Dunia perpolitikan di Indonesia selalu penuh kejutan, seorang yang waktu kuliahnya dulu sering menghadapi arus dan tegangan listrik tiba-tiba harus menghadapi arus kas keuangan negara.
Sri Mulyani alumni Ekonomi UI diganti Purbaya Yudhi Sadewa Elektro ITB.
Saatnya Purbaya menatap angka-angka keuangan seperti seorang insinyur menatap papan rangkaian.
Arus devisa dan defisit transaksi berjalan baginya hanyalah aliran listrik, seperti hukum Kirchoff yang memastikan setiap cabang harus seimbang, atau hukum Faraday yang memberi tegangan pada roda ekonomi agar tetap berputar.
Masalah fiskal pun ia pahami dengan kearifan hukum Pascal: tekanan di satu sisi akan merambat ke seluruh tubuh negeri, tak ada celah yang benar-benar bebas dari beban.
Barangkali beginilah cara seorang teknokrat “berpuisi”lewat angka—mencari harmoni di antara debit dan kredit, mencoba meredam gelombang dengan hukum-hukum alam.
Sebab baginya, ekonomi bukan sekadar hitungan, melainkan sebuah sistem besar yang menuntut keseimbangan, sebagaimana alam semesta selalu menuntut keteraturan.
Seandainya Purbaya bisa menyelesaikan masalah keuangan negara saat ini.
Alangkah “hebatnya” seorang dengan latar teknik bergelar Insinyur bisa menyelesaikan masalah ekonomi.
Politik memang kadang kala menjungkir balikan segala teori yg bersifat eksakta.
Oleh : Mei Purwowidodo
menurut anda apakah latar belakang akademis menentukan keberhasilan seseorang dalam mengelola ekonomi negara?