WhatsAppImage2025-08-17at07.07.361
Sintang, kabupaten yang dianugerahi alam hijau dan sungai yang (seharusnya) indah, kini lebih dikenal sebagai "surga sampah" yang meriah. Di usia ke-80 Republik ini, mungkin Pemerintah Kabupaten Sintang sedang menyiapkan kado spesial: gunungan sampah permanen sebagai monumen kebanggaan daerah.

Sintang, kabupaten yang dianugerahi alam hijau dan sungai yang (seharusnya) indah, kini lebih dikenal sebagai “surga sampah” yang meriah. Di usia ke-80 Republik ini, mungkin Pemerintah Kabupaten Sintang sedang menyiapkan kado spesial: gunungan sampah permanen sebagai monumen kebanggaan daerah.

Jika merujuk pada berbagai pemberitaan, masalah sampah di Sintang bukanlah hal baru. Media seperti RRI dan Pontianak Post kerap memberitakan bagaimana tumpukan sampah menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan bahkan berserakan di jalanan. Pada 2022, RRI melaporkan bahwa TPA Sintang sudah overkapasitas, tapi solusinya? Entah masih dikubur di antara tumpukan dokumen rapat yang tak kunjung tuntas.

Di HUT RI ke-80 ini, mungkin kita patut bertanya, apakah kemerdekaan dari sampah masih sekadar mimpi?
Namun, Pemerintah Kabupaten Sintang memang tak kekurangan ide. Ada saja program “Sintang Bersih” atau lomba kebersihan tingkat RT. Tapi, seperti lomba makan kerupuk di 17-an, semangatnya hanya sesaat. Setelah foto-foto dokumentasi diunggah di media sosial, sampah kembali menjadi tamu setia yang tak pernah pulang.

Sementara itu, anggaran terus mengalir, tapi yang bertambah hanya jumlah truk sampah yang mogok dan keluhan warga. Seperti kata pepatah lama: “Banyak rencana, sedikit kerja, sampah tetap menumpuk.”

Sungai Kapuas, yang seharusnya menjadi kebanggaan, kini perlahan menjelma menjadi TPA cair. Warga sudah mengeluhkan sampah plastik dan limbah rumah tangga yang mengapung bak parade perayaan yang tak diundang. Jika ini terus berlanjut, mungkin di HUT RI ke-100 nanti, Sungai Kapuas akan resmi berganti nama menjadi “Sungai Sampah Nasional”.

Di usia yang ke-80, Indonesia sudah seharusnya lebih matang dalam mengurus kebersihan. Tapi di Sintang, kita masih berkutat dengan persoalan dasar: sampah di mana-mana, solusi di mana?

Mungkin pemerintah daerah terlalu sibuk mempersiapkan upacara bendera dan lomba-lomba seremonial, tapi lupa bahwa kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika warga bisa hidup tanpa dicekik bau sampah setiap hari.

Jadi, kapan Sintang benar-benar merdeka dari sampah?

Atau kita harus menunggu hingga HUT RI ke-100, saat gunungan sampah sudah setinggi bukit kelam?

Oleh: Warga  Pinggiran Sampah

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *