(oleh: Al – Fakir)
Saya suka dengan pepatah ini, In the beginning there is meaning, in the end there is feeling”.
(Pada mulanya ada makna, pada di akhir nya ada rasa).
Orang memulai harinya dengan membuat pengalaman, lalu senja harinya ia pulang membawa pengalaman, dan malamnya ia merenungi kenangan dari sebuah pengalaman.
Dan itulah yang membuat hidup jadi dinamis. Kita, memaknainya setiap pergantiannya. Ada zikir pagi, ada pula wirid sorenya.
Bagi kita yg hidup di zaman ini, rasa rasanya kita terbiasa menggunakan kalender Masehi, jadi perlu membuat pemberhentian sejenak.
Bukan, bukan kita merayakan akhir tahun gregorian. Kita sudah punya kalender sendiri.
Namun terbiasa nya kita menggunakan tahun-tahun gregorian ini akhirnya membuat kita juga butuh me- muhasabahi; akhir tahun 2025 aku sudah jalan sejauh apa?, dan bagaimana aku memulai hari – hari setelahnya?.
Maka, ” in the end, there is feeling”.
Alih-alih fokus membeli bahan – bahan bakaran, semakin dewasa, saatnya diam sejenak bersama Allah dan diri kita sendiri.
Hadiri kajian jika ada, mabit jika memang ada agendanya.
Kalau saya sendiri, saya biasanya diam saja sambil merenung.
Saya selalu menanyakan dua hal ; tentang apa yang telah saya lakukan dan apa yang kelak akan saya azamkan (keteguhan hati, maksud yang kuat, tujuan, cita-cita atau maksud yang kuat). Saya akan lihat 10 target 5 tahunan, dan mulai memindai mana yang masih relevan, mana yang tidak terjadi, dan mana yang masih mimpi.
Dan, pesan-pesan ini membantu saya dan semoga membantu kita untuk kembali menyegarkan sudut pandang menjalani hari-hari kedepan.
1. Allow yourself to be a beginner.
Izinkan diri kita sendiri menjadi pemula pada hal yang baru. Pada potensi yang kita baru asah, pada pekerjaan yg baru kita jalani.
Sebab banyak orang menuntut dirinya harus langsung ahli, dan itu mustahil.
Banyak guru mengatakan kepada saya bahwa setiap hal butuh ” Husnul Bidayah”, awal yang baik. Dari salah satu makna awal yg baik itu adalah : berikan hak pada dirimu untuk berproses.
2. Some years you wun, some you build characters.
Hendaknya kita memahami bahwa tahun-tahun yang berjalan, tak selalu berakhir memuaskan. Kadang ada masa dimana kita menang. Tapi, jangan overthinking kalau memang tahun ini kita “rasanya” tak menghasilkan banyak hal berarti. Maka kita salah kalau berpikir begitu.
Sebab akhirnya kita bertumbuh kadang berakhir dengan momentum, kadang berubah menjadi pelajaran berharga. Baca surah Ali Imran 140, dan kita akan memahami siklus ini.
3. I’rif qadraka.
Seseorang pernah datang pada Imam Ibnu Mubarak, lalu ia meminta nasihat. Dan, jawaban Ibnu Mubarak, singkat padat jelas, namun sangat dalam, I’rif qadraka’, ketahuilah kapasitasmu.
Dalam jalan panjang hidup ini, kita sering mengenal orang, tapi kenapa kita jarang duduk mengenal diri kita sendiri?.
Mengetahui kapasitas kita, itu artinya memetakan apa yang bisa di persembahkan buat Islam dan umat ini.
Sebab generasi pembebas Al Aqsha, bukanlah hanya dari org militer, tapi oleh siapapun yang memenangkan potensinya di bidang masing- masing.
Dan itu hanya bisa benar – benar terjadi jika setiap orang mengetahui kapasitasnya, sehingga ia mampu menentukan posisinya.
4. Maa kaana Lillahi yabqaa.
Apapun yang dilakukan karena Allah, maka akan bertahan, itulah yang dikatakan Imam Malik bin Anas ketika menulis kitab hadits Al Muwattha.
Saat itu buku – buku hadits sudah banyak. Namun Imam Malik tetap menulis bahkan karyanya bertahan sampai kini. Apa rahasianya?, Ya beliau melakukannya tulus karena Allah, maka Allah menjadikan karya itu ‘abadi’ menginspirasi umat melintasi ruang dan zaman.
Mirip-mirip dengan quote Maximus,” what we do in life echoes in eternity.”( apa yang kita lakukan dalam hidup akan bergema/ terdengar selamanya di ke abadian )
Yang sudah kita jalani, mari ucapkan “Alhamdulillah”.
Yang alpa dan jatuh selama menjalaninya, mari kita obati dengan “Astaghfirullah”.
Lalu, teguhkan hatimu. Minta pertolongan Allah Maha Penentu, lalu ucapkan “Bismillah”.
Barakallahu fikum aj’main.
Pagi akhir tahun 2025 di Sukamiskin.
