landscape tandus dibawah langit stormy
landscape tandus dibawah langit stormy
Oleh: Tri Budiarto (1422/KT/77/UGM)
(Ketua Umum Senat Mahasiswa Fak Kehutanan UGM, Periode 1980-1982)
Hati dicipta tuk rasakan derita
Logika dipakai tuk jelaskan fakta
Kuasa diberi tuk lindungi yang papa
Telunjuk menjulur tuk khabarkan yang nyata
Semua sudah tak lagi dipunya
Semua hanya ilusi dibalut imitasi belaka
Lolongan tangis tak lagi bermakna duka
Jelaga tebal penuhi isi kepala
Bencana itu telah renggut nyawa manusia
Walaupun tanda sudah terbaca lama
Tapi manusia tak mau merasa
Sampai nyawa pisahkan raga
Hutan itu sudah meranggas tak lagi hijau
Entah kali keberapa tegakan itu ditebang
Belum lagi sempat besarkan tubuhnya
Tegakan itu roboh tak lagi sisakan nyawa
Tetesan hujan berujung petaka
Air itu langsung menghujam tanah nan subur
Tak lagi singgah di atas daun, batang, ranting dan humus
Mengayuh batang Meranti dan mencongkel batu gunung
Logika adalah bingkainya hati
Hati adalah penyusun logika
Bisikan hati hanya tersimpan dalam hembusan nafasnya
Logika tumpul karena hati yang berjelaga
Rimba raya hanya tinggal cerita lama
Semakin sulit kita temukan batang kayu perkasa
Kini ranting kering temani hamparan ilalang
Menunggu lidah api saat kemarau datang
(Yogyakarta, 9 Januari 2026)