ChatGPT Image 24 Okt 2025, 09.16.20_11zon
(Oleh: Al-Fakir) Seorang lelaki berteriak di pasar. Aku punya cermin yang memperlihatkan masa depan. Orang berbondong-bondong mantap, hanya bayangan mereka sendiri yg terlihat. Orang gila itu tertawa: itulah masa depan tetap samar, tetapi selalu tentang kalian.

Oleh: Al-Fakir

Dari kitab kebijaksanaan orang-orang gila.

Kisah pertama,
Seorang lelaki berteriak di pasar. Aku punya cermin yang memperlihatkan masa depan.
Orang berbondong-bondong mantap, hanya bayangan mereka sendiri yg terlihat. Orang gila itu tertawa: itulah masa depan tetap samar, tetapi selalu tentang kalian.

Penonton bubar, diam,lalu tersadar bahwa kegilaan baru saja menampar kebodohan mereka.

Kisah kedua,
Ditepi sungai perempuan tua mencuci lumpur sambil berkata; aku mencuci kesedihan. Tangan kanan mencuci, tangan kiri menangis.
Anak-anak kecil bertanya; apakah lumpur itu kesedihan?, ia menjawab; tidak, tetapi aku memilih menyiramkan kepada air yg mengalir, agar kesedihan itu tahu rasanya di buang.
Air mengalir, lumpur pun hilang, tinggal tangis yang mengering di pipi.

Anak-anak itu pulang, membawa pelajaran bahwa menangislah, lalu lepas.

Kisah ketiga.
Seorang pengemis membagikan koin ke orang kaya. Orang kaya marah, Apa ini, hinaan kah?. Sang pengemis tersenyum; Aku memberimu kesempatan merasakan menerima, sesuatu yg sudah lupa kau lakukan.

Orang kaya membungkam, koin jatuh, tangan terbuka, hati terbuka, dan untuk pertama kali ia merasa lebih kaya saat menerima daripada memberi.

Kisah ke lima,
Di pengadilan orang gila menjadi hakim. Ia mendengarkan kasus dusta, lalu menjatuhkan vonis; Setiap dusta harus dipenjara satu hari dalam kejujuran. Terdakwa tertawa; mana mungkin. Sang Hakim menjawab; mulai sekarang katakan kebenaran, maka kau bebas.

Terdakwa menangis, penjara kejujuran lebih menakutkan dari besi, karena ia harus bertemu diri tanpa topeng. Ia keluar, bukan bebas tapi ringan.

Kisah ke lima.
Dikamar orang gila, ia menulis surat kepada Tuhan, isinya satu baris; Maaf aku lupa berhenti menjadi manusia. Surat itu ia bakar, abu berterbangan, ia hirup, lalu tertidur. Keesokan harinya ia bangun, menulis lagi; Terima kasih, aku ingat menjadi abu.

Orang-orang mengira itu puisi, tapi ia hanya ingin menjadi ringan, agar angin bisa mengangkatnya pergi dari kepala yang terlalu penuh manusia.

Mereka bilang gila, tapi kata-kata itu justru membelah kebisuan. Kita tertawa, kita marah, kita diam lalu tersadar.

Gila adalah cermin yang tidak mau berbohong.

Dan para orang bijak pun terdiam.

Saduran dari Filsuf sejati.

Barakallahu fikum aj’main

Sukamiskin,

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *