(Oleh: Petani Sungai Bakah: Tandi Rerong, Elisabet, Lilianti Kana, Ola Meylora, Wasti)
Di Desa Sungai Bakah, fajar belum seutuhnya menyingsing ketika Pak Eban, seorang petani karet berusia 70 tahun, sudah bersiap meninggalkan rumahnya. Jam dinding tua di ruang tamu tepat menunjukkan pukul 04.00 WIB pagi saat ia melangkahkan kaki menerobos pekatnya malam dan hembusan angin rimba yang dingin.
Dengan berbekal pisau sadap khusus, senter kepala, dan sebilah pisau, Pak Eban menyusuri jalan setapak tanah liat menuju kebun karet milik keluarga yang terletak sekitar dua kilometer dari pemukiman warga. Ia sengaja selalu berangkat pada pukul 04.00 pagi karena getah pohon karet mengalir paling deras saat suhu udara masih dingin sebelum matahari terbit.
Setibanya di kebun, Pak Eban dengan cekatan menoreh kulit pohon karet satu per satu. Meski kulit wajah dan tangannya sudah keriput dimakan usia, gerakannya menyadap tetap presisi dan terampil. Setelah ratusan pohon selesai disadap, ia beristirahat sejenak.
Tepat pada pukul 11.00 siang, seluruh proses penyadapan getah selesai. Pak Eban melangkah pulang ke rumah untuk beristirahat dan menikmati makan siang bersama istrinya. Dari ketekunannya bekerja selama tujuh jam setiap hari, beliau berhasil memperoleh penghasilan yang terbilang cukup untuk memenuhi segala kebutuhan pokok keluarga, membiayai perawatan kebun, serta menabung untuk masa tuanya tanpa perlu membebani anak-anaknya. Bagi Pak Eban, disiplin bangun sebelum fajar adalah kunci agar tetesan getah di Kebun karet milik nya terus mengalirkan keberkahan.