbar (KOMPAK), yang mengangkat warisan budaya, kehidupan masyarakat sungai, serta transformasi lingkungan Kalimantan. Selain film dan lukisan, sesi ini juga diisi dengan pameran karya finalis 10 besar Lomba Fotografi tingkat mahasiswa, yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia.
Ketua Panitia IIF-19 International Conference, Dr. Mira S. Lubis, mengatakan bahwa konferensi ini dirancang untuk mempertemukan diskusi akademik internasional dengan persoalan nyata yang dihadapi Kalimantan dan Indonesia. “Kami ingin IIF-19 tidak berhenti sebagai forum presentasi ilmiah. Konferensi ini menjadi ruang untuk memperkenalkan Kalimantan kepada jejaring akademik internasional, sekaligus membuka peluang riset, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama yang berkelanjutan,” ujar Mira. Diketuai Mira, tim penyelenggara dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik UNTAN, menyiapkan rangkaian panel internasional, sesi paralel, pameran seni, pemutaran film, serta kesepakatan kerjasama.
Kehadiran Rektor Universitas Tanjungpura, Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H., M.Si., menjadi salah satu momentum penting dalam penyelenggaraan IIF-19. Konferensi ditutup secara resmi oleh Rektor UNTAN, disertai sambutan penutup dari Prof. Dr. Frank Dhont dan Dr. Mira S. Lubis. Momentum tersebut semakin bermakna dengan penandatanganan Memorandum of Understanding antara Universitas Tanjungpura dan International Indonesia Forum oleh Rektor UNTAN, Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H., M.Si., dan Direktur IIF, Prof. Dr. Frank Dhont. Penandatanganan MoU ini menegaskan komitmen kedua lembaga untuk memperkuat kolaborasi akademik, penyelenggaraan kegiatan ilmiah, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan jejaring internasional pada masa mendatang.
Melalui IIF-19, UNTAN tidak hanya menjadi tuan rumah sebuah konferensi internasional, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai penghubung antara pengetahuan global, pengalaman lokal, dan berbagai isu strategis yang menentukan masa depan Kalimantan dan Indonesia.
