(Oleh: Al – Fakir)
Tetaplah, berbuat baik, berhati baik, berniat baik.
Bukan karena kita adalah orang paling baik, tapi karena apapun yang kita lakukan, akan kembali ke diri kita sendiri.
Ada kalanya kebaikan kita tidak dihargai,
Niat baik kita disalah fahami.
Senyummu tak dibalas, dan usahamu tak dianggap.
Dan disitulah hati diuji, apakah kita berbuat baik untuk manusia atau untuk Allah??
Firman Allah, QS surah Al-Isra’ ayat 7 ;
” Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri dan jika kamu berbuat buruk, maka akibatnya kembali kepada dirimu sendiri.”
Allah menegaskan bahwa kebaikan tidak pernah hilang.
Meskipun manusia tak membalas.
Allah menyimpan nya, dan efeknya, kembali kepada hatimu, hidupmu, dan akhiratmu.
Karena sejatinya.
Kita tidak pernah benar-benar berbuat baik untuk orang lain.
Kita sedang berbuat baik untuk diri kita sendiri.
Sabda Rasulullah ;
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan( kebaikan ) pada setiap perkara( HR . Muslim. No.1955 ).
Ihsan adalah puncak kesadaran, bahwa apapun yang kita lakukan Allah melihatnya.
Dan semua kebaikan itu akan kembali kepada kita dengan cara yang tidak selalu kita duga.
Tetaplah baik, meski tak ada yang melihat.
Karena Allah selalu melihat apa yang manusia abaikan.
Tetaplah lembut, meski dunia kadang keras.
Lembutmu bukan kelemahan, tapi kekuatan yang Allah cintai.
Tetaplah berbuat baik, meski niatmu sering disalahpahami.
Allah tahu isi hatimu lebih dari apa dari apa yang manusia duga.
Biarkan orang lain tetap menjadi dirinya dan kita tetap menjadi diri kita sendiri yang berusaha dekat dengan Allah, lewat kebaikan-kebaikan kecil.
Karena kebaikan itu seperti benih.
Ditanam hari ini, tumbuh di waktu yang tepat, dan kembali kepada penanamnya.
Jika kita berbuat baik, Allah lembutkan hatimu.
Allah luaskan rezeki mu.
Allah jaga langkahmu.
Tidak ada kebaikan yang sia-sia, tidak ada.
Maka tetaplah menjadi baik, bukan untuk dipuji, bukan untuk dihargai, tapi untuk menjaga jiwamu sendiri agar tetap dekat dengan Allah.
Insya Allah.
Barakallahu fikum aj’main.
Sukamiskin.