(Oleh: Jaka Kembara)
Dalam pengalaman saya melakukan pendampingan di beberapa komunitas lokal, saya sering menemukan model atau bentuk kepemimpinan dari seseorang yang tidak selalu lahir dari jabatan formal atau struktur administratif pemerintahan. Model atau bentuk kepemimpinan ini justru tumbuh secara alami dari interaksi keseharian yang konsisten, dari kemampuan membaca situasi sosial, kemampuan menjembatani perbedaan latar belakang dan kesenjangan generasi. Pemimpin yang tidak tercantum dalam bagan organisasi desa, tidak memiliki SK pengangkatan, namun kehadirannya diakui dan suaranya didengar. Dalam komunitas lokal, orang yang mempunyai kapasitas kepemimpinan seperti itu di sebut dengan Tukang Ulu.
Di beberapa komunitas yang saya temui, Tukang Ulu tidak berkomunikasi dengan bahasa yang formal, sering kali menggunakan bahasa daerah setempat dan bicara dengan kata-kata yang sederhana, cara bicara yang tidak menggurui dan tidak meninggikan diri. Di kehidupan sosial ia dekat dengan pengalaman hidup warga sehingga ketika dalam setiap pertemuan kelompok ia mampu mencairkan suasana melalui candaan, masukan dan pendapat yang dapat diterima oleh lintas generasi yang membuat anak muda tercerahkan, orang dewasa mengangguk setuju, dan para orang tua merasa dihormati. Dalam pengamatan saya, entah itu disadari atau tidak oleh orang tersebut celetukan dan candaan yang ia gunakan bukan sekadar bahasa hiburan, melainkan alat komunikasi sosial untuk membangun kedekatan dan menurunkan ketegangan. Model komunikasi tersebut menjadi efektif ketika terdapat perbedaan pendapat, ia mampu menyampaikan persoalan dengan sudut pandang yang lebih tenang dan dapat diterima semua pihak. Karena itulah, meski tanpa jabatan resmi, ia sering menjadi rujukan tidak tertulis dalam pengambilan keputusan kelompok.
Model dan bentuk kepemimpinan tersebut, jika dikaitkan dengan konsep dan teori-teori kepemimpinan yang dikemukakan oleh Max Weber disebut dengan Kharisma. Weber menjelaskan bahwa kharisma adalah kualitas luar biasa yang dilekatkan oleh pengikut kepada seseorang, sehingga ia memperoleh legitimasi kepemimpinan bukan dari aturan formal, melainkan dari kepercayaan sosial (Weber, Economy and Society, 1978). Sehingga dalam konteks lokal, kharisma ini tidak selalu diwujudkan melalui retorika-retorika besar, canggih dan berapi-api, akan tetapi melalui konsistensi sikap, empati, kemampuan menjaga kondisi dan hubungan sosial yang ditunjukkan dan dipraktikkan.
Lebih jauh, model atau bentuk kepemimpinan semacam ini juga dapat dipahami melalui teori kepemimpinan informal (informal leadership). Menurut Katz dan Kahn (1973), pemimpin informal seperti itu dapat muncul karena pengakuan kelompok terhadap kompetensi sosial dan moral seseorang, bukan karena penunjukan struktural. Sosok ini memiliki pengaruh karena dipercaya, bukan karena berwenang. Dalam perspektif lokal, kepemimpinan semacam ini sangat dekat dengan konsep kepemimpinan berbasis kearifan lokal, yang mana model dan bentuk kepemimpinan di tingkat komunitas tradisional sering kali berakar pada kemampuan memahami simbol, nilai, dan norma budaya setempat. Gaya bicara yang santun, kemampuan, pengetahuan serta kepekaan terhadap adat dan relasi sosial merupakan bentuk kecakapan budaya (cultural competence) yang menjadi sumber legitimasi kepemimpinan.
Karena memahami situasi sosial dan budaya secara kontekstual menjadikan model dan bentuk kepemimpinan ini sangat partisipatif karena keputusan yang diambil melibatkan anggota kelompok, membuka ruang dialog, dan tidak bersifat otoriter. Dampak baik dari pengambilan keputusan seperti ini adalah menghasilkan ikatan sosial yang lebih kuat karena memiliki persetujuan orang banyak yang berefek pada tingkat keberhasilan tinggi terhadap implementasi keputusan. Dalam konteks lokal, partisipasi semacam itu tidak selalu diwujudkan melalui mekanisme formal, tetapi melalui ruang-ruang percakapan, musyawarah, dan interaksi sehari-hari yang sangat pada level komunitas menjadi sangat dekat, tetapi pada level elite seringkali menjadi debat. Dari pengalaman pendampingan di komunitas lokal terdapat contoh nyata yang saya temui bagaimana kharisma, kepercayaan sosial, pemahaman terhadap budaya, dan bahasa yang sederhana dapat membentuk kepemimpinan yang efektif dan berkelanjutan dalam praktik-praktik sederhana di tingkat komunitas.
