WhatsAppImage2025-08-02at20.00.25
Wiji Thukul bukan sekadar penyair. Dia adalah suara rakyat kecil yang menggeliat di tengah kebisingan negara yang pura-pura tuli.

“Kemerdekaan itu nasi, dimakan jadi tai.”
—Wiji Thukul

Wiji Thukul bukan sekadar penyair. Dia adalah suara rakyat kecil yang menggeliat di tengah kebisingan negara yang pura-pura tuli. Kalimatnya yang terkenal kasar, vulgar, tapi jujur “Kemerdekaan itu nasi, dimakan jadi tai”, bukan cuma metafora, tapi tamparan keras ke wajah mereka yang berkuasa.

Pernyataan ini ditulis Thukul di masa Orde Baru, ketika suara rakyat dikebiri dan kemerdekaan hanya jadi hiasan pidato pejabat. Tapi hari ini, puluhan tahun setelah reformasi, kutipan itu masih relevan bahkan makin terasa menusuk. Karena faktanya: kita memang diberi nasi bernama “kemerdekaan”, tapi rasa dan hasilnya untuk banyak orang tetap seperti tai.
Dan kita semua dipaksa menelannya.

Rakyat Masih Miskin di Negeri yang Katanya Kaya

Saya menulis ini dari pelosok Kalimantan Barat, tempat yang katanya kaya raya: hutan luas, tambang melimpah, tanah subur. Tapi coba datang ke desa-desa kami di Sintang. Banyak yang masih dianggap “kawasan hutan” oleh negara. Artinya, warga di situ tak punya hak atas tanahnya sendiri, padahal mereka sudah hidup di sana turun-temurun, jauh sebelum negara ini lahir.

Mereka tak bisa bangun rumah bebas, karena tanah itu katanya milik negara. Ndak bisa bikin kebun untuk sendiri, karena takut dituduh perambahan.
Mereka hidup dalam ketakutan, dalam kemiskinan, dan dalam keterasingan di tanah kelahiran sendiri.

Inilah bentuk “kemerdekaan” yang dimakan jadi tai itu.

Yang Kaya Perusahaan Tambang dan Sawit, Bukan Rakyat

Setiap hari truk-truk tambang dan pengangkut sawit perusahaan melintas, menggali isi perut bumi kami. Sawit menjajah kampung-kampung, menyisakan tanah tandus, sungai kotor, dan konflik horizontal.
Tapi rakyat di sekitarnya tetap miskin.
Pembangunan? Cuma untuk investor dan pejabat.
Sementara sekolah ambruk, jalan rusak, dan listrik hidup segan mati tak mau.
Itu bukan dongeng Cik Ramli. Itu kenyataan.

Negara selalu beralasan ini demi “pertumbuhan ekonomi nasional”. Tapi yang dibangun siapa? Jawa. Yang menikmati siapa? Elit. Yang jadi tumbal? Kami.

Kemerdekaan Hanya untuk Yang Punya Kuasa

Coba angkat suara, sedikit saja. Kritisi kebijakan, lawan perampasan tanah, atau sekadar protes di media sosial, langsung dianggap “radikal” atau “mengganggu stabilitas”.
Padahal negara ini lahir dari perlawanan. Tapi ketika rakyat hari ini melawan ketidakadilan, mereka disebut pembangkang.

Inilah potret demokrasi setengah hati.
Kebebasan berekspresi dijual saat kampanye, tapi dibungkam setelah pemilu selesai.
Lagi-lagi, kemerdekaan itu hanya ilusi. Dikasih nasi, tapi hasil akhirnya tetap tai.

Wiji Thukul Masih Hidup di Ucapan dan Perlawanan Kita

Wiji Thukul sudah puluhan tahun “hilang” karena keberaniannya melawan tirani. Tapi kata-katanya tetap hidup.
Kutipan “Kemerdekaan itu nasi, dimakan jadi tai” adalah cara dia menyentil betapa absurditas politik bisa mengubah sesuatu yang suci ”kemerdekaan” jadi sampah yang menjijikkan bagi rakyat yang lapar dan dipinggirkan.

Kalimat itu bukan sekadar ekspresi pesimisme, tapi juga perlawanan. Ia mengajak kita untuk tidak menerima begitu saja versi kemerdekaan yang dijual penguasa.

Karena kalau kita diam, kita ikut-ikut memakan tai yang sama setiap tahun, setiap perayaan 17 Agustus.

Kita Harus Marah, dan Jangan Diam

Tulisan ini bukan ajakan untuk meratapi nasib. Ini ajakan untuk marah dan ngamuk bareng.
Marah karena tanah dirampas.
Marah karena hasil bumi kita dijual murah.
Ngamuk karena kemerdekaan cuma milik orang-orang di balik gedung, bukan yang berkeringat di ladang dan di jalanan.

Kalau kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka rakyat kecil harus bisa merasakannya juga.
Bukan cuma lewat bendera dan lomba, tapi lewat akses atas tanah, pendidikan, suara, dan kehidupan yang layak.

Penutup: Definisi Ulang Kemerdekaan

Bagi kami, merdeka itu bukan soal bebas teriak “merdeka!” setiap 17 Agustus.
Merdeka itu saat rakyat bisa hidup tenang tanpa takut diusir dari tanah sendiri.
Merdeka itu saat bisa menanam tanpa izin dari mereka yang tak pernah tahu rasa lapar.
Merdeka itu saat bisa bersuara tanpa dibungkam.
Kalau itu belum ada, maka Wiji Thukul benar, kemerdekaan ini memang masih tai.

 

Oleh: Aldo Topan Rivaldi

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *