ChatGPTImage2Jan202609.00.4

(Oleh: M. Hermayani Putera)

“Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Tapi jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama.” — pepatah Afrika

Tahun baru datang di tengah catatan panjang bencana ekologis dan kegamangan sosial. Banjir, longsor, kebakaran hutan, krisis air, hingga cuaca ekstrem kian terasa sebagai peristiwa yang berulang. Ini bukan lagi sekadar anomali alam, melainkan peringatan keras tentang relasi manusia dengan lingkungannya yang semakin timpang. Pembangunan yang abai, eksploitasi berlebihan, dan lemahnya etika merawat bumi menjelma menjadi risiko ekologis yang dampaknya kita tanggung bersama.

Pada saat yang sama, kohesi sosial juga menghadapi ujian serius. Polarisasi, saling curiga, serta kecenderungan menyederhanakan persoalan melalui sentimen identitas membuat ruang kebersamaan kian menyempit. Dalam kondisi ini, krisis ekologis dan krisis sosial tampak saling berkait—berakar pada melemahnya kesabaran, empati, dan rasa tanggung jawab kolektif sebagai sesama anak bangsa.

Namun di tengah situasi yang tidak mudah itu, selalu ada ruang untuk optimisme. Setiap bencana justru memanggil solidaritas sosial yang hadir lebih awal, menembus sekat wilayah, identitas, dan primordialisme. Masyarakat bergerak, relawan datang, donasi mengalir, dapur umum berdiri. Yang bekerja bukan semata instruksi formal, melainkan kesadaran bersama untuk saling menopang dan menguatkan.

Di titik inilah pepatah Afrika tersebut menemukan relevansinya. Kita mungkin bisa bergerak cepat secara individual atau sektoral. Namun untuk bertahan dan melangkah jauh sebagai bangsa—menghadapi krisis iklim, ketimpangan, dan beragam tantangan sosial—tidak ada pilihan lain selain berjalan bersama. Solidaritas yang muncul saat bencana tidak semestinya berhenti sebagai respons darurat semata, tetapi perlu ditransformasikan menjadi fondasi dalam kebijakan publik, perencanaan pembangunan, serta cara kita mengelola perbedaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tahun baru ini semestinya menjadi momentum refleksi bersama. Menjaga lingkungan dan merawat kohesi sosial bukanlah dua agenda yang berdiri sendiri. Keduanya saling terkait dan sama-sama menentukan arah masa depan. Selama empati tetap hidup, kesetiakawanan sosial terpelihara, dan semangat kerelawanan terus dijaga, kita memiliki modal penting untuk menata ulang perjalanan bersama. Di tengah bencana dan segala keterbatasan, kita masih bersama—dan dari situlah harapan menemukan pijakannya.


Pontianak, 1 Januari 2026

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *