Sebuah Pepatah lama “mulutmu harimaumu” seolah kembali menemukan tajinya di zaman ini.
Dahulu ia menjadi peringatan sederhana agar manusia berhati-hati dengan ucapan. Kini, dalam era media sosial yang serba cepat dan tanpa sekat, pepatah itu menjelma nyata: sepotong kalimat bisa menjadi bumerang, satu kata bisa meruntuhkan nama, bahkan satu cuitan bisa menyeret seseorang ke ranah hukum.
Korban-korbannya kini sudah tak pandang bulu.Mulai dari pejabat, tokoh publik, ada pula rakyat biasa. Semua seperti terjebak dalam jebakan lidah—atau jempol jari —yang tak terkontrol.
Ucapan yang keluar tanpa pertimbangan, atau celotehan spontan yang tampak sepele, bisa menyulut api besar.
Bisa berupa hujatan balik dari publik, bahkan berupa jeratan hukum.
Sampai berupa hilangnya kepercayaan diri dan reputasi yang selama ini dibangun.
Di sinilah letak kita wajib mawas diri.
Kita hidup di zaman “arsip digital” yang tak mengenal lupa.
Apa yang kita ucapkan, sekali terunggah, bisa dilacak, dibagikan, dan diperbesar dampaknya.Jika dahulu kata-kata hanya lenyap di udara, kini kata-kata berubah menjadi rekam jejak abadi.
Maka, pepatah lama itu sebenarnya bukan sekadar petuah kuno, melainkan nasihat yang makin relevan: Jagalah lisanmu, jagalah tulisanmu.
Di era ketika semua orang bisa menjadi “penyiar” dari genggaman tangan. Bijaksanalah memilih kata merupakan benteng pertama untuk menyelamatkan diri.
Harimau itu selalu ada, mengintai di balik kata-kata. Pertanyaannya: apakah kita mampu menjinakkannya, atau justru membiarkan ia memangsa kita sendiri?
Sekarang Harimau sudah di hadapanmu tepat di mulutmu..!
Oleh: Mei Purwowidodo