Menggugat Rimbawan (Seuntai Puisi Untuk Rimbawan Muda)
Oleh: Tri Budiarto
(77/KT/1422/UGM)
Ketua Umum Senat Mahasiswa Fahutan UGM, 1980-1982.
Ayo-ayo Rimbawan, singsingkan
lengan baju
Hutan kita menunggu
Biar aku hancur, lebur binasa
Asal hutan kita, dapat
kemenangannya
(sebait mars Rimbawan, yang
merupakan janji mulia)
Mars
itu tidak lagi lantang diteriakkan
Rimbawan muda
tidak lagi paham makna itu
Tubuhnya tidak sudi
hancur, lebur apa lagi binasa
Ia lebih memilih
menghancurkan hutan, tempat ia mengabdi
Bukan membangun
kemenangan untuk hutan
Rimbawan adalah profesi mulia
Tapi tidak mampu menunjukkan
kemuliaannya
Menutup mata atas kehancuran hutan
yang disengaja
Menutup telinga terhadap rintihan
warga yang dirampas lahannya
Mengunci hati terhadap runtuhnya
kearifan desa
Indahnya
hutan hujan tropika basah
Hanyalah
sebuah dongeng indah pengantar tidur seorang cucu
Tanpa
kita mampu menjelaskan wujud nyata darinya
Karena
memang sudah tak lagi tersisa
Sekarang hanya hamparan
lahan kosong dengan batang kering,
Menunggu kemarau
datang, untuk menyala, ratakan yang tersisa
Rimbawan harus digugat
Karena tak mampu hentikan
kehancuran hutan
Tak mampu jelaskan peran ekologi
dan sosial dari hutan
Tak mampu hentikan perusakan hutan
yang masif
Tak punya nyali sebagai garda depan
melawan perusak hutan
Rimbawan harus
digugat
Karena sepatunya
berkilau dan rambutnya kelimis
Karena percaya
angka dan tak percaya kenyataan
Karena selalu
abai akan suara rakyat yang menangis
Kehilangan segalanya
dari hutan
Rimbawan harus digugat
Karena hatinya beku tak mampu
merasakan derita
Telinganya rapat tak mampu
mendengar keluhan
Matanya terlelap, lelah menghitung
harta
Rimbawan bukan sekadar nama, tapi
ia adalah sebuah pertaruhan nyawa
Rimbawan
harus digugat
Karena
tak mampu jelaskan tentang makna dibalik banjir bandang Aceh
Karena
masih memelihara lidah untuk berceloteh tentang hal dusta
Karena
dusta dan ingkar pada alam semesta
Karena
berkhianat terhadap Mars Rimbawan yang dulu selalu dikumandangkan
Murka alam semesta adalah pertanda
Betapa rakusnya makhluk yang bernama
manusia
Rimbawan jangan lagi bersolek di
menara gading Jakarta
Sibuk menanda tangani perijinan
belaka
Tanpa pernah menyapa alam dengan
kebijakan yang benar
Rimbawan
harus digugat
Atau
dibiarkan tetap tidur dalam mimpi-mimpi kapitalisnya
Tersenyum
didepan penderitaan rakyat
Membiarkan mereka tanpa mampu memperbaikinya
Selamat tidur rimbawan

Rimbawan di tapak berjibaku tanpa lelah, perjungan dan pengorbanannya terkalahkan oleh selembar kebijakan dan keputusan pejabat yg belum tentu rimbawan. Mari merajut asa dari rimba yang tersisa untuk Indonesia sejahtera.