Dua abad silam, di April 1815, Gunung Tambora di barat Pulau Sumbawa meletus dengan daya gigantis yang hingga kini dianggap sebagai letusan gunung berapi terbesar dalam ingatan sejarah manusia. Dentumannya terdengar hingga ribuan kilometer, dan kolom erupsi menjulang hingga ke stratosfer, menyebarkan abu vulkanik ke seluruh dunia.
Letusan ini tak hanya menyemburkan awan panas dan lahar, tapi juga jutaan ton magma trakitik yang pecah menjadi serpihan abu dan batu pijar yang terfragmentasi. Dari perut bumi, tersisa mineral berat: benih-benih besi berupa magnetit (Fe₃O₄), hematit (Fe₂O₃), dan ilmenit (FeTiO₃). Komponen inilah yang kelak, setelah proses panjang, menjadi penyusun pasir besi di pesisir Dompu.
Dampak daripada letusan ini menyusutkan puncak Tambora dari 4.300 meter menjadi hanya sekitar 2.850 meter, menciptakan kawah raksasa berdiameter ±7 km. Debu yang berterbangan menutupi matahari, membuat satu dunia kala itu mengenangnya sebagai “a year without summer”, sebuah masa tanpa musim panas di Eropa dan Amerika Utara. Tetapi di Sumbawa, dampak lokal lebih nyata: hujan abu dan aliran piroklastik membawa bencana yang tak terpermanai; desa-desa tertimbun, hutan lenyap, dan puluhan ribu jiwa hilang.
Setelah dentuman reda, sisa-sisa vulkanik yang menutupi lereng Tambora perlahan terkikis oleh hujan tropis, membawanya lalui aliran sungai yang bermuara di pantai-pantai Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Sungai-sungai ini bekerja serupa konveyor alami: menghancurkan bongkahan, melarutkan abu, dan menyeret setiap partikel mineral ke laut.
Di Pantai Dompu, ombak Flores dan arus sejajar pantai melakukan proses pemisahan alami. Gelombang menyapu butiran pasir ringan seperti kuarsa dan feldspar ke laut lepas, sementara butiran berat berwarna pekat (magnetit dan ilmenit) mengendap di tepian pantai. Seiring waktu, endapan ini terkumpul, menebal, membentuk lapisan hitam yang kini menjadi ciri khas pesisir Dompu.
Sepanjang perjalanan saya menuju Dompu dari Bima, terpampang bukaan lahan gersang & tandus bekas tanaman jagung yang luas. Saya datang di musim kemarau. Masyarakat bilang selain jagung, mereka juga menanam bawang merah, komoditas utama Bima dan Dompu yang sudah lama dikenal di pasar Nusantara.
Saat melintasi wilayah Calabai, saya menjumpai beberapa mata air yang terus mengalir dari kaki gunung. Fenomena ini lazim pada sistem hidrogeologi gunung api: lapisan batuan vulkanik yang berpori menyerap air hujan, lalu menyimpannya sebagai akuifer. Air itu kemudian keluar kembali melalui rekahan dan lereng, membentuk mata air yang tidak pernah kering, bahkan di musim kemarau panjang.
Oleh: Qodja